
...37...
Alena menghembuskan nafas panjang, saat jawaban yang ia inginkan tak kunjung ia dapatkan. Ia sudah mengerjakan soal tersebut sesuai dengan rumus dan juga materi yang diberikan oleh sang guru. Namun, sampai detik ini ia belum juga menemukan jawaban yang tepat.
Ia sudah memperhatikan dengan seksama saat guru menjelaskan, tetapi ada satu bagian yang ia tidak mengerti karena tidak memperhatikan guru, gara-gara terpaku dengan punggung lebar Vans.
"Dorr!" teriak Vans dengan menepuk pundak Alena, yang tentu saja membuat gadis itu lansung terlonjak kaget.
"Vans!" pekik Alena dengan kemarahan yang tertahan. Vans yang melihat Alena kesal tersenyum senang. Niatnya ingin mengagetkan Alena ternyata berhasil. Vans duduk di samping Alena dengan seringgainya, sembari kedua matanya menatap ke arah buku gadis itu yang suda penuh dengan coretan-coretan rumus.
"Kenapa? Lo pasti bingung ya, selesaiin soalnya. Makanya, kalau guru sedang jelasin itu diperhatiin. Jangan liatin gue muluk," ujar Vans dengan wajah meledek. Tentu saja ia tahu kalau Alena sejak tadi terus melihat ke arahnya. Namun, ia pura-pura terus menghadap ke depan.
Kedua pipi Alena seketika memerah seperti kepiting yang dipanggang. Kali ini ia tertangkap basah memperhatikan punggung Vans. Bisa ia lihat kepala pria itu membesar dan kepercayaan diri Vans kini meningkat berkali-kali lipat. Sementara ia, ingin sekali saat ini ia melipat tubuhnya kecil-kecil dan bersembunyi di dalam tas.
Vans terkekeh lucu, melihat perubahan wajah Alena yang merona. Ia tahu pasti gadis itu malu setengah mati. Namun, ia sangat gemas melihat pipi putih dengan tompel itu tersipu malu. Merasa terus diperhatikan oleh Vans, membuat Alena semakin gugup dan salah tingkah.
Ya tuhan, dia sepertinya memiliki mata di belakang kepala. Hancur imageku menjadi gadis lugu dan polos. Rutuk Alena mengumpati dirinya sendiri di dalam hati.
"De--dengar ya, Vans. Lo itu jangan GR napa, gue bukan liatin lo. Cuma mata gue lagi juling aja tadi," balas Alena dengan terbata-bata menyanggah ucapan Vans.
"Ha ... Ha ...," tawa Vans seketika pecah mendengar jawaban tidak masuk akal dari Alena. Perutnya terasa digelitik oleh ribuan ulat bulu.
"Ha ..., juling. Coba sini gue lihat." Vans mendekatkan wajahnya pada wajah Alena. Sontak saja, kedua mata Alena terpaku pada bola mata hitam milik Vans yang kini hanya berjarak dua centimeter dari wajahnya. Bahkan, ia bisa menghirup nafas Vans yang beraroma mint.
Deg!
Deg!
Deg!
Detak jantung Alena seketika bergemuruh berdetak dengan sangat kencang. Seolah-olah ia baru saja dikagetkan oleh suara klakson tronton. Bahkan, kini nafas Alena tercekat dengan darah yang berdesir panas.
Ada apa dengan jantungku? Kenapa jantungku deg-degan kayak gini. Udah lagi mau ikut lomba Ballet aja. Batin Alena dengan tubuh yang membeku di tempat. Dari jarak sedekat ini, wajah Vans terlihat seperti rembulan yang bersinar redup, tetapi sangat indah.
"Bbbbhuaa ... Ha ..., mata lo ngak juling kok," cetus Vans kini dengan tawa terbahak-bahak. Sumpah demi apapun, wajah Alena sangat-sangat lucu saat ia memperhatikan kedua bola mata indah gadis itu. Alena sama sekali tidak berkedip sedikitpun, bahkan gadis itu tidak bernafas yang membuat wajahnya menjadi merah padam.
