
...45...
Vans menatap Alena dengan tatapan sendu. Gadis di hadapannya benar-benar mengubah dirinya, dari seorang pelayan menjadi seorang pangeran. Demi membantu dirinya, Alena melakukan ini semua. Ia sangat bersyukur mempunyai teman seperti Alena.
Srakk
Vans meraih tubuh Alena dan menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya. Hal itu membuat Alena tersentak kaget dengan jantung yang mulai berdetak kencang lagi.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Alena rasanya ingin keluar dari rongga dadanya karena detakan yang sangat kencang. Rasanya ada gemuruh yang aneh, tetapi di iringi dengan aliran listrik yang menyengat.
Alena memejamkan kedua matanya, saat hembusan nafas Vans menyapu ceruk lehernya. Rasanya begitu geli dan membuat bulu roma di tubuhnya berdiri.
"Terimakasih, kamu teman terbaik yang pernah aku miliki."
Trang!
Prang!
Dada Alena terasa di sambar petir dengan hatinya yang terasa pecah menjadi seribu. Saat gendang telinganya mendengar kata teman yang terlontar dari bibir Vans. Kata yang selalu saja mencubit keras hatinya dan membuat ia merasa dijatuhkan ke dasar bumi yang paling dalam. Ada rasa tidak terima dan tidak suka saat Vans mengatakan jika ia hanya teman bagi pria itu.
Ada apa dengan hatiku? Kenapa setiap Vans mengatakan aku temannya, hatiku menjadi sangat sakit dan terasa hancur. Astaga ada apa denganku? Batin Alena dengan rasa gelisah dan cemas.
Kepala Alena tiba-tiba merasa sangat pusing dan pening, seolah-olah bumi sedang berputar dengan sangat cepat. Alena mengerjapkan kedua matanya, saat pandangannya mulai mengabur.
Alena berusaha mengontrol dirinya, dan tanpa sadar ia membalas pelukan Vans. Bibir Vans terangkat lebar saat Alena membalas pelukannya. Ia merasa sangat nyaman memeluk tubuh Alena.
__ADS_1
Alena terus mengerjapkan kedua matanya, menjaga agar kesadarannya tidak hilang. Ia lupa jika seharusnya ia sudah meminum obat untuk penyakit sialan yang terus menggerogoti tubuhnya. Saking sibuknya berbelanja dengan Vans, membuat ia lupa waktu untuk minum obat.
Alena mendorong tubuh Vans, hingga pelukan mereka terurai. Dengan cepat, Alena merogoh ranselnya dan mengambil obat serta sebotol air minum. Tubuhnya terasa sangat sakit, seolah ada ribuan pisau yang menyayat tubuhnya. Vans yang melihat wajah Alena yang pucat, seketika menjadi gelagapan dan panik.
"Alena, lo ngak papa?" tanya Vans dengan khawatir sembari menopang tubuh Alena yang hampir ambruk ke lantai. Alena hanya menggelengkan kepalanya, memberi isyarat jika ia baik-baik saja. Alena dengan cepat meminum tujuh butir pil obat dan meneguk air minum.
Tubuh Alena ambruk seketika terduduk di lantai. Untung Vans memegangi bahunya, sehingga bokongnya tidak mendarat dengan keras di lantai.
Sementara Vans semakin panik dengan keadaan Alena yang lemas hingga harus duduk di lantai. Ia benar-benar sangat takut dan kalut melihat gadis bawel dan sinis kini terduduk lemas. Ia tidak ingin terjadi apapun pada Alena.
Vans menarik kepala Alena hingga menyender di dadanya. Bisa Alena dengar sayup-sayup suara detakan jantung Vans yang berlalu dengan sangat cepat, sama seperti dirinya. Akan tetapi, Alena yakin jika hal itu terjadi karena Vans yang khawatir akan kondisinya yang benar-benar drop.
"Alena, lo kenapa? Kita ke rumah sakit ya!" seru Vans dengan mengusap lembut pipi Alena.
