The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Pulang


__ADS_3

...19...


Airport Kota W


Seorang gadis cantik duduk di atas kursi roda dengan wajah sayu yang terlihat pucat keluar dari pintu utama Airport. Tubuh yang dibalut dengan switer hangat berwarna ungu muda serta syal yang melilit di lehernya. Gadis itu adalah Alena, ia sudah kembali dari pengobatannya di Singapura.


Di belakang, Tuan Surya mendorong kursi roda sang putri dengan perlahan. Sementara Nyonya Giana menggeret dua buah koper dengan ukuran yang cukup besar.


Alena mengulum senyum di bibirnya. Akhirnya, ia kembali ke kota yang menjadi rumahnya. Tinggal di Singapur membuat ia sangat bosan karena ia pergi ke negara itu untuk berobat, bukan untuk liburan.


Alena sangat merindukan semua aktivitasnya, merindukan les ballet, serta kegiatan sekolah yang monoton.


Sebuah mobil berhenti di depan mereka. Seorang pria berumur 40 tahun keluar dari mobil. Pria itu adalah salah satu supir di kediaman Pradipta.


"Selamat datang, Tuan, Nyonya, Nona," sapa supir itu dengan ramah yang langsung direspon dengan senyuman.


Tanpa menunggu aba-aba, sang supir segera mengambil alih dua koper yang digeret Nyonya Giana, lalu memasukkan dua benda tersebut ke dalam bagasi.


Nyonya Giana segera membukakan pintu mobil untuk putrinya. Di mana Tuan Surya memapah tubuh Alena untuk masuk ke dalam mobil. Alena tersenyum getir, ia begitu tidak berdaya sampai harus dipapah oleh orang lain.


Nyonya Giana dan Tuan Surya pun masuk ke dalam mobil, begitu pula dengan sang supir yang langsung tancap gas mengemudikan mobil tersebut menuju kediaman Pradipta.


Alena memandang keluar jendela mobil, melihat pemandangan pinggir jalan yang menjadi kesukaannya. Perasaanya menjadi lebih rileks dan ringan melihat pemandangan pinggir jalan. Terlihat banyak pejalan kaki dan pengendara yang berlalu lalang, dan juga beberapa anak kecil yang berjalan bersama teman-teman sebayanya yang saling melontarkan candaan.


"Lena, kamu sudah melewati semuanya dengan berani, sayang," ujar Nyonya Giana sembari mengelus kepala Alena.


"Ini semua berkat dukungan Momy, dan Dady. Aku ingin tahu, bagaimana hasil laporan pengobatanku? Mom," tanya Alena yang memang sangat penasaran. Semenjak keluar dari rumah sakit, kedua orang tuanya seperti bungkam dan selalu mengalihkan topik pembicaraan jika ia bertanya akan hal itu. Ia sempat menebak jika pengobatan ini juga pasti gagal. Namun, entah dari mana sedikit harapan merasuk ke dalam dirinya.


Nyonya Giana melempar pandanganya ke arah spion depan, di mana tatapannya bertemu dengan Tuan Surya. Ia tidak tahu, bagaimana cara untuk mengatakan pada Alena jika kali ini pengobatannya gagal. Ia tidak sanggup melihat kesedihan putrinya, meski Alena selalu menyembunyikan hal itu.


Tuan Surya yang berada di kursi depan menoleh ke belakang dengan wajah semringah.


"Tentu saja berhasil, sayang!" seru Tuan Surya menjawab pertanyaan Alena.


"Apa?" Alena membelalakkan kedua matanya dengan bibir terbuka. Apa ia tidak salah dengar?

__ADS_1


"Iya, pengobatanmu berhasil, sayang. Jadi, kamu harus percaya jika penyakitmu itu bisa di sembuhkan. Kita harus menjalani beberapa pengobatan lagi, kamu tidak keberatan kan?"


"Sel kanker dalam tubuhku akan hilang? Dad," ulang Alena yang masih tidak percaya. Ia benar-benar sangat bahagia. Akhirnya pengobatan yang ia jalani membuahkan hasil. Itu artinya, ia masih memiliki harapan untuk hidup.


