The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Tompel


__ADS_3

...13...


Alena berenang untuk segera menggapai tubuh Vans yang sudah mencapai dasar kolam. Yah, sosok bayangan yang dilihat oleh Vans sebelum hilang kesadaran adalah Alena.


Alena yang tidak bisa melihat penghinaan yang diterima oleh Vans langsung menceburkan tubuhnya ke dalam kolam untuk menyelamatkan Vans. Ketika semua orang diam dan hanya menyaksikan maut menghampiri Vans, ia memilih untuk menyelamatkan pria yang menjadi bulan-bulanan Justin si preman sekolah.


Alena meraih tubuh Vans dan memeluk tubuh yang sudah lemas itu. Dengan sekuat tenaga, Alena menarik tubuh Vans untuk segera naik ke permukaan, meski dinginnya air kolam membuat sendi-sendi Alena membeku. Namun, menyelamatkan nyawa Vans lebih penting dari pada sendi-sendinya yang menggigil kedinginan.


Sementara di tepi kolam, para murid terlihat tidak peduli dengan apa yang baru saja terjadi. Akan tetapi, mereka sedikit penasaran dengan sosok yang menggunakan hoddy yang menutupi seluruh wajahnya dan langsung masuk ke dalam air untuk membantu Vans.


"Jangan pedulikan mereka. Si culun sudah diselamatkan oleh penolongnya. Lebih baik kita melanjutkan pesta kita di lapangan depan. Tempat ini sudah dikontaminasi oleh Vans si culun sampah itu," ucap Justin dengan lantang memprovokasi semua murid yang langsung setuju.


Semua murid segera pergi meninggalkan tempat itu dan melanjutkan pesta di lapangan depan. Di hati mereka tidak ada sedikitpun rasa kasihan pada Vans. Seolah-olah barusan mereka hanya melihat semut kecil yang tenggelam sehingga tidak penting untuk di selamatkan.


"Huhhhhh." Alena meraup oksigen sebanyak-banyaknya saat ia akhirnya sampai di permukaan. Dada gadis itu terlihat naik turun dengan wajah memucat, serta bibir yang membiru karena kedinginan.


Alena menarik tubuh Vans untuk sampai ke tepian. Ternyata tubuh pria ini cukup berat, hal tersebut membuat Alena sedikit kesusahan dan mengeluarkan tenaga lebih.


Alena lebih dulu naik ke pinggir kolam, lalu menarik tubuh Vans sekuat tenaga untuk naik ke pinggir kolam.


"Aduhh, dia berat sekali, dia makan batu kali ya," rutuk Alena dengan tubuh yang langsung jatuh ke belakang. Akhirnya, tubuh Vans berhasil ia tarik.


Alena melonggarkan tali tudung hoddy yang sebelumnya ia eratkan agar para murid tidak mengenali dirinya saat ia masuk ke dalam kolam. Alena menarik tudung hoddynya hingga terlihatlah wajah cantik yang begitu mempesona tanpa tompel dan kaca mata.


Rambut basah Alena tergerai begitu indah dengan titikan air yang menitik ke lantai. Untung saja tempat ini sudah sepi. Sehingga, ia tidak perlu takut jika identitasnya akan terbongkar.

__ADS_1


Alena menatap tubuh Vans yang terbaring kaku. Alena menatap lekat wajah Vans tanpa kacamata besar yang selalu bertengger di hidung mancung pria itu. Ternyata tanpa kacamata, wajah Vans terlihat begitu tampan. Garis wajahnya memang tidak terlalu jelas. Namun, bentuk wajahnya hampir sempurna. Alis tebal, rahang yang cukup tegas, bibir merah, dan dagu yang lancip. Sungguh karya tuhan yang benar-benar indah. Hanya butuh sedikit polosan saja, maka pria yang sedang pingsan ini pasti akan sangat tampan, bahkan lebih tampan dari Justin.


Alena terhenyak tersadar dari lamunannya yang mengagumi wajah Vans. Alena menyentuh leher Vans, merasakan denyut nadi pria itu yang ternyata masih berdenyut.


Sepertinya dugaan Alena memang benar, Vans pingsan karena meminum air kolam terlalu banyak. Alena menumpuk kedua tangannya menjadi satu. Lalu, meletakkannya di tengah-tengah dada Vans, bersiap untuk melakukan CPR (Resusitasi Jantung Paru).


Alena menekan dada Vans dengan sisa-sisa tenaganya agar pria tersebut kembali bernafas dan air yang tertelan bisa keluar.


Satu kali, dua kali, hasil masih tetap sama. Tidak ada perubahan. Vans masih setia terlelap tanpa bernafas. Alena mulai panik dan cemas. Pria di depannya tidak kunjung membuka mata. Alena kembali memeriksa denyut nadi Vans dengan tangannya yang sudah keriput dan bergetar.


"Dia masih hidup," lirih Alena kembali melakukan CPR pada Vans. Namun, lagi-lagi ia harus menerima kegagalan.


"Tidak berhasil, apa yang harus aku lakukan?" gumam Alena bertanya pada dirinya sendiri. Ia memikirkan sesuatu untuk bisa mengeluarkan air yang sempat ditelan Vans.


Alena menggelengkan kepalanya cepat. Saat kepalanya memikirkan jika ia harus memberikan nafas buatan pada Vans.


"Astaga, haruskah aku melakukannya?" tanya Alena mendengus. Sepertinya memang tidak ada jalan lain, CPR yang ia lakukan tidak berhasil maka jalan satu-satunya adalah memberi nafas buatan.


Lagi pula ini untuk menyelamatkan orang lain, bukan untuk mengambil kesempatan. Alena menjepit hidung Vans dengan kedua jarinya. Lalu, perlahan tapi pasti wajah cantik gadis itu mendekati wajah Vans. Hingga akhirnya bibir kenyal Alena menempel di bibir Vans dengan sempurna. Tubuh Alena merasa di setrum oleh aliran listrik saat bibirnya menyentuh bibir seorang pria. Ada gelenyar rasa yang aneh dan begitu asing. Ternyata seperti ini rasa bibir seorang pria, pikir Alena yang langsung memberikan nafas buatan pada Vans.


"Uhuk ... Uhuk ...." Seketika Vans terbatuk dan air keluar dari mulutnya. Alena segera menjauhkan wajahnya dari Vans. Ia merasa sangat lega karena akhirnya Vans tersadar kembali.


Vans mengusap bibirnya, dan menoleh ke arah Alena. Kedua matanya menyipit dengan pandangan yang sedikit buram, tetapi Vans tidak salah mengenali gadis di depannya itu adalah Alena. Namun, ada sesuatu yang berbeda, tidak ada lagi tompel besar di wajah gadis di depannya. Bahkan, wajah gadis tersebut terlihat sangat cantik.


"Di mana tompelmu?" tanya Vans dengan suara tercekat, sembari telunjuknya menunjuk wajah Alena dengan lemah.

__ADS_1


Menyadari tompel serta kacamatanya terlepas, Alena seketika menjadi gelagapan. Ia menyentuh pipi kirinya, dan benar saja benda hitam itu sudah tidak tertempel di pipinya. Mungkin, terlepas saat ia menyelamatkan Vans.


"Uhuk ... Uhukk ...." Vans kembali terbatuk karena dadanya yang terasa sesak. Sehingga wajahnya berpaling ke samping.


Vans mengusap wajahnya menyingkirkan tetesan air yang menghalangi pandangannya. Ia pikir ia akan mati tenggelam. Akan tetapi, tuhan sepertinya masih menyayangi dirinya.


"Lo baik-baik aja kan?" tanya Alena memastikan kondisi Vans.


Vans menatap Alena. Kedua matanya langsung menyipit dengan kening berkerut dalam. Wajah gadis di depannya kembali berubah. Tompel besar berwarna hitam kembali melekat dengan sempurna di pipi kiri gadis itu. Perasaan tadi, ia melihat wajah gadis itu mulus tanpa tompel. Apa ia salah lihat?


"Tompel," desis Vans dengan menunjuk tompel Alena. Pandangan Vans semakin kabur dan seketika menjadi gelap. Kesadarannya kembali hilang sepenuhnya.


Alena menghembuskan nafasnya lega. Untung ia melihat tompel palsunya yang mengambang di kolam. Ia segera mengambilnya saat Vans memalingkan wajahnya karena batuk. Setidaknya ia berhasil mengelabui pria ini. Akan tetapi, pria ini sangat merepotkan karena pingsan lagi.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komen


gift

__ADS_1


vote


__ADS_2