
...62...
"Oh ya, Vans. Gue pulang sama lo ya, mobil gue dipinjem sama temen-temen gue. Boleh kan?" Raline memasang wajah memelas dan penuh harap.
Vans yang mendengar permintaan Raline merasa bimbang. Ia sudah berjanji pada Alena untuk mengantar gadis itu pulang. Namun, gadis pujaannya juga meminta untuk diantar pulang.
"Maaf, Ral tapi gu---"
"Boleh kok," selosor Alena dengan cepat sehingga memotong ucapan Vans.
"Ye ... Makasih ya." Raline segera masuk ke dalam mobil begitu saja. Sedangkan di luar Vans menatap Alena dengan kening yang berkerut.
"Len, lo apa-apaan sih? Gue kan mau anterin lo pulang. Gue ngak bisa nganterin Raline," protes Vans pada apa yang dilakukan oleh Alena.
"Yah, gue ngelakuin yang emang harus gue lakuin. Lo kan suka sama Raline, dengan nganterin dia pulang lo bisa makin deket dan ngedapetin hatinya. Udah, jangan pikirin gue. Gue bisa telpon supir gue buat jemput. Sekarang mending lo masuk, kasian tuh pujaan hati lo nungguin," bujuk Alena dengan wajah antusias. Yah, memang itulah tujuannya menyanggupi keinginan Raline walaupun sebenarnya ia ingin mengatakan hal yang sebaliknya. Namun, selain hal itu lebih baik karena dengan begini ia menyadari posisi dan tempatnya.
Vans menghela nafas pasrah. Alena benar-benar sahabat yang sangat baik. Gadis itu selalu membuat peluang untuk dirinya agar bisa dekat dengan Raline.
"Baiklah, gue akan di sini sampai supir lo datang," putus Vans.
"Tidak perlu, dia akan segera datang. Pergilah, manfaatkan waktu kalian berdua." Alena menepuk bahu Vans tiga kali. Memberikan semangat dan dukungan pada Vans meskipun hatinya sedang menangis darah.
"Oke, Buko bawel tapi sampai rumah telpon gue ya."
"Siap." Tidak ingin rapuh dengan kesedihan yang terlihat diwajahnya. Alena memilih berlari menuju kursi panjang yang disediakan di pojok parkiran. Meninggalkan Vans yang menatap dirinya hingga ia duduk.
Alena menoleh ke arah Vans sambil melambaikan tangan. Berharap pria itu segera pergi dari sana karena ia sudah tidak sanggup lagi melihat kebersamaan Vans dengan Raline.
__ADS_1
Sepertinya harapan Alena di dengarkan oleh tuhan. Setelah Vans melihat Alena duduk dengan manis. Ia pun masuk ke dalam mobil dan menggiring benda besi itu keluar dari parkiran.
Alena memilih membuang wajah saat mobil Vans pergi. Detik itu juga, buliran bening yang sejak tadi di tahan dan dibendung tumpah tanpa hambatan. Hatinya terasa diremukkan dengan begitu kuat hingga menimbulkan rasa sesak yang memenuhi rongga dada. Kerongkongannya terasa tercekat, seolah ada sebuah batu besar yang mengganjal. Rasa sakit yang membuat seluruh tubunya bergetar. Ia mencengkram dengan kuat ujung bangku yang saat ini ia duduki. Melampiaskan rasa sakit karena perasaan yang tak dapat ia utarakan.
Kenapa rasa yang tak terbalaskan ini harus hadir di hatinya? Sejak kapan dan bagaimana? Ia pun tak tahu jawabannya. Ia ingin menghilangkan rasa cinta ini. Namun, semua itu tak semudah dugaannya. Bukannya menghilang rasa cinta di hatinya malah semakin tumbuh dengan subur.
Apa ia harus mengatakan perasaanya ini pada Vans? Tidak, ia malu karena ia tahu jika Vans mencintai Raline. Ia tidak ingin kehilangan teman seperti Vans. Ia tidak mau kesepian lagi seperti dulu.
Larut dalam rasa perih dan sakit yang tak kunjung hilang. Tanpa Alena sadari, cairan merah dan amis tiba-tiba keluar dari kedua lubang hidungnya. Bersamaan dengan penglihatannya yang kabur dan menjadi buram di iringi dengan kepala yang berdenyut sakit.
