The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Hanya bisa memperpanjang hidup


__ADS_3

...18...


Klek!


Ruangan dokter terbuka membuat fokus Tuan Surya dan Nyonya Giana beralih.


"Tuan, dan Nyonya Pradipta, silahkan masuk. Dokter akan memberikan hasil laporan pengobatan, Nona Alena," ujar perawat menyingkirkan tubuhnya, memberi ruang untuk Tuan Surya dan Nyonya Giana.


Tuan Surya dan Nyonya Giana saling menatap sebentar, lalu mengangguk bersamaan. Seolah-olah saling memberikan kekuatan dan keberanian akan hasil apapun yang akan mereka dengar.


Genggaman kedua tangan mereka semakin erat. Tuan Surya dan Nyonya Giana beranjak lalu masuk ke dalam ruangan dokter yang menangani Alena.


"Silahkan, Tuan dan Nyonya Pradipta." Dokter tersebut merentangkan tangannya, mempersilahkan keduanya untuk duduk.


"Bagaimana, dok. hasil pengobatan serta metode baru yang di jalankan oleh putri kami? Apa penyakit itu berhasil di angkat?" cecar Nyonya Giana terburu-buru, sembari tangannya memilin-milin jari tangannya yang lain.


Dokter tersebut menyerahkan sebuah amplop besar berwarna coklat kepada Nyonya Giana dan Tuan Surya. Seketika tatapan mereka terfokus pada amplop tersebut. Debaran dan detakan jantung mereka terpompa dengan tidak beraturan. Ada rasa takut dan juga harapan yang saling berperang dalam diri masing-masing.


"Itu adalah hasil laporan pengobatan Alena dalam tiga minggu ini, Anda bisa melihat hasilnya," ucap sang dokter dengan wajah datar.


Tuan Surya meraih amplop tersebut. Saat ini, ia benar-benar tegang. Ia mengumpulkan seluruh keberaniannya untuk melihat hasil pengobatan sang putri tercinta. Tuan Surya mengeluarkan beberapa kertas dari dalam amplop, terlihat hasil City Scan yang memperlihatkan seluruh bagian tubuh Alena. Tuan Surya beralih membaca kertas putih dengan tulisan tinta hitam. Ia mengerutkan keningnya dalam melihat bahasa kedokteran yang tidak bisa ia pahami.


"Maaf, dok. Saya tidak mengerti dengan semua tulisan yang ada di kertas ini. Istilah yang dipakai cukup sulit untuk dimengerti," ucap Tuan Surya menatap sang dokter dengan serius.


"Hasil dari pengobatan serta metode baru yang kita lakukan pada Alena membuahkan hasil, Tuan,"


Nyonya Giana menutup mulutnya dengan cepat. Di mana air matanya mengalir. Ia tidak percaya ini, itu artinya pengobatan Alena kali ini tidak sia-sia. Ia benar-benar sangat bahagia mendengar kabar baik ini. Rasanya ada harapan besar untuk kesembuhan putri semata wayangnya.

__ADS_1


"Itu artinya, kanker dalam tubuh Alena sudah menghilang dok? Dengan kata lain, putriku sembuh?" sela Nyonya Giana dengan rasa bahagia yang membuncah di dada. Begitupula yang tengah dirasakan oleh Tuan Surya, dia juga merasa sangat senang dengan kabar ini.


"Tidak, sel kanker di tubuh Alena belum hilang. Metode ini hanya bisa menyingkirkan separuh sel kanker yang ada di tubuh Alena. Metode ini mungkin berhasil, Tuan, Nyonya. Akan tetapi, hanya untuk memperpanjang hidup Alena." Sang dokter menundukkan wajahnya.


Deg!


Jedder!


Dunia seakan runtuh seketika. Harapan yang baru saja di raih hancur dalam sekejap. Jantung Nyonya Giana terasa di cabut dari gantunganya mendengar ucapan dokter. Tubuh Tuan Surya melemas, seakan tulang-tulang dan sendinya melebur. Baru saja, mereka merasa menemukan sebuah oase di gurun pasir yang panas. Akan tetapi, dalam hitungan detik oase itu dilahap oleh panas. Rasanya mereka seperti dijatuhkan dari ketinggian setelah diterbangkan begitu tinggi.


