
...46...
Terlihat pada salah satu stand makanan cepat saji, Alena sedang duduk dengan manis sementara tatapan matanya tertuju pada Vans yang tengah mengantri untuk memesan makanan.
Senyum gadis bertompel itu mengembang saat pria yang sedang ia perhatikan menyunggingkan senyum manis dan indah, membuat siapa saja yang melihat lengkungan bibir itu akan terpesona.
Bahkan, beberapa gadis yang berdiri di samping Vans terus saja memperhatikan pria tampan itu. Seolah-olah mereka sedang melihat idola kesayangan mereka. Alena sedikit jengah dengan tatapan para gadis tersebut. Namun, ia tidak memiliki hak untuk mengusir madu pada setangkai bunga.
Drrrt!
Drrrt!
Drrrt!
Getaran ponsel dari saku seragam Alena membuat fokus Alena seketika pecah. Ia merogoh benda persegi tersebut dan melihat ternyata ada telpon masuk dari sang ibu. Dengan cepat Alena menggeser icon dengan gambar telpon berwarna hijau, kemudian mendekatkan benda tersebut di telinganya.
"Hallo, Mom," ucap Alena saat sambungan telpon tersambung.
"Hallo, sayang. Kamu sedang ada di mana? Kamu tidak lupa kan untuk meminum obatmu? Kapan kamu akan pulang? Ini sudah mau jam lima sore. Apa Vans sedang bersamamu?" cecar Nyonya Giana dengan segudang pertanyaan berbalut rasa cemas.
"Pertanyaan Momy sangat banyak, yang mana harus aku jawab," keluh Alena dengan sikap berlebihan Nyonya Giana. Ia akan segera pulang, tetapi setelah ia makan. Lagi pula tinggal satu jam lagi hingga jam menunjukkan pukul lima sore.
"Semuanya, kamu harus menjawab semua pertanyaan Momy karena pertanyaan itu sangat penting."
"Baik-baik, aku sudah meminum obatku. Jadi, Momy tidak perlu khawatir. Aku meminumnya tepat waktu dan kondisiku baik-baik saja. Aku masih di mall Mom, jadi aku tidak bisa mendengar suara Momy dengan jelas. Aku akan segera pulang setelah aku menyelesaikan keinginanku. Lalu, Vans dia ada di depanku." Alena tersenyum lebar, saat melihat Vans sudah berada tepat di depannya. Vans meletakkan makanan di atas meja. Lalu, duduk dan memasang wajah bertanya-tanya pada Alena.
"Baiklah, Sayang. Cepat pulang."
__ADS_1
"Oke, Mom." Alena menutup panggilan tersebut dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku.
"Siapa yang menelpon?Apa Tante?" tanya Vans dengan menyodorkan makanan yang sudah siap untuk di makan.
"Terimakasih, yah Momy hanya bertanya apa gue udah selesai dengan urusan gue," balas Alena dengan menyuapkan makanan di depannya.
"Kalau begitu kita harus pulang setelah ini. Gue ngak mau Tante cemas, apalagi kalau dia tahu lo hampir pingsan tadi." Vans menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, sembari tatapannya tetap fokus menatap gadis yang ada di depannya.
Alena menelan makanan yang ada di dalam mulutnya. Kemudian menatap Vans dengan ekspresi serius meski sebenarnya ia tidak tahan untuk menatap Vans. Akan tetapi, ia tidak bisa membiarkan Vans untuk mengatakan apa yang terjadi pada sang Momy. Bisa-bisa ia tidak akan pernah mendapatkan izin untuk keluar lagi.
"Hmmm, lo ngak usah kasih tahu kalau gue hampir pingsan barusan!" seru Alena dengan nada meminta.
"Kenapa?" Vans memicingkan alisnya. Hal itu membuat Alena semakin gugup karena di pandangi dengan cara seperti itu.
"Gue ngak mau Momy kepikiran. Lagi pula gue udah ngak papa, ngapain membahas hal yang udah lalu." Alena memberikan alasan yang baginya sangat tepat untuk menyakinkan Vans.
