The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Mencari


__ADS_3

...72...


Vans melajukan mobilnya menuju rumah Alena. Ia sudah tidak tahan lagi dengan Alena yang tak kunjung memberi kabar. Entah mengapa dirinya begitu mengkhawatirkan gadis itu. Namun, sebelum ia mengetahui kabar Alena ia tidak akan bisa tenang. Buktinya, sejak pulang mengantar Raline, pikirannya terus saja kusut dan gelisah. Akan tetapi, ia berharap jika Alena baik-baik saja.


Tidak butuh waktu lama, Vans sampai di depan pintu gerbang rumah besar gadis itu. Satpam yang berjaga segera membuka pintu gerbang dan mobil Vans melaju masuk ke dalam. Vans segera turun dari mobil dengan terburu-buru dan segera masuk ke dalam rumah Alena begitu saja karena memang pintu rumah itu terbuka dengan lebar.


"Selamat malam, Tante, Om!" seru Vans menyapa Tuan Surya dan juga Nyonya Giana yang kebetulan sedang duduk santai di ruang tamu. Perhatian kedua orang tua Alena tertuju pada Vans yang berjalan mendekat ke arah mereka dengan ramah.


"Vans," lirih Nyonya Giana dengan senyum mengembang. Ia sedikit terkejut dengan kedatangan teman putrinya itu.


"Duduklah, nak!" seru Tuan Surya mempersilahkan. Di mana Vans duduk dengan menatap ke arah lantai atas, tepatnya ke kamar Alena.


"Tante, Om, Alena ada di rumah?" tanya Vans to the poin. Ia tidak ingin berbasa-basi dan menyita waktu lebih banyak lagi. Saat ini di pikirannya hanya ingin segera bertemu dengan Alena.


"Ada, dia sedang berada di taman belakang. Dia sedang ber---"


"Ya udah, Om. Aku susulin Alena aja. Ada hal yang aku mau omongin sama dia," sosor Vans dengan cepat memotong perkataan Tuan Surya, dan lansung ngibrit ke arah bagian belakang seperti yang di informasikan.


Di sisi lain, Alena masih berlatih menari dengan Madam Mosy. Ia sama sekali tidak tahu, jika Vans datang ke rumahnya. Alena terus meliukkan badannya mengikuti intruksi dari Madam Mosy.


"Sudah cukup untuk malam ini. Kita akan berlatih besok malam. Kamu sangat cepat mengerti dan setiap gerakanmu sangat luwes dan sempurna," ucap Madam Mosy mengakhiri sesi latihan. Di mana, ia dan Alena duduk bersila.


"Ini berkat dirimu Madam. Lagi pula hidupku untuk menari jadi aku akan berusaha fokus pada setiap koreografi yang Madam ajarkan. Maafkan aku karena barusan aku sempat tidak fokus."


"Tidak papa, jangan ingat hal itu. Lagi pula itu sudah berlalu. Aku akan mengirimkan beberapa video lagi nanti."


Alena tersenyum dan mengangguk mengerti. Ia benar-benar senang hari ini. Setelah menari dengan Madam Mosy semua beban dan kepedihan dalam dirinya seakan berkurang. Ia merasa lebih lega, tidak terlalu tertekan seperti beberapa jam yang lalu.


Alena mengalihkan pandangannya pada pintu belakang rumah. Di mana wajahnya seketika berubah menjadi pias dengan kedua bola mata yang melebar dengan sempurna. Bahkan, hampir keluar dari cangkangnya. Saat melihat pria yang disukainya berjalan ke tempat ia berada saat ini.

__ADS_1


Vans? Aku tidak salah lihat bukan? Tapi untuk apa dia di sini? Astaga, aku tidak memakai kaca mata dan tompel. Oh tidak, dia tidak boleh melihatku dengan penampilan asliku. Batin Alena dengan perasaan takut.


