
...73...
Sementara di depan pintu. Vans sudah sangat sebal karena Alena tidak kunjung membuka pintu. Tidak ingin menunggu lagi, Vans memutar knok pintu yang ternyata tidak terkunci. Dengan kasar, Vans mendorong pintu kamar. Di mana Alena sudah terbelalak kaget saat melihat pintu kamarnya terbuka.
Srak!
Deg!
Dengan satu kali gerakan. Alena menarik tubuh Vans sampai berputar sehingga Vans membelakangi kamarnya. Vans meletakkan kedua tangannya di antara tubuh Alena karena tarikan gadis itu membuat tubuhnya tidak seimbang dan hampir menempel pada tubuh Alena.
Kedua tatapan mereka bertaut dengan rasa terkejut dan dada yang berdetak dengan lebih cepat. Alena sengaja menyeret dan memutar tubuh Vans agar pria tersebut tidak melihat isi kamarnya. Di mana banyak sekali foto yang menunjukkan siapa ia sebenarnya.
Kedua mata Vans dan Alena tak bisa berkedip sedikitpun. Di mana adegan tatap-tatapan terjadi di antara mereka.
Deg!
Deg!
Deg!
Suara detak jantung keduanya bertalu dengan sangat cepat. Saling menyahut seolah-olah sedang memanggil satu sama lainnya. Kedua mata jernih Alena tidak bisa mengalihkan tatapan Vans. Amarah yang tadi sempat akan meledak seketika menguap entah kemana.
"Ki--kita bicara di luar," ucap Alena dengan terbata-bata dan gugup. Mengontol perasaannya yang semakin membuncah. Ia menarik bahu Vans untuk mengikuti kemana langkahnya pergi. Sedangkan Vans masih terpaku hingga ia tidak sadar kemana Alena menggiringnya. Ia tidak tahu dengan apa yang terjadi pada dirinya, saat berada di dekat Alena. Seolah-olah tubuhnya lemas dan ia merasa terhipnotis.
Setelah sampai di dekat kolam. Alena melepaskan bahu Vans dan menjauh dengan cepat. Di mana kondisi jantungnya sudah mau meledak seperti bom. Seketika itu juga Vans tersadar dan menyugar rambutnya kasar.
"Alena,"
"Vans," ucap Alena dan Vans bersamaan membuat situasi sedikit canggung.
"Okeh, lo duluan," ujar Vans mengalah.
"Lo ngapain ke sini?" tanya Alena to the poin. Gara-gara pria yang ada di hadapannya ini datang tiba-tiba hampir membuat ia mati karena serangan jantung.
Vans yang mengingat tujuannya ke rumah Alena. Segera memasang wajah kesal dan marah. Ia menatap tajam pada gadis bertompel di depannya. Di mana ia melipat tangan di depan dada.
__ADS_1
"Gue dateng ke rumah ini untuk marah sama lo," sarkas Vans dengan amarah yang kembali mengukus.
"Marah?" ulang Alena dengan tatapan bingung.
"Iya marah. Lo udah buat gue khawatir setengah mati. Coba lo cek handphone lo. Gue udah telpon dan mengirim pesan hampir puluhan kali tapi lo malah tidak menjawab atau membalas pesan gue sekalipun. Lo tidak tahu, betapa khawatirnya gue. Tentu saja lo tidak tahu karena lo tidak merasakan hal itu," sembur Vans dengan omelannya yang panjang. Ia mengeluarkan semua unek-unek kemarahan yang sejak tadi ia pendam.
Alena memejamkan kedua matanya dengan memijit ringan pelipisnya. Ia tidak tahu jika Vans menghubungi dan menelpon karena ia terlalu larut dalam kesedihan. Sedetikpun ia tidak sempat melihat atau pun memegang ponsel. Lalu, bagaimana ia tahu jika Vans menelpon dan mengirim pesan.
"Maafin gue," lirih Alena dengan kepala tertunduk dalam. Tidak ada yang bisa ia katakan selain kata itu.
Vans yang melihat wajah menyesal dan sedih Alena membuat hatinya terenyuh dan tidak tega lagi untuk memarahi gadis itu. Dengan satu kali tarikan, Vans membawa tubuh Alena masuk ke dalam pelukannya. Memeluk erat tubuh gadis itu dan menenggelamkan wajahnya di ceruk leher putih Alena yang terekpos begitu saja.
