
...33...
Matahari mulai muncul dari arah timur, setelah tenggelam dari ufuk barat. Sinarnya yang menyilaukan dan begitu hangat menyelinap masuk ke dalam setiap celah yang berhasil di gapai.
Awan putih yang begitu cerah, saling bertumpukan di satu tempat, menghiasi langit biru yang terlihat begitu indah. Kepakan sayap merpati dan juga kolininya juga menambah keindahan pagi ini. Burung-burung itu terlihat sedang melakukan sebuah atraksi dengan berbagai formasi.
Tok!
Tok!
Tok!
"Alena!" panggil Nyona Giana sambil mengetuk pintu kamar Alena.
Alena yang sudah bangun sejak tadi sedang berada di dalam kamar mandi untuk melakukan ritual pagi sebelum berangkat ke sekolah.
Alena mengambil baju handuk dengan cepat, kemudian memakainya. Lalu, segera keluar dari kamar mandi dan mendekat ke arah pintu kamar yang sudah diketuk selama dua menit.
Klek!
Alena membuka pintu kamar, terlihat dari balik daun pintu Nyonya Giana dengan nampan berisi obat-obatan. Seperti biasa, setiap hari sang Momy akan datang ke kamar dan membawa obat-obatan, yang kini semakin banyak setelah kepulangannya dari Singapur.
Nyonya Giana lansung melenggos masuk ke dalam kamar Alena, meletakkan obat-obatan tersebut di dalam meja nakas. Ia sengaja meletakkan obat Alena di berbagai tempat. Ia hanya ingin waspada jika penyakit Alena kambuh ia bisa menemukan obat putrinya dengan cepat.
"Cepatlah, Sayang. Dady sudah ada di meja makan. Segera bersiap dan turun," ujar Nyonya Giana dengan mencubit gemas pipi Alena.
"Iya, Mom. Aku akan bersiap dengan cepat. Oh ya, Mom hari ini bolehkah aku pulang terlambat?" tanya Alena dengan sedikit ragu. Ia berharap sang Momy kali ini akan mengizinkan dirinya untuk pulang terlambat.
"Memangnya ada acara apa di sekolah?" jawab Nyonya Giana dengan melontarkan pertanyaan.
"Tidak ada acara apapun di sekolah tapi aku sudah buat janji dengan Vans."
"Janji?"
"Iya, kami membuat rencana untuk jalan-jalan sebentar sepulang sekolah. Aku mohon, Mom, izinkan aku. Aku juga butuh refreshing untuk kepalaku. Selama di Singapur kalian tidak membiarkanku untuk jalan-jalan. Jadi, sebagai gantinya biarkan aku jalan-jalan hari ini. Aku janji, aku akan membawa obatku dan meminumnya tepat waktu." Alena memutuskan ucapannya yang panjang dengan nafas yang menderu. Pasalnya, ia mengatakan hal itu dalam satu kali tarikan nafas tanpa koma atau spasi.
Alena meremas kedua tangannya satu sama lain. Hal yang selalu ia lakukan saat ia merasa cemas, khawatir dan juga gugup.
__ADS_1
Wajah Nyonya Giana berubah menjadi lebih serius. Ia menatap lekat pada wajah Alena yang terlihat memelas dan gugup. Bisa ia lihat sedikit ketakutan dan rasa cemas pada wajah cantik putrinya. Apa selama ini ia sudah salah membatasi aktivitas Alena? Tidak pernah ia sadari jika putrinya meminta izin dengan rasa takut. Ia sama sekali tidak bermaksud mengekang atau mengurung Alena. Ia hanya ingin terus mengawasi putrinya dan tidak membiarkan sesuatu terjadi pada Alena karena pasti hal itu akan membuat ia merasa seperti mati ribuan kali.
Nyonya Giana menyentuh bahu Alena, kemudian mendaratkan sebuah ciuman dalam penuh cinta dikening gadis itu. Nyonya Giana mengelus puncak kepala Alena, di mana rambut gadis itu masih basah.
"Momy izinkan tapi dengan satu syarat kamu tidak boleh sampai kecapean, mengerti!"
Seperti mendengar alunan melodi yang sangat indah dan menyentuh. Seketika wajah Alena berubah menjadi ceria dan semringah. Kedua bola mata gadis itu terlihat bersinar dengan senyum lebar seindah pelangi.
Alena sangat senang dengan hati yang berbunga-bunga. Rasanya taman bunga di hatinya yang selama ini layu kini bersemi kembali dan segar.
"Aku boleh pergi, Mom?" tanya Alena memastikan, ia masih tidak percaya jika sang Momy akan memberi izin padanya tanpa ada perdebatan atau drama kecil.
"Iya tapi jangan sampai lupa waktu. Jam lima sore kamu sudah harus ada di rumah," pesan Nyonya Giana dengan nada tak terbantahkan.
"Iya, aku janji jam lima sore aku sudah ada di rumah. Terimakasih, Mom sudah mengizinkan aku pergi dengan Vans." Alena lansung memeluk sang Momy dengan erat, bahkan gadis itu mendaratkan kecupan singkat di pipi Nyonya Giana.
