The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Rambut tergerai


__ADS_3

...29...


Alena mengedarkan pandanganya pada taman bunga yang cukup luas jika di sebut sebuah taman di belakang rumah. Hampir, bunga-bunga yang tumbuh di taman ini adalah bunga-bunga dengan harga yang cukup mahal. Bahkan, ada mawar dengan warna kuning keemasan yang terlihat bersinar di sisi bagian taman. Alena tahu jika bunga itu bukanlah mawar yang bisa didapatkan dengan mudah karena sang Momy juga memiliki satu tanaman bunga itu.


"Lo lihat, di sana ada bunga malam," celetuk Vans sambil menunjuk ke arah tanaman bunga dengan tinggi sebahunya. Alena pun menoleh ke arah tangan Vans.


"Iya."


Keduanya berhenti berjalan saat keduanya berjalan tepat di depan bunga malam koleksi Nyonya Hana. Bau harum yang begitu khas dan sejuk lansung menyeruak masuk ke dalam rongga hidung mereka. Wanginya yang begitu lembut membuat Alena merasa lebih rileks. Alena memejamkan kedua matanya, menikmati wangi bunga malam yang memanjakan indra penciumannya.


Vans yang berada di samping Alena, menatap lekat wajah gadis itu. Sinar rembulan yang temaram menerpa wajah Alena yang sedang terpejam. Wajah gadis itu terlihat bersinar dan mengeluarkan aura anggun memikat.


Vans mengangkat tangannya, menyentuh rambut Alena yang di ikat ke atas seperti ekor kuda. Dalam satu kali gerakan, Vans menarik tali rambut gadis itu sehingga rambut Alena tergerai seketika.


Alena cukup tersentak dengan apa yang dilakukan oleh Vans. Ia membuka kedua matanya lebar-lebar dan menoleh ke arah pria di sampingnya yang kini menatap dirinya dengan tatapan yang tak bisa ia artikan.


Kedua bola mata Alena membeku seketika, saat tatapannya beradu dengan Vans. Tatapan mereka terkunci satu sama lain, membuat keduanya tak bisa berpaling.


Tiupan angin malam yang sedikit kencang mengembus helaian rambut Alena. Rambut cantik bergelombang Alena berkibar dengan begitu indah, membuat tatapan Vans terus berfokus pada gadis di depannya. Entah energi apa yang sedang menariknya untuk terus menatap Alena. Akan tetapi, ia begitu terpana dengan surai indah yang dimiliki oleh Alena.


"Lo lebih cantik dengan rambut tergerai," ucap Vans dengan jujur.


Waktu seakan diputar kembali ke belakang dengan sangat cepat. Alena seketika tersadar, ia segera memalingkan wajahnya yang sudah bersemu merah. Ia bisa merasakan kedua pipinya terasa memanas.


"Mata lo kayaknya terganggu," balas Alena dengan gugup, sembari merapikan rambutnya. Ia menepis rasa malu dan gugup yang kini menyerangnya. Itu terlihat dari tangan Alena yang saling meremas satu sama lainnya.


"Mata gue emang terganggu. Gue mengidap rabun jauh, makanya selalu pake kacamata."


Raut wajah Alena berubah menjadi merasa bersalah. Ia sama sekali tidak bermaksud menyinggung Vans. Sungguh, ia sangat menyesal mengatakan hal itu.


"Lo ngak perlu ngerasa ngak enakan, gue ngak papa kok," ungkap Vans, ketika ia melihat wajah bersalah Alena.


"Gue ngak bermaksud Vans---"

__ADS_1


"Udahlah, inikan emang fakta. Jadi, gue ngak mungkin tersinggung lah, Lena. Kalau lo, ngapain pakai kacamata? Padahal menurut gue lo lebih cantik kalau ngak make kacamata."


Glek!


Alena menelan bulat-bulat air ludahnya mendengar pertanyaan Vans. Di satu sisi ia bingung harus menjawab apa, ia memakai kacamata hanya untuk menciptakan karakter baru. Bukan karena ia punya penyakit mata. Akan tetapi, di sisi lain ia tersipu malu karena Vans yang terus mengatai dirinya cantik.


"Gue itu rabun dekat. Jadi yah, gue harus pake kacamata," bohong Alena dengan menggigit lidahnya sendiri. Vans menundukkan wajahnya sehingga ia bisa melihat wajah Alena dengan jelas.


