
...34...
Vans menatap Tuan Surya dan Nyonya Giana yang tersenyum melihat aksi mereka. Ia sedikit gugup untuk meminta izin pada mereka jika ia ingin mengajak Alena berangkat bersama menggunakan sepeda. Rasanya orang sekaya Tuan Surya tidak akan mau melihat putrinya harus panas-panasan di jalan. Akan tetapi ia akan tetap meminta izin.
"Om, pagi ini bolehkah Alena berangkat naik sepeda denganku?" tanya Vans dengan penuh harap jika Tuan Surya akan setuju.
Wajah Tuan Surya seketika berubah serius. Ia melirik ke arah sepeda lipat Vans yang terparkir di samping mobil mewah miliknya. Lalu, melirik ke arah Vans dengan tatapan menelisik.
Vans segera menundukkan wajahnya, ia sedikit takut melihat ekspresi Tuan Surya yang terkesan datar dan dingin. Bahkan, atmosfer di sekitar Vans terasa ditekan dengan berat.
Alena melongo mendengar Vans yang meminta izin pada sang Dady untuk mengajaknya berangkat bersama. Ia pikir apa yang dikatakan pria itu tadi malam untuk menjemput dirinya dengan sepeda hanya sebuah bualan saja. Namun, ternyata Vans benar-benar melakukannya. Hati Alena terenyuh dengan apa yang dilakukan oleh Vans. Pria itu benar-benar teman idaman Alena.
Kedua sudut bibir Tuan Surya tertarik ke atas. Ia ingin tertawa lepas melihat ekspresi takut dan gugup di wajah Vans.
"Kenapa wajahmu tegang seperti itu, Vans? Tentu saja Alena boleh berangkat menggunakan sepeda bersamamu," ujar Tuan Surya yang lansung membuat kepala Vans terangkat dengan senyum senang. Huh, sepertinya apa yang ia pikirkan tentang Tuan Surya sangat salah. Pria paruh baya itu tidak keberatan jika putrinya berangkat ke sekolah dengan sepeda.
"Terimakasih, Om. Aku janji, aku akan membonceng Alena dengan selamat sampai di tujuan!" seru Vans dengan nada menggebu-gebu.
"Baiklah, Om, Aku sama Alena berangkat dulu. Ayo, Lena!" Vans segera meraih tangan Alena dan menggiring gadis itu menuju sepedanya.
"Dad, Mom, Lena berangkat!" seru Alena berpamitan dengan berteriak karena Vans sudah menarik dirinya menjauh dari kedua orang tuanya.
Tuan Surya dan Nyonya Giana hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala mereka melihat kelakuan dua remaja tersebut. Ia merasa Alena seperti gadis remaja lainnya saat ia melihat putrinya tersenyum bahagia.
"Mom, Dady juga berangkat ya," ujar Tuan Surya dengan mencium kening sang istri dengan mesra.
"Hati-hati, Dad," pesan Nyonya Giana dengan melambaikan tangannya pada sang suami yang mulai menjauh dari pandanganya.
Vans segera memutar arah sepeda miliknya, kemudian naik dengan wajah tersenyum. Namun, berbeda dengan Alena yang bingung. Di mana ia akan duduk? jika jok sepeda Vans hanya satu.
__ADS_1
"Ayo naik!" titah Vans yang hanya melihat Alena hanya diam berdiri.
"Lo itu gimana sih, seharusnya pakai sepeda yang ada boncengannya. Lah, ini gue mau duduk di mana konyol," ringgis Alena dengan wajah pura-pura ingin menangis.
"Ha ... Ha ...." Seketika tawa Vans pecah mendengar perkataan Alena yang benar-benar mampu menggelitik perutnya geli. Sekarang ia baru percaya jika Alena tidak pernah naik sepeda.
"Ngapain lo ketawain gue? Nyebelin banget sih," jerit Alena dengan kesal. Ia memukul bahu Vans dengan keras sehingga membuat Vans menutup mulutnya sendiri dengan tangan.