"Sama-sama, cepatlah bersiap jangan terus memeluk dan mencium Momy seperti ini. Nanti, jika Dadymu lihat dia bisa cemburu," canda Nyonya Giana yang juga ikut merasa senang melihat kebahagian Alena. Ternyata, kebahagian Alena sangat sederhana. Hanya saja, ia tidak pernah menyadari kesederhanaan itu. Ia terlalu egois dengan terus membuat Alena berada di sisinya.
Momy mengerti sekarang. Sekeras apapun aku mencoba melawan takdir dan kehendak tuhan aku tidak akan pernah bisa. Alena adalah milik tuhan, dia lebih menyayangi putriku. Mulai sekarang, aku tidak akan menghalangi kebahagian putriku. Sudah cukup Alena terus merasa terkekang dengan semua keegoisanku. Batin Nyonya Giana dengan mengecup puncak kepala Alena, kemudian memilih keluar dari kamar putrinya.
"Aaaa!" pekik Alena dengan melompat-lompat kesenangan. Ia benar-benar sangat bahagia karena sang Momy mengizinkan ia pergi.
...----------------...
Vans mengayuh pedal sepedanya dengan cepat. Kali ini arahnya berbeda, seperti yang ia janjikan pada Alena kemarin malam jika ia akan menjemput gadis itu dan berangkat menggunakan sepeda.
Vans tersenyum lucu saat mengingat perkataan Alena yang tidak pernah naik sepeda. Sungguh sangat aneh tapi buka hal yang mustahil. Pagi ini, ia sengaja berangkat sangat pagi karena jarak rumah Alena cukup jauh dari sekolah. Namun, jarak itu tidak akan membuat ia memgurungkan niatnya. Pagi ini, ia akan membuktikan pada gadis dengan tompel dan kacamata itu, jika naik sepeda lebih menyenangkan dari pada naik mobil.
Bahkan, saking semangat dirinya menjemput Alena. Vans sampai melewatkan sarapan pagi. Namun, biarpun begitu tenaganya masih banyak untuk mengayuh sepeda meski harus mundur tiga komplek dari arah menuju sekolah.
Vans mengerem sepedanya, di mana bibirya tersenyum lebar. Akhirnya ia sampai juga di depan rumah Alena. Satpam yang melihat kedatangan Vans segera membuka gerbang dengan senyum ramahnya.
"Nak Vans, pagi-pagi udah ke sini. Ada keperluan apa? Pasti kangen sama Nona Alena," goda satpam dengan alis yang diturun naikkan.
"Aku mau jemput Alena, Pak. Alena belum berangkat kan?"
"Belum, Nak Vans. Masuk aja, Nona Alena mungkin sedang sarapan."
__ADS_1
Vans mengangguk dengan cepat, kemudian mengayuh sepedanya masuk ke dalam pekarangan rumah Alena. Namun, baru saja sepeda Vans berhenti pintu utama rumah tersebut terbuka, menampilkan Nyonya Giana, Tuan Surya dan Alena. Terlihat jika Alena akan berangkat diantar oleh Tuan Surya.
Nyonya Giana, Tuan Surya, dan Alena sedikit terkejut melihat kehadiran Vans sepagi ini. Terutama Alena yang paling terkejut di sini.
"Selamat pagi, Om, Tante, Alena," ujar Vans dengan menundukkan kepalanya memberi hormat pada kedua orang tua Alena.
"Selamat pagi, Vans," balas Tuan Surya dengan senyum ramah miliknya.
"Vans ada apa? Kenapa lo dateng ke rumah gue pagi-pagi begini?" cecar Alena dengan mendekat ke arah Vans. Ia menatap Vans dengan tatapan sedikit tidak suka.
Vans memutar kedua bola matanya malas mendengar pertanyaan Alena. Sepertinya, gadis ini sudah lupa dengan janjinya semalam.
"Gue udah bilang kan tadi malam kalau gue mau jemput lo. Kepala lo udah pikun ternyata," ejek Vans dengan mengacak rambut Alena.
"Issh, jangan diberantakin rambut gue," sungut Alena menatap Vans dengan mata melotot sembari merapikan kembali rambutnya. Entah mengapa, Vans selalu saja membuat tatanan rambutnya menjadi berantakan.
Vans menatap Tuan Surya dan Nyonya Giana yang tersenyum melihat aksi mereka. Ia sedikit gugup untuk meminta izin pada mereka jika ia ingin mengajak Alena berangkat bersama menggunakan sepeda. Rasanya orang sekaya Tuan Surya tidak akan mau melihat putrinya harus panas-panasan di jalan. Akan tetapi, ia akan tetap meminta izin.
"Om, pagi ini bolehkah Alena berangkat ke sekolah naik sepeda denganku?" tanya Vans dengan penuh harap jika Tuan Surya akan setuju.
Wajah Tuan Surya seketika berubah serius. Ia melirik ke arah sepeda lipat Vans yang terparkir di samping mobil mewah miliknya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
tips.
__ADS_1
Crazy UP nih tolong kasi tips dan vote ya