Buliran bening meluncur dengan bebas di pipi Nyonya Giana dalam diam. Bibirnya bergetar dengan rasa sesak yang terasa penuh di dada. Kerongkonganya tercekat, seperti ada sesuatu yang mengganjal.


Brak!


Tuan Surya menggebrak meja dengan keras. Ia menatap dokter tersebut dengan mata memerah dan keputus asaan.


Air mata menetes dari sudut matanya. Lagi-lagi harapannya hancur seketika. Rasa marah dan kecewa berkumpul menjadi satu di dalam dirinya.


Sang dokter menarik nafas panjang. Ia sangat mengerti dengan kemarahan Tuan Surya. Seorang ayah yang begitu besar keinginanya untuk melihat sang putri sembuh. Namun, semua itu tak semudah yang dibayangkan oleh laki-laki paruh baya itu.


"Aku minta maaf sebelumnya, Tuan, dan Nyonya Pradipta. Aku sudah menjalankan tugasku dengan sangat baik. Akan tetapi, sel kanker di tubuh Alena sungguh kebal dan sangat sulit untuk dihilangkan. Mungkin ini adalah efek dari pengobatan dimasa lalu. Aku juga ingin melihat putri kalian sembuh. Akan tetapi, aku bukan tuhan yang bisa menyembuhkan Alena. Aku hanya manusia, dan manusia hanya bisa berusaha."


"Hiks ... Hiks ..., Dad, putriku---" Suara tangis Nyonya Giana semakin pecah, terdengar suara sesenggukan dari tangisnya yang pilu.


Tuan Surya meraih tubuh Nyonya Giana yang hampir limbung dan jatuh ke lantai. Didekapnya tubuh sang istri, mengalirkan kekuatan agar Nyonya Giana kembali tenang dan menerima kenyataan.


"Kenapa harus Lena, kenapa putriku yang harus menderita. Hiks ... Kenapa bukan aku Dad? Aku rela menggantikan posisi Alena. Biarkan aku yang digerogoti penyakit itu tapi jangan putriku, hiks ...." Nyonya Giana mencurahkan semua unek-unek yang ada di dalam hatinya. Ia sudah tidak sanggup lagi untuk berpura-pura kuat dan menjalani semuanya seperti tidak terjadi apa-apa.

__ADS_1


Tuan Surya semakin mengeratkan pelukannya. Ia mencium dalam puncak kepala Nyonya Giana, mencoba menenangkan sang istri. Meski, ia pun sama hancurnya.


"Tenanglah!" Tuan Surya mengusap lembut punggung sang istri.


"Kita tidak akan menyerah, Mom. Kita harus yakin jika tuhan akan mendengar semua doa kita. Alena akan sembuh, dia akan sembuh," hibur Tuan Surya memupuk semangat dan harapan Nyonya Giana karena hal itulah yang membuat mereka bisa kuat hingga detik ini.


Tuan Surya mengurai pelukannya dan menangkup wajah sang istri, menatap lekat kedua mata Nyonya Giana yang sudah memerah dan sembab dengan genangan air mata yang tak kunjung henti.


"Kamu yang selalu mengajariku untuk tidak menyerah bukan? Kali ini pun sama, kita tidak boleh menyerah. Kita akan selalu bersama-sama mencari kesembuhan Alena. Dia adalah gadis yang kuat dan penurut, Alena adalah anak yang baik. Dady yakin, jika tuhan tidak akan menghukum putri sebaik Alena. Momy tidak boleh menyerah, jika momy menyerah bagaimana dengan Dady? Dady tidak akan kuat menghadapi semua ini sendiri."


Kata-kata menyakinkan dan penuh harapan yang keluar dari mulut Tuan Surya membuat tangis Nyonya Giana mereda. Nyonya Giana mengontrol emosinya, ia menengadahkan kepalanya ke atas untuk meredam rasa perih di dada. Benar, ia tidak boleh menyerah. Ia harus kuat untuk Alena. Ia tidak bisa membiarkan Alena melewati semua ini sendiri. Ia harus yakin, jika keajaiban tuhan itu ada.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2