Alena sempat terkejut dengan pelukan tiba-tiba Vans. Namun, pelukan itu terasa nyaman dan membuat hatinya terasa tenang. Dengan ragu, Alena membalas pelukan Vans sambil memejamkan kedua matanya. Menikmati sensasi yang sangat berbeda.
"Maaf, gue ngak bermaksud marah sama lo tapi jujur, gue ngak bisa kayak gini. Lo tahu, gue khawatir banget sama lo. Gue ngak bisa memastikan teman gue aman," lirih Vans.
Alena menggigit bibir bawahnya dengan keras, kemudian membuka kelopak matanya dengan perlahan. Hatinya kembali terbentur oleh kenyataan jika Vans hanya menganggap ia teman. Memang, apa yang bisa ia harapkan? Ia tidak boleh meneruskan perasaan ini. Ia harus sadar diri jika ia tidak pantas untuk Vans. Alena mengurai pelukan Vans. Lalu, menatap pria di hadapannya itu dengan datar.
"Tidak papa, gue ngerti kok. Gue yang salah karena ngak ngabarin lo. Tapi lo ngak perlu khawatir berlebihan kayak gitu," ujar Alena duduk di kursi yang ada di tepi kolam. Di mana Vans juga ikut duduk di samping Alena.
"Gue bukannya ngilang tapi gue lagi sibuk."
"Sibuk bukan menjadi alasan biar lo ngak ngasih kabar ke gue." Vans mulai sedikit kesal dengan Alena yang terus membela diri. Baginya, bagaimana pun sibuknya Alena, dia harus memberi kabar.
"Lo posesif banget sama gue, perhatian juga. Jangan-jangan lo suka ya sama gue?" tanya Alena iseng meskipun ia berharap mendengar jawaban yang sama dengan ekspektasinya.
"Ha ... Ha ..., jelas itu tidak mungkin. Lo kan tahu kalau gue suka sama Raline." Vans tertawa lucu tanpa ia sadari kalimatnya itu menjadi pengakuan yang sangat jelas bagi Alena.
Udahlah Alena, cukup untuk berharap dan bermimpi jika Vans akan memiliki perasaan yang sama kayak kamu. Please, dia udah bilang kayak gitu. Batin Alena dengan tersenyum kecut.
"Gue tahu kok, terus gimana sekarang hubungan lo sama Raline? Tadi siang lo anter dia pulang kan, apa lo udah nembak dia?" tanya Alena memendam rasa sakit di ulu hatinya.
"Hmmm, gue belum nembak dia. Gue pengen nembak dia dengan cara yang romantis. Ya kali gue nembak cewek cantik, secantik Raline di dalam mobil."
"Udah, jangan di tunda-tunda ntar keduluan sama Justin baru tahu rasa lo."
__ADS_1
"Iya, Buko bawel tapi gue ngak tahu harus nyiapin kejutan kayak apa buat Raline. Lo ada ide ngak?"
"Hmmm." Alena berpikir sejenak, memutar otak kecilnya mencari ide yang tepat.
"Gimana?" tanya Vans dengan memainkan hiasan rambut Alena.
"Gue ada ide. Kita bakal buat kejutan yang super romantis buat Raline. Di saat itu, lo harus nyatain perasaan lo dan buat Raline jadi milik lo. Lo tenang aja, gue bakal bantu hingga kejutan itu selesai, dan bukan hanya gue tapi ada dua orang lagi."
"Siapa?"
"Zeli dan Gina."
"Apa? Meraka kan musuh lo. Mereka yang sering bulli lo kan."
"Ngak lagi, mereka udah jadi temen gue."
"Terus lo percaya?"
"Iya, lagi pula buat apa bermusuhan terus. Kita harus saling memaafkan."
"Ya ampun, sahabat gue baik banget," puji Vans dengan bangga. Tanpa izin Alena, Vans melepaskan sanggulan rambut temannya itu sehingga rambut Alena jatuh tergerai di bahu. Di mana anak rambut Alena terbang tertiup angin. Pemandangan yang selalu membuat wajah Alena terlihat manis, dan ia menyukai hal tersebut.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1
tips