"Kalau lo ngasih tahu Momy, sama aja lo buat dia makin cemas. Gue mohon, jangan kasi tahu Momy gue. Gue ngak mau kesehatannya memburuk dengan hal ini. Gue janji hal kayak gini ngak akan terjadi lagi," mohon Alena dengan wajah memelas sembari kedua tangannya mengatup di depan dada. Ia sangat berharap Vans akan mendengarkan permintaanya.
Vans memejamkan kedua matanya, kemudian menatap Alena dengan tatapan dalam. Entah mengapa, ia tidak tega melihat wajah memelas Alena. Ada rasa aneh yang seolah-olah mengganjal di dadanya. Saat melihat Alena sedih dan tersakiti, ia merasa tidak terima.
"Aku mohon," ucap Alena dengan kedua mata berkaca-kaca, siap menumpahkan lahar bening dari kedua pelupuk matanya.
"Hhhh, oke tapi lo harus janji sama gue, kalau lo ngak boleh telat makan." Vans menghembuskan nafasnya perlahan, menyetujui permintaan Alena jika ia tidak akan memberitahu Nyonya Giana akan hal ini.
Alena mengangguk dengan cepat. Ia lega karena Vans mengabulkan keinginannya meskipun pria itu tidak tahu jika dirinya tidak sakit karena penyakit magh, tetapi penyakit yang lebih serius dan lebih berbahaya lagi. Ada rasa sesak yang tiba-tiba menyeruak dalam diri Alena saat mengingat jika penyakit dalam tubuhnya sedang bersiap-siap untuk menarik nyawanya.
Akan tetapi, kecemasan itu sirna saat ia mengingat kata-kata kedua orang tuanya jika ia akan sembuh. Rasa semangat untuk segera terlepas dari penyakit mematikan, tumbuh dalam diri Alena. Rasanya, ia tidak ingin penyakit ini merampas gambaran wajah Vans dari kehidupannya. Ia ingin lebih lama lagi bisa menatap dan menghabiskan waktu bersama Vans, pria yang sudah membuat ia merasakan rasa terindah dalam hidupnya, yaitu cinta.
__ADS_1
Rasa yang tidak pernah ia inginkan hadir dalam hidupnya meski dalam mimpi sekalipun. Namun, kini semuanya telah berubah. Rasa cinta itu hadir membawa semangat baru bagi dirinya.
Alena tiba-tiba tersentak kaget saat merasakan sentuhan di ujung bibirnya. Tangan Vans tanpa jijik menyeka sisa makanan pada ujung bibirnya. Untuk sejenak, dunia Alena terasa berhenti berputar dengan detakan jantung yang sudah mirip dengan genderang perang yang sedang ditabuh.
"Makan tuh, jangan belepotan udah kayak anak kecil aja," ujar Vans dengan nada meledek.
Alena segera membuang wajahnya ke sembarang arah. Kedua pipinya sudah memerah seperti buah Ceri yang matang.
"Apaan sih, mending lo makan tuh. Jangan ganggu gue," ketus Alena dengan wajah kesal. Lalu fokus dengan makanan di depannya. Jujur, ia sudah sangat malu dan salah tingkah tapi untuk menutupi jal itu, ia memilih bersikap sinis dan jutek pada Vans. Alena mencuri-curi pandang pada Vans yang hanya mengendikkan bahunya asal sembari menikmati makanan.
Ya ampun, kalau dilihat-lihat kenapa dia jadi ganteng banget. Seharusnya aku ngak usah suruh dia buat ganti penampilan. Kalau kayak gini, gadis-gadis satu sekolah bakal naksir sama Vans. Ahhh, apa sih yang aku pikirin, aku ngak boleh mikirin hal seperti itu. Sadar diri Alena, kalau Vans itu cinta dan suka sama Raline bukan sama cewek penyakitan kayak kamu. Batin Alena yang sedang berperang dengan dirinya sendiri.
"Kenapa liatin gue kayak gitu? Gue tau gue emang tampan," ujar Vans dengan percaya diri tingkat dewa sembari mengedipkan sebelah matanya genit pada Alena, yang di respon oleh sikap acuh dari gadis itu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1
tips