The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Larangan


__ADS_3

...31...


Mobil Vans berhenti tepat di depan rumah Alena. Ia menatap ke samping di mana Alena sudah bersiap untuk turun dari mobil.


"Lo ngak boleh jalan sama Vihan," celetuk Vans menghancurkan keheningan di antara mereka. Gerakan Alena yang akan membuka pintu terhenti seketika. Ia menatap Vans dengan heran, tetapi pria itu memilih membuang wajah.


"Kenapa ngak boleh?" tanya Alena dengan dahi berkerut. Memang apa salahnya jika ia jalan-jalan dengan Vihan. Baginya itu sesuatu yang menarik. Vans lansung menoleh ke arah Alena dengan tatapan tidak suka.


"Vihan itu playboy, gue ngak mau lo dipermainin sama dia," tegas Vans menekan kalimatnya. Alena menghembuskan nafasnya kasar, ternyata benar yang ia duga. Sikap Vans berubah seperti orang yang sedang kelaparan karena masalah Vihan yang menawari dirinya untuk jalan bersama.


"Tapi yang gue lihat, Kak Vihan orang nya baik kok," sanggah Alena yang sedikit tidak setuju dengan penilaian Vans.


Brak!


Vans menggebrak stir mobil dengan keras. Hal itu membuat Alena tersentak kaget. Alena menelan salivanya paksa, atmosfer di sekitarnya terasa ditekan oleh aura Vans yang terlihat marah karena sanggahannya.


Vans menarik nafasnya dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Ia mengontrol amarah yang tiba-tiba meletup mencapai level tertinggi. Biasanya ia tidak pernah semarah ini, tetapi ia tidak terima jika Alena menjadi target Vihan. Ia tidak akan membiarkan hal itu.


Vans memejamkan kelopak matanya. Lalu, menoleh ke arah Alena yang terlihat terkejut karena gebrakan tangannya pada stir mobil barusan.

__ADS_1


"Maaf, aku hanya terbawa emosi!" seru Vans dengan nada melembut. Ia segera turun dari mobil dan berjalan memutar, membukakan pintu mobil untuk Alena.


Alena mencuri pandang pada Vans yang terlihat sedikit lebih tenang dari sebelumnya. Ia segera turun dari mobil dan melangkah untuk masuk ke dalam rumah. Namun, langkahnya segera terhenti saat Vans mencekal pergelangan tangannya. Alena membalikkan tubuhnya menghadap Vans. Tatapan mereka bertaut seketika tapi segera di putus oleh Vans.


Vans membuka pintu penumpang, kemudian mengambil tiga paperbag yang lupa dibawa oleh Alena.


"Lo ngelupain ini," ucap Vans dengan raut wajah tak enak di pandang. Ia menyerahkan paperbag makanan tersebut pada Alena.


"Lo jangan khawatir, gue ngak akan terima ajakan dari Kak Vihan," hembus Alena, yang seketika membuat wajah Vans tersenyum semringah. Jawaban inilah yang diinginkan oleh Vans.


"Bagus, akhirnya lo nurut sama gue. Gue ngelarang lo karena gue ngak mau lo jadi salah satu gadis mainan Vihan. Vihan sangat senang gonta-ganti pacar tapi hal itu wajar karena banyak gadis yang rela menjadi pacarnya meski hanya satu malam." jelas Vans dengan lega.


"Gue juga ngak kepikiran buat pacaran, jadi lo jangan khawatir."


"Iya, gue akan buat lo bisa miliki Raline. Mending lo sekarang pulang karena gue udah ngantuk."


"Dih, ngusir," Vans mencebikkan bibir menggoda Alena yang langsung mendapat pukulan ringan dari gadis itu.


Puk!

__ADS_1


"Oke-oke, Buko. Gue pulang, tidur nyenyak ya bawel." Vans mengacak rambut Alena gemas. Ia tersenyum sebelum masuk ke dalam mobil.


Alena melambaikan tangannya dengan wajah yang dihiasi oleh senyum, saat melihat mobil Vans bergerak meninggalkan pekarangan rumahnya.


"Kayaknya besok aku harus izin sama Madam Mosy untuk tidak hadir dilatihan besok," gumam Alena lalu masuk ke dalam rumah.


...----------------...


...****************...


Maaf upaya pendek ya.. othod udah ngantuk nih


Makanya kasih vote biar aku tambah semangat.


Jangan lupa


like


koment

__ADS_1


gift


tips


__ADS_2