"Tapi, kacamata lo kayak kacamata hias."


Alena meremas keras jari-jari tangannya. Ia memang tidak pandai berbohong. Vans ternyata tipikal pria yang ingin tahu segalanya. Alena menyentuh kacamatanya dan memperbaiki letak benda itu. Lalu, memalingkan wajahnya agar tidak ditatap oleh Vans.


"Lo kan rabun jauh. Mana bisa lo tahu kacamata pengidap rabun dekat, jelas bedalah kacamatanya." Alena memberikan sebuah alasan yang membuat Vans mengganggukkan kepalanya sembari mencebikkan bibirnya.


"Ohh, tapi lucu ngak sih, kita punya banyak kesamaan. Mulai dari nasib yang sama ngak punya temen, terus style pakaian yang juga sama, terus sifat yang sedikit sama lah, dan sekarang ternyata kita juga pengidap penyakit mata yang sama juga." Vans menghitung kesamaan dirinya dengan Alena dengan jarinya. Tanpa ia tahu, semua itu berbanding terbalik dengan kenyataan yang sebenarnya. Alena hanya tersenyum simpul menanggapi ucapan Vans.


"Eh, lo ngak lupa kan kesepakatan kita?" tanya Vans dengan memetik satu bunga malam.


"Enggak, lo tenang aja. Gue bukan tipe yang suka ingkar janji."


"Lo bakal tahu nanti."


"Ck, sok misterius deh." Vans memutar bola matanya malas, Di mana Alena lansung tersenyum. Yah, setidaknya ia bisa balas dendam sedikit pada Vans karena pria itu selalu membuat ia kesal.


Vans menyematkan bunga malam yang ia petik tadi di antara rambut dan telinga Alena. Hal itu membuat Alena lagi-lagi terdiam karena perlakuan Vans yang benar-benar membuat ia mati kutu, dan merasakan hal aneh.


"Lihat, bunga ini semakin cantik ketika diletakkan di samping wajah lo," ujar Vans yang lagi-lagi jatuh dalam pesona Alena tanpa ia sadari.


Bugh!


"Auuu!" pekik Vans kesakitan saat kakinya yang tidak bersalah diinjak dengan keras oleh Alena.


"Gue bilang berenti gombalin gue, gue ngak mempan," sinis Alena dengan tatapan tidak suka. Sejujurnya, ia merasa terganggu dengan apa yang ia rasakan. Entah rasa apa itu, tetapi sangat mengganggu.

__ADS_1


"Galak banget sih," gerutu Vans dengan wajah yang ditekuk.


"Sini, kembaliin ikat rambut gue!" seru Alena sambil menengadahkan tangannya.


"Kalau gue ngak mau," tantang Vans.


"Ya udah, kesepakatan batal." Alena menghentakkan kakinya kesal, kemudian melenggos begitu saja. Namun, Vans segera mencekal pergelangan tangan Alena sehingga gadis itu berhenti.


"Dasar tukang ngambek, ya udah sini gue iketin rambutnya," dengus Vans, kemudian mendekat ke arah belakang tubuh Alena. Vans mulai merapikan rambut Alena yang ternyata sangat lembut dan harum. Vans menghirup dalam aroma rambut Alena yang begitu memabukkan dan membuat ia melayang.


"Udah belom!" pekik Alena karena Vans mengikat rambutnya sangat lama. Ia sudah tidak tahan kepalanya terus di sentuh oleh Vans. Sebenarnya apa yang terjadi pada dirinya? Ia merasa sangat gugup saat berdekatan lebih dari 30 cm dari Vans.


"Sudah." Vans tersenyum puas melihat hasil karyanya. Meskipun, sedikit berantakan tapi Alena tetap terlihat manis.


"Sepertinya, udah makin malam---"


"Lo mau pulang kan," sosor Vans cepat sebelum Alena menyelesaikan perkataannya.


"Oke, ayo. Gue akan nganter lo sampai di depan rumah dengan selamat."


...----------------...


...****************...


Uuuu Vans. Mau di iketin rambutnya, sekalin sama bulu-bulu keteknya deh.


Jangan lupa


like


koment


gift vote

__ADS_1


tips


__ADS_2