"Ngak usah, gue ngak papa," tolak Alena.
"Ngak papa gimana, orang lo mau pingsan!" sarkas Vans dengan penuh kekhawatiran.
Vans, gue cinta sama lo. Batin Alena yang terkejut dengan perasaannya sendiri. Kenapa ia bisa berpikir seperti itu? Apa ini artinya ia jatuh cinta pada Vans?
Alena menggelengkan kepalanya, menolak bisikan yang ada di dalam hatinya tentang perasaanya pada Vans. Ia tidak mungkin jatuh cinta pada temannya sendiri. Alena menarik dirinya, ia merasa lebih baik setelah meminum obat. Sepertinya obat tersebut sangat cepat bereaksi dan menekan penyakit sialan yang bersarang dalam tubuhnya. Perlahan wajah pucat Alena kini memerah.
"Kayaknya magh gue kambuh, makanya gue lemes. Udah lo jangan panik kayak gitu gue ngak papa," terang Alena lalu bangkit. Ia mengulurkan tangannya pada Vans untuk berdiri.
Vans menatap lekat wajah Alena, mencari kebohongan pada perkataan Alena, dan juga memastikan jika gadis itu memang baik-baik saja.
Senyum tipis terkesan sangat tulus di bibir Alena, akhirnya menyakinkan Vans bahwa Alena memang baik-baik saja. Vans meraih tangan lentik Alena dan menggengam tangan itu dengan erat. Lalu, berdiri dengan bantuan tarikan dari Alena.
"Lo ngak bohong kan?" tanya Vans yang masih cemas.
"Iya, gue baik-baik saja. Lo pikir gue bakal mati, ya?" Alena memasang wajah cemberut, ia ingin mengalihkan perhatian Vans dan melupakan apa yang baru saja terjadi.
__ADS_1
"Jangan bilang seperti itu lagi, gue ngak suka," sinis Vans dengan menyentil kening Alena. Ia sama sekali tidak suka saat mendengar kata kematian dari bibir mungil Alena.
"Auuu, sakit!" sungut Alena dengan bibir mengerucut ke depan.
"Sekarang kita cari makan dulu, gue ngak mau sampai magh lo kambuh lagi. Seharusnya lo bilang sama gue, kalau lo punya penyakit magh. Mulai sekarang, lo ngak boleh telat makan. Lo harus harus makan tepat waktu," cecar Vans dengan perkataan yang terkesan memerintah tanpa ingin di bantah. Bahkan, jari telunjuk Vans menunjuk wajah Alena sebagai penegasan jika Alena tidak boleh membantah.
Vans meraih tangan Alena dan menggengam tangan gadis tersebut dengan sangat erat. Seolah-olah ia tidak ingin hal buruk terjadi pada Alena.
"Lepasin, tangan gue Vans!" seru Alena dengan menarik tangannya karena jantungnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi.
"Ngak akan, setiap lo ada di samping gue. Lo harus pegang tangan gue dan gue juga bakal pegang tangan lo. Gue ngak mau nanti lo jatuh kayak tadi. Jadi, jangan jauh-jauh dari gue," tekan Vans dengan posesif dan wajah serius.
"Ayo!" seru Vans lagi. Alena menghembuskan nafasnya pasrah dan menuruti keinginan Vans. Keduanya berjalan beriringan dengan kedua tangan yang bergandengan. Persis seperti sepasang kekasih yang sedang kasmaran. Sedangkan Alena, tengah meredam detakan jantungnya yang saat ini berdisko ria tanpa henti. Di mana pikirannya melayang, bertanya-tanya apa benar ia sudah jatuh cinta pada Vans?
Alena melirik sekilas ke arah Vans yang terlihat mencari stand makanan.
Perasaan ini tidak boleh ada dalam hatiku. Yah, memang lebih baik aku menekan rasa ini. Batin Alena mesugesti dirinya sendiri dan menepis rasa aneh di hatinya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
__ADS_1
tips