The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Sedih


__ADS_3

...67...


Alena menatap kosong ke depan. Di mana kini ia sedang berada di balkon kamarnya. Ia memegang erat pembatas balkon hingga urat-urat tangannya tercetak jelas di balik kulit putih miliknya.


Wajah Alena terlihat sembab dengan kedua mata yang membengkak. Namun, air mata yang mengalir dari sudut matanya tak kunjung berhenti walaupun ia sudah menangis cukup lama. Rasa sesak dalam dadanya belum hilang. Ia sengaja berdiri di balkon karena di dalam kamar ia sudah tidak bisa menghirup oksigen lagi. Hal itu dikarenakan ia yang terus menangis meratapi kenyataan yang begitu pahit dan menyakitkan.


Hembusan angin sore hari yang sedikit sejuk bisa melonggarkan dadanya yang terasa sesak tapi tidak bisa menutup luka dalam hatinya. Ia merasa seperti beban untuk orang-orang disekitarnya. Kedua orang tuanya sangat sedih dengan kondisinya yang buruk. Dua malaikat tanpa sayap yang dikirimkan tuhan kepada dirinya. Kini sedang menangis sedih.


Kenapa tuhan menitipkan anak yang tidak sehat seperti dirinya pada sang ibu dan juga ayah yang sangat baik? Kenapa ia harus lahir di dunia ini jika tuhan hanya menjadikan ia beban?


Dulu saat ia masih kecil. Ia belum mengerti tentang penyakit yang tengah menggerogoti tubuhya. Ia masih punya dunia kecil yang manis dan begitu indah. Semua kasih sayang tercurah untuknya. Semua keinginannya di wujudkan oleh sang ibu dan ayah. Namun, sekarang dunia kecil yang ia miliki itu kini telah runtuh dan hancur. Sisa hidupnya yang singkat dah entah sampai kapan ia bertahan, ia pun tak tahu.


Kini, semuanya terasa menyedihkan. Ia tidak ingin melihat orang lain terluka dengan kehadiran dirinya sehingga ia menyamar menjadi gadis cupu dan buruk rupa. Akan tetapi, siapa yang akan menduga jika hidupnya semakin baik dan bahagia. Namun, kondisinya semakin memburuk. Seolah ilusi terlihat begitu indah tapi realita begitu mengerikan. Hal itulah yang sedang ia rasakan.


Tanpa Alena sadari, cairan amis berwarna merah kembali mengalir dari hidungnya bersamaan dengan rasa pening. Perlahan Alena mengusap cairan yang keluar dari hidungnya dan menatap cairan itu dengan lekat.


"Darah," lirih Alena dengan air mata yang kembali menetes.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Suatu ketukan pintu menyadarkan Alena. Ia segera berlari masuk ke dalam kamar mandi dan membasuh bersih darah yang keluar dari hidungnya. Berusaha menepis dan menyingkirkan sejenak semua pikiran yang menumpuk di dalam kepala. Ia tidak boleh stres agar hidungnya tidak mengeluarkan darah.


Alena mengusap wajahnya dengan handuk kering. Mengontrol perasaan sedih yang masih membalut hatinya. Ia tidak boleh terlihat lemah dihadapan orang lain. Ia harus terlihat baik-baik saja. Ia tidak ingin membuat sang ibu atau sang ayah semakin khawatir. Ia ingin mereka mengira jika ia baik-baik saja.


Tok!


Tok!


Tok!


Suatu ketukan pintu kembali terdengar diiringi suara ponsel Alena yang berdering. Alena segera bergegas keluar dari kamar mandi dengan terburu-buru. Lalu, duduk di meja rias dan mengambil bedak, kemudian mengoleskan bedak tersebut ke wajahnya sehingga sedikit menutupi wajahnya yang sembab.


Setelah merasa wajahnya sedikit fresh. Alena segera membuka pintu kamar dan mengabaikan panggilan di ponselnya. Dari balik daun pintu terlihat Nyonya Giana yang tersenyum manis dengan nampan berisi obat-obatan. Seperti biasa hal yang tak boleh terlewatkan dalam hidup Alena. Nyonya Giana masuk begitu saja ke dalam kamar Alena. Meletakkan nampan di atas kasur putrinya.


"Minum obat dulu, Sayang!" seru Nyonya Giana dengan lembut.

__ADS_1


"Iya, Mom." Alena duduk dan meraih tujuh butir obat tersebut dan meminumnya tanpa banyak protes.


"Kenapa matamu memerah, Lena?" tanya Nyonya Giana khawatir.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2