The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Pengalaman pertama naik sepeda


__ADS_3

...35...


Rambut bergelombang Alena berkibar dengan begitu indah ditiup oleh hembusan angin. Wajah gadis itu terlihat sangat bahagia dan berseri. Senyum lebar di bibirnya sejak tadi tidak pernah luntur sedikitpun. Hembusan angin yang menerpa tubuhnya seperti sebuah belaian lembut yang sangat menyenangkan.


Ia juga bisa melihat semua pengguna jalan dengan jelas tanpa harus terhalang oleh kaca hitam. Alena menarik nafas dalam, meraup oksigen sebanyak-banyaknya untuk dialirkan ke dalam paru-paru kecil miliknya.


Ia benar-benar tidak menyangka jika naik sepeda ternyata seseru ini. Ia merasa seperti sedang terbang melawan arah angin. Alena merentangkan tangannya dengan perlahan hingga pegangannya terlepas dari pundak Vans. Ia mendongak dan memejamkan kedua matanya rapat-rapat menikmati moment yang sangat menyenangkan ini. Jika ia bisa menghentikan waktu, ia pasti akan melakukannya detik ini juga.


Vans yang merasa Alena melepas pegangan di pundaknya terlihat cemas. Ia memelankan kayuhan pada sepedanya sehingga laju sepeda menjadi lebih pelan.


"Lena, pegangan ntar lo jatuh!" seru Vans dengan menoleh sekilas ke belakang, di mana ia melihat rambut Alena berkibar diterbangkan oleh angin. Lihatlah, wajah Alena yang begitu senang. Bisa ia pastikan jika gadis itu suka naik sepeda.


"Alena, pegangan!" seru Vans dengan nada yang meninggi karena sepertinya teguran pertama tidak didengarkan oleh Alena yang begitu menikmati rasanya naik sepeda.


"Ngak, gue ngak bakal jatoh. Gue bisa seimbangin tubuh gue, lo jangan khawatir," sahut Alena dengan nada senang. Yah, berdiri seperti ini sangat mudah bagi Alena, ia adalah seorang Balerina yang bisa berdiri di atas jempol kakinya sendiri.


"Ngak bisa, lo harus pegangan!" perintah Vans yang tidak ingin Alena sampai jatuh.


"Gue ngak mau," tolak Alena.


"Kalau lo ngak mau, gue berentiin sepedanya," ancam Vans dengan memelankan laju sepeda. Alena mendengus kesal, ia pun menuruti perintah Vans dengan meletakkan kembali tanganya di pundak pria itu. Vans tersenyum senang, merasakan sentuhan di pundaknya.


"Lo itu suka ngancem, resek banget," cela Alena dengan wajah kesal. Setidaknya Vans bisa membiarkan dirinya untuk menikmati ia naik sepeda untuk pertama kalinya. Namun, pria itu sangat menyebalkan dan mendominasi dirinya.


"Yah, gimana ngak suka ngancem orang gue ngelawan Buko yang galak, bawel, dan pembangkang," balas Vans tak mau kalah untuk mengejek Alena.


"Berhenti panggil gue Buko."


"Ya udah, mau gue panggil Buko atau Kingkong?"


Puk!


"Berani lo ngatain gue Kingkong gue cabut tu lidah," ancam Alena dengan memukul kesal bahu Vans, yang malah tertawa terbahak-bahak. Ia benar-benar senang membuat Alena kesal dan marah. Gadis itu terlihat semakin lucu seperti boneka minions.


"Gimana? Lo suka kan naik sepeda?" tanya Vans.

__ADS_1


"Iya, ternyata naik sepeda seru juga ya."


"Jelaslah, naik sepeda lo bisa ngerasain terpaaan angin dan juga bisa melihat aktivitas semua orang dengan jelas. Apa lagi sensasi boncengan dengan posisi berdiri bikin beda."


"Ha ... Ha ..., lo nyindir gue karena gue kolot karena berpikir naik sepeda haru boncengan." Alena tertawa lepas dan begitu ringan. Dalam sejenak ia lupa dengan beban dan deritanya.


"Lo tu ya, selalu aja seuzon sama gue."


"Oke, maaf-maaf. Eh, lo keringatan, pasti lelah ya ngayuh sepedanya?"


"Jelaslah lelah, orang gue bonceng cewek yang berat banget," ledek Vans, yang langsung mendapat pukulan ringan di bahunya dari Alena.


