
...65...
Nyonya Giana tengah melamun di dalam kamarnya. Di mana di sekitarnya terlihat hasil laporan medis Alena yang berserakan. Mulai dari pengobatan pertama hingga sekarang tidak ada yang berubah dari kondisi putri satu-satunya. Nyonya Giana menatap hasil Scane penyakit kanker Alena saat penyakit ganas tersebut terdeteksi. Terlihat pada kertas berwarna abu-abu itu hanya gumpalan yang sangat kecil bahkan hampir tak terlihat. Semakin bertambahnya usia Alena, penyakit ganas itu pun ikut tumbuh dengan semakin subur.
Sudah hampir semua pengobatan yang ia dengar bisa menyembuhkan penyakit putrinya itu ia lakukan. Namun, lagi-lagi hanya kekecewaan yang ia dapatkan. Serta kenyataan pahit jika penyakit putrinya itu tidak hilang sama sekali.
Harapan yang dulu ia punya untuk kesembuhan Alena semakin hari semakin buram. Harapannya yang dulu besar semakin mengecil. Semua telah ia lakukan, tetapi tidak ada perubahan sama sekali. Sekarang, ia hanya bisa pasrah dan menyerahkan semuanya pada tuhan. Berharap dengan sepenuh hati jika ada keajaiban untuk putri kesayangannya.
Tanpa di sadari, air mata Nyonya Giana mengalir dari kedua sudut matanya. Ia memeluk erat hasil laporan terakhir pengobatan Alena. Meresapi rasa sakit akan takut kehilangan putri yang sangat ia cintai.
Tuan Surya yang baru keluar dari kamar mandi menatap sedih ke arah sang istri. Beginilah setiap hari, tidak ada hari yang dilewatkan oleh Nyonya Giana untuk tidak meratapi penyakit Alena. Tuan Surya mendekat ke arah sang istri. Membelai lembut bahu Nyonya Giana dan mengecup dalam puncak kepala istri tercinta.
"Mom, berhentilah menangis. Jika Alena sampai tahu kondisi mu dia akan tahu jika kita sudah berbohong akan kondisinya. Kamu lihat, Alena sangat bersemangat untuk bisa sembuh," bujuk Tuan Surya menghibur Nyonya Giana agar berhenti untuk menangis.
Nyonya Giana mengusap wajahnya dan mengontrol rasa sesak yang semakin hari semakin membuat ia merasa sekarat. Nyonya Giana menatap sedih ke arah sang suami. Ia juga tidak ingin menangis dan terus berada dalam lingkaran kesedihan ini. Akan tetapi, ia adalah sosok ibu. Ia menggandung Alena selama sembilan bulan. Alena begitu dekat dengan hatinya. Tanpa diminta air matanya akan luruh begitu saja walaupun ia mencoba menahan.
"Aku juga tidak ingin seperti ini. Aku ingin putriku aman dan baik-baik saja. Semua sudah kita lakukan, semuanya. Akan tetapi, satupun tak ada yang membuahkan hasil. Aku sangat lelah terus bersedih. Aku lelah terus ketakutan setiap malam. Aku takut, jika Alena pergi meninggalkan aku. Aku hanya ingin. putriku sembuh, hiks ... Hiks ...." Tangis Nyonya Giana kembali pecah begitu saja. Isakan tangis yang terdengar begitu memilukan dan syarat akan derita.
Hatinya terasa dihantam oleh batu besar hingga hancur berkeping-keping. Setiap ia menyatukan kembali hatinya, maka detik itu juga kenyataan pahit kembali membentur harapannya hingga tak ada lagi yang tersisa. Mencoba sekuat karang. Namun, badai ombak menghantam begitu keras hingga karang pun hancur.
__ADS_1
Keinginannya sederhana, yaitu melihat Alena sembuh. Hanya itu, tetapi keinginannya itu seperti mustahil dan tak memiliki jalan keluar. Andai nyawa bisa ditukar, maka dengan senang hati ia rela menukar nyawanya dengan Alena.
"Dady, masih ingat saat Alena masih tujuh tahun? Harapanku sangat besar untuk melihat Alena sembuh. Niatku begitu gigih dan aku rela melakukan apapun untuk putri kita. Kita pergi ke semua pengobatan yang ada dengan harapan putri kita akan sembuh. Namun, harapanku tidak terjadi. Sampai detik ini putriku masih sakit. Hiks ... Hiks ..., aku merasa menjadi Momy yang gagal. Hiks ... aku merasa menjadi ibu yang tidak berguna." Tubuh Nyonya Giana lemas dan jatuh dalam pelukan Tuan Surya dengan tangis yang semakin pecah.
Tuan Surya memeluk erat tubuh Nyonya Giana. Di mana air matanya juga tumpah begitu saja. Betapapun kuatnya ia terlihat tegar. Namun, ia hanya seorang ayah yang bisa sedih, melihat kondisi putrinya yang semakin hari semakin dekat dengan ambang kematian.
"Tidak, Mom. Kamu adalah ibu terbaik di dunia. Tuhan memilih kita menerima ujian ini karena dia tahu kita sanggup. Percayalah, pasti ada keajaiban untuk putri kita. Kita harus yakin jika Alena bisa sembuh," ucap Tuan Surya menguatkan Nyonya Giana. Memberi kekuatan pada sang istri untuk tidak menyerah meskipun sejujurnya ia merasa berada di titik terlemah.
"Tapi sampai kapan?" teriak Nyonya Giana histeris. Ia mendorong tubuh Tuan Surya hingga pelukan sang suami terlepas.
"Aku tidak punya jawaban untuk itu. Mom, apa kamu akan menangis dan menunjukkan diri kita yang lemah di depan Alena? Dia membutuhkan kekuatan dari kita. Jika bukan kita yang menguatkan dia, siapa lagi? Jika Alena melihat keadaan Momy dia akan hancur."
"Tenanglah, Mom. Mengeluh tidak akan membuat masalah kita selesai. Hanya perjuangan dan keyakinan yang bisa kita lakukan sekarang. Kuatkan dirimu, jangan sampai Alena tahu jika kita sudah membohongi dia soal keadaannya. Aku tidak ingin dia rapuh," tutur Tuan Surya berusaha menenangkan Nyonya Giana.
Dari balik celah pintu kamar Tuan Surya dan Nyonya Giana. Dua pasang mata indah telah berurai air mata dengan bibir yang dilipat ke dalam agar suara tangisnya tidak terdengar. Tanpa Tuan Surya maupun Nyonya Giana sadari, semua obrolan mereka terdengar oleh Alena yang baru saja pulang setelah diantar oleh Zeli dan Gina.
Alena membekap mulutnya rapat-rapat agar isakan tangisnya tidak sampai terdengar oleh kedua orang tuanya. Niatnya, ingin lansung masuk ke kamar. Namun, saat melewati kamar kedua orang tuanya ia mendengar sang ibu menangis.
Karena khawatir, ia hendak masuk ke dalam kamar. Namun, langkahnya terhenti saat mendengar ratapan kesedihan kedua orang tuanya atas kondisi kesehatannya.
__ADS_1
Awalnya ia berniat untuk bertanya mengapa sang ibu berbohong tentang kesembuhannya. Akan tetapi, setelah mendengar semuanya. Ia tidak punya keberanian untuk menanyakan hal itu.
Dengan perasaan yang hancur dan dada yang sesak. Alena berlari tanpa suara menuju kamarnya. Mengunci diri dan menangis sambil memeluk lutut. Ia begitu hancur, tidak ada lagi yang ia miliki. Harapan untuk sembuh telah sirna di mana hanya kematian yang terlihat di pelupuk matanya.
Dunianya terasa porak poranda. Di mana semuanya berubah menjadi gelap. Rantai kesedihan dan kepedihan membelengu dirinya tanpa menyisakan jalan untuk lepas.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1
tips