
...8...
Vans berjalan dengan wajah tertekuk dalam. Apa yang harus ia katakan pada gadis pujaannya kalau ia belum berhasil menyelesaikan tugas Reline. Ia tidak sanggup jika Reline sampai marah dan menjauhi dirinya. Dengan sangat susah payah, ia berhasil mendekati Relin meskipun hanya sedikit dan harus menuruti semua perintah dari gadis cantik itu.
Drrt!
Gerataran ponsel di saku Vans, membuat pria berkacamata itu segera merogoh ponselnya. Ia melihat satu pesan masuk dari kontak Reline. Sontak hal itu membuat bibir Vans mengembang tersenyum dengan sempurna.
Vans langsung membaca pesan dari Reline. Tertulis di sana jika gadis itu meminta Vans membelikan roti dan minuman, lalu meminta Vans untuk mengantarkan pesanannya ke kelas seperti biasa.
Bukannya merasa kecewa dan marah karena diperintah, malah Vans menunjukkan ekspresi yang sebaliknya. Perintah Reline seperti panggilan rindu baginya. Seperti saat ini Reline sedang memanggil dirinya untuk datang.
"Huhhh, kamu memang bidadariku yang paling cantik. Dengan senang hati aku akan memenuhi panggilan rindumu," gumam Vans bermonolog pada dirinya sendiri dengan semangat yang membuncah tinggi.
.
Setelah selesai membeli pesanan sang pujaan hati. Vans segera pergi menuju kelas XB. Senyumnya tidak pernah luntur dari bibirnya. Sesekali ia memperbaiki kacamata yang sedikit miring karena seringnya ia tersenyum.
__ADS_1
"Aku yakin, aku pasti bisa membuat Reline jatuh cinta padaku. Kami semakin dekat setiap harinya, dan aku yakin Reline juga memiliki perasaan yang sama."
Vans akhirnya sampai di depan pintu kelas XB. Tidak ingin membuang waktu, Vans segera masuk dengan kedua tangannya membawa roti dan juga minuman.
Terlihat di pojok kelas, Reline sedang duduk bersama tiga orang teman perempuannya. Mereka terlihat asik bercengkrama satu sama lain. Mereka tertawa dengan lepas, melempar guyonan dan candaan yang menggelitik perut.
Langkah kaki Vans berhenti seketika. Untuk sejenak ia terpesona melihat senyum dan tawa Reline yang terlihat sangat indah. Wajah tirus dengan mata besar, serta bibir mungil yang berwarna merah benar-benar membuat Vans terpaku di tempat tidak bisa bergerak.
Seakan-akan tubuhnya dipaku di tempat. Dengan desiran darah yang mengalir dengan deras. Senyum dan tawa Reline seperti menghipnotis dirinya. Bibir Vans menganga dengan air liur yang hampir jatuh.
Bruk!
"Eh, culun kalau lo mau berdiri jangan di sini. Lo ngak liat ini pintu buat orang masuk!" sentak murid kelas tersebut dengan mata melotot dan berkacak pinggang.
"Maaf, gue ngak sengaja. Sorry-sorry gue janji ngak bakal berdiri deket pintu lagi," pinta Vans meminta maaf dengan wajah memelas.
"Hah, ck dahlah, males gue ngomong sama cowok culun kayak lo." Murid tersebut tanpa dosa menabrak bahu Vans dengan keras. Padahal di sini dia yang bersalah karena masuk kelas dengan berlari terburu-buru. Namun, bukannya minta maaf, murid tersebut malah menyalahkan Vans.
__ADS_1
Sedangkan Vans, hanya bisa menerima hal tersebut dengan hati yang sedih. Ia sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membalas semua orang yang membuli dirinya.
"Vans!" panggil Reline yang, yang langsung membuat Vans berlari ke arahnya.
"Hai, Reline." Vans tersenyum manis pada Reline, tapi dibalas oleh senyum kecut dari Reline.
"Lama banget bawain pesanan gue," sinis Reline dengan mencebikkan bibirnya. Jujur, ia jijik dekat-dekat dengan laki-laki culun seperti Vans. Tipe pria yang menjadi pacarnya sangatlah tinggi, pacar impiannya harus tampan, keren, berkuasa, populer, dan juga tidak lemah. Semua hal itu tidak ada dalam diri Vans. Ia hanya memanfaatkan perasaan pria culun itu untuk menjadi budaknya. Di mana ia bisa memerintah sesuka hatinya dan ia tidak perlu pusing-pusing mengerjakan tugas karena ada Vans yang akan mengerjakan tugasnya.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
__ADS_1
gift
vote