"Oke, oke. Jangan pukul lagi, ini berhenti gue ketawa." Vans mengangkat tangannya di udara, seperti seorang penjahat yang sedang ditodong pistol oleh polisi. Ia menahan gelak tawanya yang ingin meledak. Akan tetapi, ia tidak mungkin melakukan itu, bisa-bisa bahunya lebam karena terus dipukul oleh Alena.
"Dahlah, gue mending berangkat sama Dady aja," putus Alena dengan wajah cemberut serta mode ngambek yang mulai On.
"Eh, tunggu Lena. Lo itu ngak punya hati banget ya, gue udah capek-capek jemput ke sini lo malah mau berangkat sama Om Surya," omel Vans.
"Ya lagian lo, masak gue mau duduk di ban sepeda lo."
"Terus gue mau duduk di mana? Orang tepat duduknya cuma satu." Alena menunjuk pada jok sepeda Vans.
"Lo ngak usah duduk. Lo itu naik di pedal besi ini terus pegangan sama gue. Ngak mungkin baget gue pake sepeda anak SD yang ada boncengannya." jelas Vans dengan menunjuk pedal besi yang ada di bagian roda belakang sepeda.
"Maksud lo gue naik ke sini dengan posisi berdiri?" ulang Alena dengan raut wajah sedikit takut. Jika berdiri tentu saja ia akan jatuh. Vans yang melihat wajah takut dan cemas Alena bisa menebak apa yang ada dipikidan gadis itu.
"Udah jangan takut, kan lo nanti pegangan di pundak gue. Jadi lo ngak akan jatuh, lagian juga ada gue yang bakal jagain lo kok. Jadi jangan khawatir," ucap Vans menenangkan dan menyakinkan Alena dengan kata-kata yang membuat Alena terdiam.
Kata-kata yang keluar dari mulut Vans, khususnya kalimat terakhir jika dia akan menjaga dirinya. Rasanya kata-kata itu terdengar seperti sebuah mantra yang begitu indah di telinga Alena. Bahkan, perkataan Vans barusan masih terus terngiang di kepalanya.
Vans meraih helm khusus pesepeda dan memasangkannya dengan hati-hati pada Alena, yang malah diam seperti patung dengan tatapan fokus pada wajah Vans.
"Sudah, ayo naik!" seru Vans, yang mampu membuat Alena tersadar dari mantra kata-kata Vans. Entah apa yang terjadi pada dirinya tapi saat berada di dekat Vans dan mendengar kata-kata manis keluar dari mulut pria itu, tubuhnya lansung membeku di tempat.
__ADS_1
Alena meletakkan kaki kirinya pada pedal besi dengan tangan memegang erat bahu Vans yang terasa cukup kekar di tangannya.
"Hati-hati," ucap Vans sambil menoleh ke belakang memastikan jika Alena naik dengan benar. Vans memegang tangan Alena yang ada di pundaknya. Sontak saja sentuhan itu membuat Alena merasa seperti di setrum aliran listrik. Namun, ia berusaha mengontrol rasa itu yang semakin hari semakin aneh.
"Udah, lepasin tangan gue," sungut Alena dengan wajah yang sudah memerah seperti buah tomat yang hampir busuk.
"Ya ampun, pegang dikit aja galaknya udah kayak dipeluk aja," cibir Vans melepaskan tangannya dari tangan Alena.
"Lo sih, modusin gue terus." Alena menarik nafas lega karena rasa aneh itu hilang saat Vans melepaskan tangannya.
"Dih, PD amat. Gue tuh cuma mastiin kalau lo naiknya bener. Gue ngak mau sampai lo jatuh," jujur Vans yang mampu membuat hati Alena menghangat.
"Dahlah, ayo berangkat ntar kita telat," putus Alena dengan cepat sebelum obrolan mereka semakin panjang dan membuat ia merasakan perasaan aneh yang sama sekali tidak ia tahu apa itu.
"Oke, pegangan yang erat!" seru Vans lalu mulai mengayuh sepedanya meninggalkan kediaman Alena.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1