
...53...
Bugh
"Auuuu!" pekik Alena. Ia menyentuh pelipisnya dan terlihat bercak cairan merah di jari-jari tangannya.
"Astaga, aku berdarah," lirih Alena dengan air mata yang hampir tumpah. Alena menggelengkan kepalanya cepat. Saat ini bukan saatnya ia memperdulikan luka yang ada di pelipisnya, yang lebih penting sekarang adalah ia harus membantu Vans. Ia tidak bisa melihat Vans dalam kesulitan. Apalagi, Vans selalu membantu dan melindungi dirinya.
Alena menyeruak pada kerumunan terakhir. Akhirnya, ia berhasil melewati gerombolan kerumunan itu. Alena melangkah dengan cepat dan hendak menarik tangan Vans dari bagian samping pria itu. Namun, tangan Alena berhenti udara. Saat tatapannya melihat tangan Vans digandeng oleh tangan gadis, yang tak lain dan tak bukan adalah Raline.
Krak!
Hati Alena lansung pecah berkeping-keping dengan rasa panas yang membakar hatinya. Bibir Alena bergetar dengan tatapan yang tak pernah lepas dari tangan pria yang dicintainya yang tengah digandeng oleh gadis lain.
Seperti ada benda keras yang menghantam dadanya dengan sangat keras. Ia merasa sangat sesak dengan kedua mata yang memanas. Hatinya terasa dihimpit dan diremukkan dengan sangat kejam.
Satu buliran bening meluncur dengan bebas dari sudut mata Alena saat Vans dan Raline berjalan menjauh membelah kerumunan di depan mereka. Vans tersenyum senang dengan tatapan yang tertuju pada Raline. Bahkan, pria itu tidak berkedip sedikitpun.
Alena menghapus air matanya dengan cepat. Hatinya benar-benar sangat sakit dengan kecemburuan yang berkumpul di sana. Ingin sekali rasanya ia melepas gandengan tangan itu. Namun, ia tidak memiliki keberanian untuk melakukan hal itu.
Vans dan Raline berjalan beriringan. Keduanya terlihat seperti pangeran dan putri yang begitu serasi. Yang satu tampan, dan yang satu lagi cantik. Sungguh pasangan yang begitu serasi.
Raline menatap pria tampan di sampingnya dengan tatapan terpesona. Dalam satu kali pandang, ia jatuh dalam pesona pria yang sangat keren dan juga styles. Bahkan, lebih tampan dari Justin.
Raline tidak tahu, jika pria yang sedang digandengnya adalah Vans. Pria yang selalu dia hina dan diperbudak. Saat melihat pria tampan itu yang sedang kesusahan. Ia segera mengambil alih menjadi pahlawan dan menyelamatkan pria itu dari kerumunan.
__ADS_1
Sementara Vans sejak tadi terus saja tersenyum dengan lebar. Di mana hatinya tengah berbunga-bunga karena saat ini tangannya di gandeng begitu mesra oleh Raline. Ia tidak percaya jika Raline akan mengatakan pada semua murid perempuan untuk tidak mengganggu dirinya.
Astaga, aku benar-benar berada sedekat ini dengan bidadari cantik. Rasanya ini seperti mimpi. Batin Vans tanpa mengalihkan pandangannya dari Raline yang memasang wajah sangar sepanjang perjalanan. Seolah-olah menjelaskan jika pria yang berada di sampingnya adalah miliknya.
Tidak terlintas sedikitpun di benak Vans, untuk menoleh ke bekalang. Di mana ada tatapan penuh luka dan cemburu dari dua pasang mata indah yang terus memperhatikan dirinya.
Dunia Vans begitu bahagia hingga ia tidak menyadari kehadiran Alena, yang masih mematung dengan bahu yang terus di tubruk oleh murid lain.
Para murid yang memuji Vans lansung ciut, ketika melihat Raline yang sudah mengklaim pria tampan itu adalah miliknya.
"Mereka memang sangat cocok, sangat serasi."
"Raline sangat cantik. Dia pantas bersanding dengan cowok ganteng itu."