Puk!


"Berani lo bilang gue gemuk, gue cekik leher lo," ketus Alena dengan wajah tertekuk. Berani sekali Vans mengatai dirinya gemuk, padahal tubuh dan berat badannya sangat ideal untuk ukuran remaja seperti dirinya.


"Ha ... Ha ..., kapan gue bilang lo gemuk?" kekeh Vans.


"Tadi kan, lo bilang gue berat."


"Gue bilang berat Buko, bukan gemuk."


"Oh, nanti pulang sekolah gue mau ngajak lo ke beberapa tempat," ucap Alena lagi dengan mengeluarkan sapu tangan miliknya dan menyeka keringat Vans. Ia juga merasa kasihan pada pria ini karena membonceng dirinya Vans sampai berkeringat datang ke sekolah.


Vans tersenyum senang, merasakan sentuhan Alena yang menyeka pelipis serta wajahnya. Ia sama sekali tidak merasa lelah membonceng Alena, tetapi malah merasa senang, melihat Alena yang begitu senang dan bahagia naik sepeda membuat rasa lelah Vans mengayuh sepeda terobati.


"Emang mau ngapain?" tanya Vans dengan senyum yang terus mengembang. Sesekali ia menarik tangan Alena untuk menyeka keringat yang mengalir melewati matanya. Tentu saja, sentuhan tangan Vans membuat Alena merasakan setruman listrik yang aneh.


"Katanya mau dapetin Raline. Ya udah, nurut aja."


"Iya Buko nurut kok."


Akhirnya setelah menghabiskan beberapa menit Alena dan Vans tiba di sekolah. Seperti biasa Vans memarkirkan sepedanya di antara motor-motor mewah siswa lain. Alena segera turun dan membuka helm, kemudian memberikannya pada Vans.


Beberapa sorot mata tertuju pada keduanya. Sorot mata yang terlihat memandang rendah dengan bibir mencebik.

__ADS_1


"Eh liha, dua spesies culun akhirnya bersatu."


"Haduh, manis sekali melihat dua murid cupu bersama. Terlihat sangat menjijikkan."


"Bagaimana bisa sekolah favorit ini bisa menerima mereka. Murid yang tidak memiliki kelebihan apapun, yang hanya bisa menjadi sampah di antara kita."


Suara cemooh dan hinaan dari para murid terdengar begitu jelas di telinga Alena dan Vans. Selalu saja seperti ini, semua murid selalu memandang mereka dengan jijik seolah-olah mereka seperti kotoran yang sangat menjijikkan. Wajah Vans seketika berubah menjadi sedih, hal itu tentu saja tertangkap oleh Alena.


Alena mengulas senyum paksa, meski jujur ia juga merasa sakit hati mendengar perkataan buruk para murid.


"Vans, jangan dengarkan mereka," ujar Alena dengan menyentuh bahu Vans, mencoba menghibur pria itu agar tidak sedih.


"Tapi gue punya telinga, gue ngak tuli sehingga ngak bisa dengerin apa kata mereka," sanggah Vans dengan mood yang jelek. Ia menyampirkan tas ransel di pundaknya. Lalu berjalan masuk ke dalam sekolah, di mana Alena segera menyusul Vans dan berjalan di samping pria itu.


"Maksud gue, ngak usah masukin ke dalam hati perkataan mereka. Mereka saja tidak peduli dengan kita. Lalu, kenapa kita harus peduli dengan perkataan mereka." Alena mencoba menjelaskan pendapatnya pada Vans.


Vans meletakkan ransel di mejanya. Kini mereka sudah sampai di kelas. Apa yang di katakan oleh Alena memang benar. Tidak seharusnya ia memasukkan semua perkataan menyakitkan murid-murid itu ke dalam hati.


Vans menghela nafasnya. Lalu tersenyum pada Alena. Gadis bertompel dan berkacamata itu membalas senyum manis Vans dengan senyuman juga.


"Lo emang bener. Oke, mulai sekarang gue ngak akan peduli dengan apa yang mereka katakan," ujar Vans dengan mood yang kembali membaik.


"Bagus." Alena mengacak rambut Vans hingga sedikit berantakan. Lalu, berlari menuju mejanya sebelum Vans membalas perbuatannya. Sementara, Vans melongo dengan menyentuh rambutnya yang baru saja di acak-acak oleh Alena.


...----------------...


...****************...



jangan lupa like


komen


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2