
...80...
"Ekhmmm," dehem Vans melirik sekilas ke arah teman perempuannya. Sejak tadi, Alena terus saja diam. Situasi hening di antara mereka sungguh tidak enak.
Alena memejamkan kedua matanya. Mengontrol perasaan yang semakin sulit ia kendalikan. Ia menoleh ke arah Vans sekilas dan kembali memandang lurus pada jalanan di depan.
"Lo ngak tidur ya tadi malem?" Vans membuka suara dengan bertanya. Pasalnya, ia melihat lingkaran hitam di kedua mata Alena.
"Ngak kok, gue tidur tadi malem," balas Alena berbohong. Tidak mungkin ia mengatakan kalau kehadiran Vans membuat ia tidak bisa memejamkan mata sepanjang malam.
"Lo jangan bohong. Lo pikir gue ngak tahu apa."
"Lo itu ngak percayaan banget sih. Orang gue bilang tidur. Ya, artinya gue tidur."
"Pembohong."
"Ngaklah."
"Gue lo kibulin. Untung gue bukan anak TK yang bisa lo bohongin. Lihat tuh, ada lingkaran hitam di bawah mata lo. Ngak mungkin kan eyeliner lo luntur. Orang lo ngak pakai begituan."
__ADS_1
Mulut Alena lansung bungkam seketika. Lidahnya kelu, ia tidak memiliki kata-kata lagi untuk menjawab perkataan Vans.
"Sekarang, lo jawab gue. Apa gara-gara gue nginep di rumah lo makanya lo ngak bisa tidur?" tanya Vans lagi dengan suara yang sedikit merendah.
"Enggak kok, bukan gitu," kilah Alena dengan sedikit gugup.
"Terus karena apa? Lo ada masalah?"
"Ngak juga. Entah lah, gue ngak tahu. Lupain aja, sekarang lo fokus nyetir aja. Biar kita cepet sampai di sekolah." Alena berusaha mengalihkan topik pembicaraan yang kian menjurus memojokkan dirinya. Ia tidak ingin, semakin Vans bertanya maka ia tidak akan bisa terus menutupi perasaannya.
Sungguh, mencintai seseorang secara sepihak sangat menyakitkan. Ingin memiliki tapi kenyataan tidak mengizinkan. Apalagi, orang disukai menyukai orang lain. Rasanya hati sedang dipelintir dengan sangat keras. Sangat menyakitkan dan menyesakkan terus berpura-pura tegar melihat mereka bergandengan tangan. Tragis memang tapi apalah daya jika hati memilih siapa yang ia cintai.
Lo adalah hal terindah dalam hidup gue. Gue tahu, ada yang lo sembunyiin. Gue bakal kasi lo waktu sampai lo siap kasi tahu gue. Batin Vans.
Mobil yang mereka tumpangi, terus melaju membelah jalanan. Vans sengaja memperlambat kecepatan laju mobil. Entah, ada apa dengan dirinya. Namun, saat berada di dekat Alena ia merasa sangat nyaman.
Gerbang besar Sun Elit School terlihat berdiri dengan kokoh. Di mana para murid mulai masuk berlalu lalang. Vans memarkirkan mobil. Alena segera membuka selfbelt dan hendak turun. Namun, sebelum ia bergerak lebih lanjut. Tangan Vans sudah mendarat di pergelangan tangan gadis itu. Hal itu sontak membuat Alena menatap Vans.
"Gue bakal bukain lo pintu," ujar Vans.
__ADS_1
"Ngak usah, gue bisa buka pintu sendiri," tolak Alena dengan halus.
"Gue bilang, gue bakal bukain lo pintu," ucap Vans mutlak tanpa menerima bantahan atau pun penolakan. Ia pun segera turun dan berlari memutar.
Alena menghembuskan nafas pasrah. Ia sama sekali tidak bisa membantah keinginan pria itu. Akan tetapi, hatinya berbunga-bunga karena Vans memperlakukan dirinya dengan begitu manis.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1
tips