Alena mengerjapkan kedua matanya sambil memegang kepalanya. Rasa sakit yang sangat sakit menjalar dengan begitu cepat di dalam tubuhnya. Bahkan, seluruh bulu roma Alena berdiri tegak.
"Aaa, kenapa kepalaku tiba-tiba sakit?" lirih Alena yang berniat untuk berdiri. Namun, ambruk seketika bersamaan denga pandangannya yang berubah menjadi gelap.
...----------------...
Situasi canggung begitu terasa di dalam mobil yang tengah dikemudikan oleh Vans. Buliran keringat berbentuk dengan cepat pada pelipis pemuda tersebut yang tengah tegang karena satu mobil dengan gadis yang disukai. Padahal, AC mobil menyala dengan suhu yang cukup dingin.
Hal ini baru pertama kali terjadi padanya. Biasanya ia akan cepat berbaur dengan pria yang menjadi mangsanya. Namun, saat berada di dekat Vans jantungnya tiba-tiba berdetak dengan dua kali lebih cepat. Belum lagi rasa berbunga-bunga di hatinya saat ia masuk ke dalam mobil. Perlahan tapi pasti Raline menyentuh dada kirinya, di mana tempat jantung bersarang.
Sepertinya aku sudah jatuh cinta pada Vans. Aku tidak pernah merasakan perasaan bahagia ini saat bersama pria lain. Namun, saat bersama Vans hatiku terasa bahagia. Batin Raline dengan senyum yang mengembang dengan indah di bibirnya. Wajah cantik dengan pipi putih bersih itu merona seperti buah cery yang sedang matang. Vans yang melihat wajah Alena yang memerah lewat kaca spion depan menjadi khawatir karena mengira gadis itu sedang sakit.
"Ral, lo sakit?" tanya Vans memecah keheningan dan kecanggungan di antara mereka. Raline tersentak karena cukup kaget. Ia menoleh ke arah Vans yang melirik ke arahnya sekilas, kemudian fokus kembali melihat jalanan.
"Tidak, aku tidak sakit," sangkal Raline dengan wajah kebingungan. Pasalnya, kenapa Vans mengira ia sakit. Ia baik-baik saja, hanya saja jantung dan hatinya yang sudah dicuri.
"Tapi itu wajah kamu merah loh."
__ADS_1
"Masak sih?" Raline menyentuh wajahnya sendiri.
Vans menepikan mobilnya pada jalanan yang cukup sepi, dan juga tidak ada larangan untuk parkir. Dengan tangan sedikit gemetar Vans menyentuh kening Raline untuk memastikan gadis itu tidak demam.
"Iya, tidak panas tapi wajah lo merah banget. Gue pikir lo demam," hembus Vans lega saat merasakan suhu tubuh Raline yang normal.
"Ngak kok, mungkin karena cuaca yang terik di luar berimbas sama kulit wajah gue. Apa gue keliatan jelek ya dengan pipi yang merah," ucap Raline dengan sedih.
"Ngak kok, lo tetep cantik. Cantik banget malahan," ujar Vans dengan cepat saat melihat wajah Raline berubah sedih. Vans menggigit bibir bawahnya saat menyadari kalimat yang barusan ia katakan. Ia menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal untuk menutupi rasa malu karena sudah memuji Raline.
Sementara wajah Raline semakin memerah karena pujian Vans. Tatapannya terpaku pada Vans yang terlihat salah tingkah, dan saat Vans tidak sengaja menoleh ke arahnya. Tatapan mereka seketika bertaut. Di mana aksi tatap-tatapan terjadi begitu saja. Keduanya larut dalam pesona wajah yang disuguhkan. Kedua mata mereka tak bisa berkedip sekalipun. Tatapan satu sama lainnya sungguh sangat menghanyutkan. Bola mata indah Raline yang begitu memikat membuat Vans betah berlama-lama untuk memandanginya. Begitu pula dengan Raline yang sangat mendamba wajah Vans yang semakin terlihat tampan dalam posisi sedekat ini.
Perlahan, wajah Raline bergerak maju sedikit demi sedikit, mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Vans. Entah keberanian itu ia dapatkan dari mana? Ia pun tak tahu.
Wajah Raline semakin dekat dengan wajah Vans. Hanya tinggal satu centimeter lagi maka kedua bibir mereka akan menyatu. Namun, tiba-tiba wajah bertompel Alena yang sedang tertawa ringan membentur ingatan Vans, hingga Vans menarik wajahnya dengan cepat.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
__ADS_1
vote
tips