
...60...
Hap!
Vans menangkap lengan Alena dan menarik tubuh gadis bertompel itu hingga tubuh Alena berbalik dengan cepat dan membentur dadanya.
"Apa lo tuli?" sinis Vans dengan menatap sebal. Alena mendorong tubuh Vans hingga menjauh dari tubuhnya. Masalahnya, jantungnya sudah mulai menggila dengan degupan yang sangat cepat. Semakin ke sini, Vans selalu menyentuh dirinya dengan tiba-tiba, membuat ia merasa jantungnya di copot dari gantungan secara tiba-tiba.
"Ada apa lagi?" bentak Alena dengan dada yang memburu.
"Lo dengerin gue dulu. Main marah terus kabur. Gue minta maaf sama lo, gue ngak bermaksud buat lo sakit hati. Tadi, gue cuma bercanda, Lena." Wajah Vans menyendu, berharap kemarahan Alena mereda.
"Asal lo tahu, Vans. Gue ngak pernah merasa seneng kalau lo ditolak sama Raline. Gue mau lo sama Raline jadian. Gue mau lihat lo bahagia. Gue ngak bisa lihat lo sedih karena gue juga ikut sedih. Gue ngak bisa lihat lo menderita karena gue juga ngerasain hal itu karena gue itu---" Alena menghentikan ucapnya. Ia melipat bibirnya dalam. Lalu, membekap mulutnya yang hampir keceplosan dan mengatakan semua isi perasaanya. Kalau sebenarnya, ia mencintai Vans.
Sial, bodoh. Hampir aja gue keceplosan. Nih, mulut emang harus dikunci rapat-rapat. Vans ngak boleh tahu tentang perasaan gue. Batin Alena merutuki kebodohan mulutnya yang hampir lepas rem.
"Karena gue apa?" tanya Vans dengan mengerutkan keningnya. Tiba-tiba Alena berhenti mengomel. Bukannya sakit hati diomeli oleh Alena. Vans merasa senang, baginya kemarahan Alena adalah bentuk kepedulian gadis itu. Lagi pula, ketika Alena marah, wajah gadis itu terlihat semakin lucu dan manis.
"Ka--karena gue ...." Alena memutar isi kepalanya, untuk menemukan alasan yang bisa ia katakan. Tidak mungkin ia mengatakan isi hatinya.
"Karena gue suka sama lo, apa kata-kata itu lanjutan kalimat lo barusan?"
__ADS_1
Deg!
Jantung Alena rasanya berhenti berdetak, denga lidah yang terasa kelu dan bibir yang terasa kebas.
"Kenapa diam? Apa itu benar?" Vans tersenyum jahil, melihat wajah Alena yang terlihat berubah gelagapan.
"Ngaklah, lo ngomong ngawur." Alena mencubit keras perut Vans, hingga pria itu meringgis kesakitan.
"Auuuu, kok dicubit sih," protes Vans memasang wajah cemberut.
"Lo sih, ngomong apaan. Gue tadi mau bilang karena gue itu kan temen lo. Jadi wajar kalau gue juga ikut ngerasain perasaan lo," elak Alena dengan gugup. Memberikan alasan yang terlintas di otak kecilnya, berharap jika Vans akan percaya.
Gue kesayangannya Vans. Batin Alena dengan perasaan yang berbunga-bunga. Rasanya taman bunga di hatinya seketika bermekaran dan menimbulkan wangi yang sangat harum. Ia benar-benar terbawa perasaan dengan setiap kata-kata manis Vans. Sungguh, kata-kata Vans barusan seperti sebuah melodi musik yang sangat indah di telinga Alena.
"Sekarang, maafin gue ya? Gue janji ngak bakal bilang gitu lagi." Vans meminta maaf dengan sepenuh hati. Ia merasa bersalah sudah menyinggung perasaan Alena. Ia mengulurkan jari kelingkingnya, berharap Alena akan memaafkan dirinya.
"Okeh, janji ya ngak akan bilang gitu lagi?" hembus Alena sembari menyambut jari kelingking Vans. Sepertinya ia sudah terlalu kelewatan karena terbawa rasa cemburu, ia melampiaskan amarahnya pada Vans. Rasa cinta yang semakin tumbuh di hatinya untuk Vans semakin membuat ia tersiksa. Berusaha memendam dan menepis rasa yang tak seharusnya ia miliki untuk temannya sendiri. Ternyata tidaklah mudah. Bahkan, sampai detik ini perasaan di dalam hatinya malah semakin tumbuh subur.
"Iya janji, ya udah pulang yuk," ajak Vans dengan mengulurkan tangannya, yang kembali membuat Alena bingung.
"Apa?"
__ADS_1
"Tangan lo lah." Vans meraih tangan Alena dan menggengamnya dengan erat.
Alena memandang lekat pada tangannya yang digenggam oleh Vans. Siapa yang tak akan luluh jika terus diperlakukan seperti ini. Selalu diistimewakan dan dibuat merasa terlindungi.
...----------------...
...****************...
Maaf up dikit lagi ngantuk otor
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1