__ADS_1
Alena mengeram kesal karena Vans terus saja meledek dan juga mengejeknya. Apa pria itu tidak tahu, ia hampir pingsan karena tidak bisa bernafas, dan itu semua penyebabnya adalah wajah pria itu yang terlalu dekat dengan wajahnya.
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Alena melancarkan pukulan beruntun pada lengan Vans yang lansung meringgis kesakitan. Alena menatap kesal pada Vans dengan nafas yang menderu, persis seperti banteng yang siap menyeruduk lawan.
"Len, sakit tahu. Gue ini bukan samsak tinju," protes Vans dengan bibir mencebik sambil mengelus lengannya. Ternyata pukulan Alena cukup berisi juga.
"Sekali lagi lo ngeledek gue, gue pukul lebih keras lagi," sebal Alena dengan mengangkat satu tinjunya.
"Oke, oke Buko yang galak gue berhenti nih." Vans meletakkan kedua tangannya di atas udara.
"Ya udah, sini aku bantu kerjain tugasnya," imbuh Vans kini melihat buku Alena.
"Gue udah coba pake rumus kedua tapi ngak ketemu-ketemu jawabannya," renggek Alena dengan mendengus kasar.
"Dah lah, serius napa kalau jelasin. GR banget lo kalau gue liatin. Cih, kalau ngak mau jelasin biar gue aja yang kerjain," ketus Alena dengan menarik bukunya.
"Ya ampun, Buko gue cepet banget ngambeknya. Kalau ngambek gini tambah lucu, keliatan kek bayi kingkong tahu," ledek Vans dengan mencubit gemas pipi Alena, yang sontak membuat Alena merasa nyawanya terangkat karena ulah Vans. Lagi-lagi dadanya bergemuruh ria seperti petir yang saling betahutan.
"Udah, jangan cubit-cubit sakit," kilah Alena mengontrol rasa aneh yang ada di dalam dadanya.
"Ya udah, sini perhatiin! Biar aku jelasin ...," titah Vans yang mulai menjelaskan kembali rumus untuk memecahkan soal. Alena mendengarkan Vans dengan seksama dan serius, sesekali ia mengganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Udah, jelaskan?" Vans menyelesaikan penjelasannya dengan sebuah pertanyaan.
"Kalau gini mah, mudah banget," cengir Alena dengan senang. Akhirnya soal tersebut berhasil ia selesaikan meski dengan bantuan Vans.
"Emang mudah kalau merhatiin," sindir Vans dengan bibir mencebik.
"Ck, udah deh jangan di bahas lagi," sinis Alena dengan menatap tidak suka.
__ADS_1
"Oke, Bukonya Vans."
"Apaan sih, Buko-Buko ngak jelas."
"Hai, Alena!" seru Ceri berdiri di depan meja Alena bersama Dita. Kedua mata Vans dan Alena tertuju pada dua gadis yang tengah tersenyum di depan mereka.
"Ada apa?" tanya Vans dengan raut wajah sedikit tidak suka. Alena yang hendak bersuara mengurungkan niatnya karena sudah didahului oleh Vans.
"Eh, kok lo ngegas sih, orang kita mau ngomong sama Alena," sinis Dita menatap kesal pada Vans.
"Ya, orang gue yang denger," sungut Vans tak mau kalah. Alena segera menyentuh bahu Vans agar pria itu tenang.
"Kenapa, Cer?" sela Alena bertanya dengan nada lembut.
"Mana jawaban lo, bagi donk. Kan lo udah janji tadi sama kita-kita." Ceri menengadahkan tangannya di depan Alena.
Alena menghembuskan nafasnya pelan, kemudian mengambil buku dari dalam tasnya. Namun, gerakan tangannya terhenti saat melihat Vans yang sudah lebih dulu menyerahkan kertas pada Ceri.
"Nih, kertas jawaban buat kalian," ujar Vans, membuat Ceri dan Dita tersenyum senang dan segera berlalu meninggalkan meja Alena.
...----------------...
...****************...
Cie bayi kingkong
jangan lupa
like
koment
vote
tips
__ADS_1