"Gue patah hati sebelum bisa kenalan sama dia."
Alena memejamkan kedua matanya. Saat Vans dan Raline sudah menghilang di balik dinding. Di sekitarnya pun tidak ada lagi kerumunan para murid perempuan. Alena menarik sudut bibirnya, menciptakan sebuah senyum indah meski terkesan di paksakan. Lalu, membuka kelopak mata indah miliknya.
"Apa yang aku lakukan? Seharusnya aku merasa senang, Keinginan Vans teruwujud. Dia berhasil mendapatkan Raline. Bukankah seorang teman selalu menginginkan hal yang baik untuk temannya? Ya, aku sangat senang untukmu, Vans." Alena menepis rasa sakit yang masih bersarang di hatinya. Memaksa diri untuk kembali bersemangat dan ceria lagi. Sama seperti hari-hari biasanya.
Alena mengusap kedua pipinya dengan tangan. Lalu, segera berjalan masuk ke dalam sekolah. Ia harus pergi ke UKS untuk mengobati lukanya yang sedikit terasa perih.
Di sisi lain, Raline menghentikan langkahnya di depan kelas dengan lorong yang sedikit sepi. Ia sengaja mengajak pria tampan ini ke sini agar tidak diganggu oleh gadis lain. Ralien melepaskan genggaman tangannya, sehingga membuat Vans tersadar.
Vans tersenyum manis pada Raline. Hal itu tentu saja membuat gadis cantik di depannya menjadi salah tingkah. Wajah Raline tersipu malu dengan rona merah seperti buah strawberry. Gadis itu terlihat semakin cantik dan manis ketika salah tingkah dan malu-malu.
__ADS_1
"Nama gue, Raline. Maaf, gue tadi narik tangan lo untuk ngebebasin lo dari para gadis genit barusan," ujar Raline dengan suara lemah lembut sambil mengulurkan sebuah jabatan tangan.
Vans menatap tangan lentik Raline yang ada di depan matanya. Ia merasa sangat gugup, tangannya terasa mati rasa untuk menyambut jabatan tangan gadis itu meskipun tadi tangan itu yang membantunya untuk keluar dari kerumunan.
Vans mengontrol kegugupannya, memantapkan hati untuk menjabat tangan lembut dan putih itu. Sebenarnya ia tidak menduga jika Raline tidak mengenali dirinya. Apa sebegitu berbedakah ia hingga semua orang tidak mengenali dirinya? Kecuali Alena. Ia benar-benar sangat berterimakasih pada gadis bertompel itu karena berkat rencana Alena ia bisa sedekat ini dengan Raline, gadis impiannya. Vans memantapkan hatinya dan menjabat tangan Raline dengan memasang senyum yang begitu menawan.
"Vans, Gue Vans," tekan Vans dengan menekan kalimatnya.
Senyum yang terlukis di bibir Raline seketika mengkerut. Ia menatap pria di depannya dengan nanar dan penuh dengan tatapan menelisik. Raline begitu kaget saat mendengar nama pria tampan yang tengah berdiri di depannya. Ia merasa mustahil jika pria itu adalah Vans. Pasalnya, Vans adalah pria culun yang sangat menjijikkan. Tidak mungkin jika Vans bisa menjadi pria tampan dan keren seperti ini.
"Kenapa? Aku tahu, kamu tidak akan mengenaliku. Aku Vans, Vansmu Raline. Aku melakukan ini hanya untukmu," ucap Vans dengan penuh perasaan, di mana tatapannya menyendu.
"Bagaimana mungkin? Wawww, Vans kamu berhasil membuatku terpukau. Kamu sangat tampan," puji Raline dengan tawa memikat di sela-sela kalimatnya. Ia tidak peduli jika pria di depannya adalah Vans Si Culun. Sekarang, pria itu sudah berubah menjadi berlian yang sangat indah. Ternyata di balik kacamata besar yang pria itu pakai, terdapat ketampanan yang begitu hakiki bak patung Yunani yang dipahat.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips