The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Berubah 180°


__ADS_3

...44...


Wajah Vans tidak lagi murung ataupun kesal. Wajahnya terlihat sangat semringah dan bahagia. Ia sangat senang karena tidak perlu memakai kacamata lagi.


Alena memilihkan beberapa baju yang menurutnya sangat cocok untuk Vans. Sejak tadi, gadis itu sangat sibuk dan sering mengacuhkan Vans yang hanya mengekor di belakangnya dengan beberapa paperbag di tangan pria itu.


Setelah selesai memilih baju, Alena bergegas menuju toko sepatu dan juga aksesoris, membeli barang-barang pendukung untuk penampilan Vans. Jangan ditanya, Alena begitu pintar memilih dan memilah barang-barang fashion untuk Vans, dan hal itu berhasil mengundang rasa curiga Vans.


Alena sangat tahu tentang fashion tapi kenapa dia berpenampilan seperti ini. Rasanya sangat tidak mungkin seorang gadis cupu dan culun bisa memilih pakaian styles seperti ini. Apa Alena sengaja berpenampilan seperti ini? Batin Vans sambil menatap Alena yang masih sibuk memilih model jam tangan pria.


"Alena!" panggil Vans dengan menepuk bahu gadis di depannya.


"Hmm," jawab Alena dengan deheman tanpa menoleh ke arah Vans. Ia masih sibuk memilih jam yang akan terlihat keren di pergelangan tangan Vans.


"Lo kok jago banget soal fashion gini. Rasanya aneh deh dengan penampilan lo yang kayak gini, lo tahu banget tentang fashion. Jangan-jangan lo sengaja ya berpenampilan kayak gini?"


"Uhukk." Alena lansung batuk karena tersedak oleh air liurnya sendiri mendengar pertanyaan Vans yang seolah-olah sedang membongkar identitas dirinya. Alena menelan bulat-bulat air liurnya paksa. Rasanya ada yang menjanggal di kerongkongannya. Rasa gugup dengan cepat merayap menyerang Alena. Hal itu terlihat dari tangan gadis itu yang meremas kuat jahitan rok seragamnya sendiri


Klep!


Vans menjentikkan jarinya di depan wajah Alena yang malah diam dengan buliran keringat yang mulai terbentuk di pelipis gadis itu. Padahal, pendingin ruangan di mall ini sangat banyak dan cukup dingin, tetapi gadis di depannya ini malah berkeringat.


"Kenapa lo diam? Tebakan gue bener?" cecar Vans dengan menatap Alena dengan tatapan menyelidik.


Huhh, aku khawatir tanpa alasan. Vans hanya menebak. Artinya dia tidak tahu apapun tentang diriku. Batin Alena mengontrol dan menyingkirkan rasa gugup pada dirinya.


"Ya ngak lah, gue milih-milihnya sesuai insting aja lah. Gue ngak tahu soal fashion kayak gini. Gue cuma ambil yang menurut gue sesuai dan cocok sama lo," kilah Alena dengan menekan kacamata yang bertengger di hidungnya. Lalu, segera menoleh membuang wajah agar Vans tidak melihat kegugupan di wajahnya.


Vans mengangguk kecil dengan tangan mengelus dagunya yang tanpa jenggot. Rasanya ia sedikit tidak percaya. Namun, alasan Alena cukup masuk akal dan tidak terbantahkan.


Alena segera memilih asal sebuah jam dengan warna hitam. Namun, terkesan mewah dan Manly. Sepertinya sudah cukup sesi belanja karena ia tidak ingin membuat Vans kecewa. Ternyata, Vans cukup peka dan pintar untuk membaca gerak-gerik dirinya. Ia juga merasa tidak aman lagi jika terus melanjutkan untuk berbelanja.

__ADS_1


"Sekarang kita tinggal ke ruang ganti!" seru Alena memberi instruksi dan berjalan dengan Vans yang segera mengekor di belakangnya.


"Untuk apa ke ruang ganti?" tanya Vans polos dengan menyamakan langkah kakinya dengan Alena.


"Mau buang air besar," jawab Alena absurd.


"Ya, mau ganti baju lah!" serunya lagi dengan nada sedikit ngegas.


"Oke." Kali ini Vans menurut dan tidak banyak protes. Ia tida ingin Alena menjadi kesal meskipun ia sangat senang melihat wajah gadis itu meemgembung seperti ikan buntal.


"Ayo masuk, dan ganti pakaianmu dengan ini. Jangan banyak protes dan lakukan apa yang aku katakan!" seru Alena dengan perintah mutlak. Ia bahkan membungkam mulut Vans sebelum pria itu sempat membeo dan membuat ia pusing.


Alena segera mendorong tubuh Vans masuk ke dalam ruang ganti dengan paksa, dan menyerahkan baju yang sudah ia pilihkan untuk pria itu.


Lima menit berlalu, pintu ruang ganti tersebut terbuka dengan perlahan. Alena berbalik dengan cepat. Dari balik daun pintu terlihat Vans keluar dengan penampilan yang sangat berbeda. Kaos casual dan jelang jins dengan rantai di saku, kemudian sepatu kats berwarna putih polos serta jam tangan mewah terpasang di pergelangan tangannya.


Tatapan Alena menatap lurus pada pria dengan penampilan yang berubah 180° dari penampilan biasanya. Alena merasa tersihir dengan ketampanan Vans yang benar-benar menguar dengan sangat kuat. Vans benar-benar sangat berbeda dan terlihat sangat luar biasa.


"Perpect," lirih Alena tanpa berkedip. Ia menarik tangan Vans tanpa mengalihkan tatapannya sedikit pun dari pria yang ada di depannya. Alena menggiring Vans pada sebuah cermin yang tersedia di depan ruang ganti tersebut.


Ketika pandangan Vans melihat pantulan pria dengan gaya yang sangat berbeda. Ia membatu di tempat, ia tidak percaya jika yang sekarang berdiri di depan cermin adalah dirinya. Ia terlihat begitu keren dan tampan. Bahkan, lebih tampan dari Vihan kakaknya sendiri.


Penampilan sederhana dan terkesan culun, kini berganti dengan penampilan yang begitu kekinian. Ia berpenampilan seperti murid-murid lainnya, dan satu lagi, di wajahnya tidak ada lagi kacamata besar yang selalu bertengger di hidungnya.


Alena yang melihat keterkejutan Vans mengulum senyum. Misinya berhasil, lihat saja setelah ini Raline pasti akan menempel pada Vans karena tidak ada murid pria yang lebih tampan dari Vans. Dari batu biasa kini berubah menjadi batu berlian.


"Apa itu gue?" tanya Vans yang masih tidak percaya sembari menunjuk pada pantulan dirinya di cermin.


"Iya, itu lo. Bagaimana? Ide gue benar-benar brilian kan?" ucap Alena dengan bangga.


"Sumpah, gue keliatan beda banget. Kayak bukan Vans yang sederhana dan polos. Gue terlihat sangat keren dan macco. Gila sih," ujar Vans dengan menelisik setiap inci tubuhnya, sesekali memiringkan tubuhnya ke kiri dan ke kanan.

__ADS_1


"Mulai sekarang, lo harus berpenampilan kayak gini. Di jamin si Raline pasti akan klepek-klepek sama lo."


"Tapi gue ngak PD." Wajah Vans tertekuk dalam.


"Lo jangan pesimis gitu donk. Kalau lo pesimis, Raline ngak bakal jatuh cinta sama lo. Lo harus jadi pria yang cool, macco, dan keren biar Raline suka sama lo." Alena menyakinkan Vans agar percaya dan yakin jika Raline akan jatuh cinta padanya.


Vans menatap Alena dengan tatapan sendu. Gadis di hadapannya benar-benar mengubah dirinya, dari seorang pelayan menjadi seorang pangeran. Demi membantu dirinya, Alena melakukan ini semua. Ia sangat bersyukur mempunyai teman seperti Alena.


Srakk


Vans meraih tubuh Alena dan menarik tubuh gadis itu dalam pelukannya. Hal itu membuat Alena tersentak kaget dengan jantung yang mulai berdetak kencang lagi.


Deg!


Deg!


Deg!


...----------------...


...****************...


jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2