"Iya, apa Dady harus berteriak untuk mengatakan hal itu?"


Alena langsung menghambur memeluk Tuan Surya. Ia sangat senang mendengar hal itu. Sedangkan Nyonya Giana membuang wajahnya ke samping. Air mata sudah mengalir dengan deras dari kedua matanya. Alena begitu bahagia mendengar penyakitnya telah hilang, tapi semua itu hanyalah kebohongan. Faktanya penyakit ganas itu masih menggerogoti tubuh putri kecilnya.


"Makanya, kalau kamu di suruh berobat kamu harus mau. Jangan membantah Momy dan Dady," pesan Tuan Surya mengontrol suaranya, sembari membalas pelukan bahagia Alena. Ia terpaksa berbohong untuk membuat Alena memiliki keinginan untuk hidup. Jika ia mengatakan hasil laporan sebenarnya, Alena pasti sedih dan kehilangan semangat.


"Iya, Dad. Alena akan patuh dengan perkataan Dady, dan Momy. Lena ingin sembuh, kalau Lena sembuh Lena bisa kuliah kan Dad?"


"Tentu, sayang. Dady akan memenuhi semua impianmu."


"Benarkah?"


"Iya."


...----------------...


Di rumah, ia harus kena semprotan kemarahan sang ibu karena tidak berhasil mengundang Alena untuk makan malam. Ia sudah memberikan pengertian pada sang ibu tapi bukannya malah mengerti malah ia yang disalahkan, dan di tuduh tidak mau mengajak Alena.


Vans mengerutkan dahinya. Ia sedang memikirkan sesuatu untuk bisa bertemu dengan Alena, dan jawaban yang terlintas di pikirannya adalah ia harus pergi ke rumah gadis itu.


"Aku harus ke rumahnya. Sepertinya, dia memang pindah sekolah. Aku tidak mau jadi bulan-bulanan omelan Momy karena tidak berhasil mengundangnya makan malam. Kali ini aku tidak akan gagal," gumam Vans segera beranjak dari duduknya.


Vans berjalan menyusuri lorong menuju ruang administrasi sekolah. Yah, tentu saja untuk menanyakan alamat gadis itu. Kali ini, ia tidak akan melepaskan Alena.


Drrt!


Drrt!


Getaran ponsel di saku baju Vans membuat langkah pria itu terhenti. Ia segera merogoh ponselnya, dan seperti biasa, itu adalah list pesanan makanan dari Raline sang gadis pujaan hati.


Vans menghembuskan nafasnya kasar. Ia menatap ruang administrasi yang hanya berjarak lima meter dari tempatnya berdiri. Jika ia pergi untuk membeli makanan untuk Raline, entah kapan ia memiliki kesempatan lagi untuk menanyakan alamat Alena. Raline pasti akan memberikannya setumpuk tugas yang harus ia kerjakan dan dikembalikan setelah pulang sekolah.

__ADS_1


Drrt!


Satu pesan dari Raline kembali masuk.


'Cepatan, gue udah lapar culun!' Bunyi pesan Raline dengan emoji marah di akhir kalimat. Vans mematikan ponselnya dan memasukkan benda pipih itu kembali. Ia memantapkan langkahnya menuju ruang administrasi. Untuk pertama kali, ia mengabaikan panggilan Raline.


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" seru suara wanita dari dalam ruangan setelah diketuk. Vans membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat wanita dengan wajah judes dan galak tengah duduk dengan buku besar di depannya.


Vans berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. Wanita yang tak lain adalah Bu Anggrek mantan wali kelas XA. Bu Anggrek menatap Vans dengan tatapan meneliti. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Bu Anggrek dengan nada terkesan sinis.


Vans mengangkat wajahnya dengan takut-takut. Sungguh atmosfer di sekitarnya terasa menjadi sangat berat saat berhadapan dengan guru wanita yang terkesan killer.


"Saya, ingin bertanya di mana alamat rumah Alena? Bu," jawab Vans memberanikan diri.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2