"Madam, aku harus kamar dulu," ujar Alena dengan cepat dan lansung berlari ke balik rerimbunan tanaman hias. Bagaimana pun caranya ia harus pergi dari sini dan masuk ke dalam kamar. Vans tidak boleh melihat ia tanpa penyamaran.


Madam Mosy yang belum sempat merespon ucapan Alena, menatap bingung pada sang murid yang sudah berlari dengan sangat kencang di balik rerimbunan. Ia mengerutkan keningnya tidak mengerti dengan Alena yang tiba-tiba pergi seperti itu.


"Permisi!" seru Vans yang berhasil mengagetkan Madam Mosy hingga tersentak kaget bukan kepalang.


Madam Mosy membalikkan tubuhnya sembari memegang dada bagian kirinya. Hampir saja, ia mati serangan jantung karena kaget. Untung, jantungnya masih kuat sehingga aman. Ia menatap lekat pada pria remaja yang ada di depannya. Pria itu sangat tampan dengan nafas yang menderu tidak beraturan. Bisa Ia tebak jika pria muda ini berlari menuju tempat ini.


"Kamu, siapa?" tanya Madam Mosy dengan tatapan menelisik. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Aku, Vans. Temannya Alena. Maaf tadi aku membuatmu terkejut, Tante. Di mana Alena?" Vans meminta maaf pada wanita paruh baya yang ada di depannya karena telah membuat wanita itu kaget. Ia juga tidak sengaja melakukan hal itu. Vans mengedarkan pandangannya ke segala penjuru arah, mencari di mana keberadaan Alena. Namun, sepertinya usaha untuk menemukan Alena belum juga berhasil karena buktinya, gadis bertompel itu tidak ada di tempat ini.


"Alena baru saja masuk ke dalam kamarnya," jawab Madam Mosy denga tersenyum ramah. Ternyata ini, teman pria Alena yang dipuji gadis itu saat bercerita dengannya tadi.


Madam Mosy menghembuskan nafasnya kasar melihat Vans yang lansung berlari cepat masuk ke dalam rumah setelah ia mengatakan kemana Alena pergi. Pertemanan remaja memang seperti itu. Mereka akan saling mencari satu sama lainnya.


Di dalam kamar, Alena bergegas mengganti baju balletnya dengan baju santai. Dengan gerakan kilat, ia menyabet stiker tompel yang ada di atas meja rias dan menempel benda itu asal di pipi kirinya. Tidak tertinggal pula, kacamata besar yang ia letakkan di atas meja belajar. Ia begitu terburu-buru hingga lupa untuk mandi dan sekedar menyeka keringat di wajahnya.


Ia benar-benar tidak habis pikir, kenapa Vans tiba-tiba datang ke rumahnya. Kehadiran Vans yang tiba-tiba membuat ia panik dan ketakutan. Karena saking terburu-buru untuk bersiap menjadi Alena versi cupu, ujung jempol kakinya tidak sengaja membentur kaki meja dengan keras.


Brak!


"Auuu," ringgis Alena dengan mengangkat kakinya dan mengelus pelan jempolnya dengan lembut.


"Aduh, tuh anak ngapain sih pake acara dateng ke rumah segala. Dadakan juga lagi, kalau kayak gini gue bisa ketahuan sama dia," umpat Alena.


Tok!

__ADS_1


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu yang keras mengalihkan pandangan Alena. Ia semakin panik dan gelagapan. Ia yakin jika itu pasti Vans. Astaga, pria itu benar-benar sangat niat untuk menemuinya hingga mengejar sampai ke kamar.


"Astaga." Alena melepas sepatu ballet yang masih melekat di kakinya yang lain dengan cepat dan asal.


Sementara di depan pintu. Vans sudah sangat sebal karena Alena tidak kunjung membuka pintu. Tidak ingin menunggu lagi, Vans memutar knok pintu yang ternyata tidak terkunci. Dengan kasar, Vans mendorong pintu kamar. Di mana Alena sudah terbelalak kaget saat melihat pintu kamarnya terbuka.


Srak!


Deg!


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2