
...70...
Di taman belakang dengan sebuah gazebo yang terdiri dari enam pilar. Di mana, di setiap sisi ada bunga-bunga yang mengkhiasi dengan begitu indah. Lampu kecil yang berkelap-kerlip tidak bisa menutupi sinar terang dari lampu gantung yang ada di langit atap gazebo.
Tanaman rambat yang begitu indah melilit kuat setiap tiang gazebo sehingga memberikan nuansa yang hijau. Tuan Surya sengaja membangun gazebo tersebut untuk Alena karena ia tahu sang putri akan senang menari di tempat ini. Ia menyulap tempat ini dengan begitu indah sehingga Alena merasa sedang berada di negri dongeng.
Hembusan angin malam yang cukup dingin menerpa kulit putih Alena. Malam ini, Alena mengenakan baju ballet berwarna pich terkesan putih dan pucat dengan bawahan yang mengembang dengan indah. Rambut panjangnya sengaja ia sanggul dengan rapi sehingga leher jenjang putih mulus Alena terekpos begitu saja.
Madam Mosy meletakkan tas jinjing yang ia bawa. Lalu, menatap ke arah Alena yang sedang duduk di lantai sambil memasang sepatu ballet.
"Bagaimana harimu belakangan ini, Lena?" tanya Madam Mosy mencairkan suasana.
"Sangat indah. Madam tahu, aku sekarang memiliki tiga teman," jawab Alena dengan bahagia.
"Wawww, apa mereka teman sekolahmu?"
"Yah, mereka semua teman sekolahku. Aku tidak percaya jika mereka mau berteman dengan Alena versi cupu dan jelek. Mereka sangat baik dan mau berteman dengan tulus. Madam tahu, apalagi Vans. Dia adalah teman terbaik bagiku." Wajah Alena merona ketika menyebut nama Vans. Hatinya terasa berbunga-bunga saat mengingat wajah pria tampan itu.
"Ohh, dia laki-laki? Itu sesuatu yang mengejutkan." Madam Mosy sedikit antusias mendengar jika muridnya memiliki teman pria. Pasalnya, ia tahu jika Alena tidak punya teman selama ini. Di sanggar pelatihan saja, tidak ada yang mau berteman dengannya karena murid-murid di sana sangat iri atas bakat Alena.
"Yah, dia laki-laki yang sangat baik. Dia adalah orang pertama yang mau berteman denganku. Dia selalu melindungiku. Dia juga menjagaku dengan sangat baik walaupun dia sedikit menyebalkan. Akan tetapi, dia sangat tampan dan manis." Tanpa sadar,Alena tersenyum lebar saat ia memuji Vans. Baginya, Vans adalah sosok pria sempurna dihidupnya.
"Kamu ternyata sangat mengaguminya, apa kamu menyukai Vans?"
Senyum di bibir Alena seketika surut dan hilang. Tergantikan dengan wajah pias dan sedih. Alena membuang wajahnya ke sembarang arah untuk menghindari tatapan Madam Mosy.
"Ti--tidak. Dia hanya temanku," timpal Alena dengan gugup dan salah tingkah. Ia mulai meregangkan tubuhnya untuk pemanasan sebelum ia mulai menari.
__ADS_1
Madam Mosy tersenyum lucu melihat muridnya salah tingkah. Sangat mudah menebak jika Alena menyukai pria yang bernama Vans itu. Walaupun sudah ditutupi dan disangkal oleh gadis itu tapi tetap saja ia bisa membaca bahasa mata Alena.
"Cinta itu sangat indah. Tidak semua orang bisa merasakan perasaan itu. Aku yakin, dia adalah pria yang baik makanya muridku sampai menyukainya," goda Madam Mosy dengan senyum yang tertahan.
"Madam, jangan membahas dia. Aku tidak ingin dia jadi tidak bisa tidur," keluh Alena yang merasa malu. Di mana suhu tubuhnya terasa meningkat. Padahal, saat ini ia sedang berada di tempat terbuka.
"Cie, perhatian sekali."
"Madam, lebih baik kita mulai berlatih sekarang," selosor Alena dengan cepat sebelum sang guru semakin meledek dan menggoda dirinya.
"Baiklah." Sesuai dengan keinginan Alena. Madam Mosy mulai menyalakan musik yang mengalun mengikuti melodi yang indah.
Alena berdiri dengan kaki yang menjinjit dan menyilang. Tubuhnya, ia bungkukkan hingga terlipat mencium lutut. Perlahan ia mengangkat tubuhnya sesuai dengan irama musik yang berdendang. Musik tersebut bergenre sedih. Sangat sesuai dengan apa yang tengah ia rasakan.
Alena mulai menggerakkan tubuhnya dengan lemah gemulai. Meliuk ke kanan, dan ke kiri dengan penghayatan yang begitu dalam. Setiap gerakan tubuhnya begitu ringan. Seakan ia terlahir untuk menjadi seorang penari. Alena terus bergerak dengan lincah melompat dan menunjukkan keuletannya dalam menari. Hal yang selalu berhasil membuat Madam Mosy terpukau dengan gerakan tari Alena yang selalu sempurna.
Madam Mosy menatap lekat setiap gerakan Alena yang menggandung pesan sedih. Bahkan, itu terlihat jelas dari kedua mata Alena yang terpejam rapat. Madam Mosy mengganti musik tersebut dengan musik bergenre romantis. Ia pikir Alena terlalu menghayati musik tersebut hingga larut di dalamnya.
Alena terus menari mengikuti perasaannya yang sedang berkecamuk. Seakan dari tarian ini ia bisa menyuarakan kesedihannya. Musik dan alunan melodi mungkin berganti. Namun, gerakan Alena terus sama dan semakin cepat sehingga membuat nafas gadis itu memburu. Bukannya berhenti dan istirahat sejenak. Alena malah menambah intonasi kecepatan gerakannya. Hal itu membuat Madam Mosy khawatir.
Madam Mosy pikir setelah mengganti genre musik membuat Alena tidak sedih. Namun, ia salah gadis itu tetap menari dengan ekspresi tertekan penuh luka. Barang sedetipun Alena tidak membuka mata.
"Alena berhenti!" seru Madam Mosy dengan mematikan musik tersebut. Akan tetapi, tubuh Alena tetap menari walau tanpa alunan musik. Seakan gadis itu telah terjebak dalam dunia tari hingga tak bisa berhenti.
Madam Mosy semakin khawatir dengan keadaan Alena. Ia baru pertama kali melihat Alena menari tanpa henti walaupun musik sudah dimatikan. Jika terus dibiarkan Alena akan kelelahan dan itu bukanlah hal yang baik untuk gadis tersebut.
"Alena, berhenti!" pekik Madam Mosi meninggikan suaranya, tetapi lagi-lagi Alena tidak mendengarkan apa yang ia ucapkan. Seolah-olah gadis itu tiba-tiba menjadi tuli. Wajah Alena semakin memucat dengan kegetiran dan kesedihan yang terlihat di wajah cantiknya. Buliran keringat mengucur dengan sangat deras tapi tak bisa menghentikan tubuh Alena menari.
__ADS_1
"Alena, hentikan!" teriak Madam Mosy dengan titah mutlak. Di mana ia menarik tubuh Alena hingga terjatuh ke lantai.
Brugh!
Alena membuka kedua matanya yang sembab dan menatap lekat pada Madam Mosy yang terlihat khawatir. Alunan musik yang ia dengar tadi ternyata sudah mati. Deru nafas Alena memburu dengan dada yang naik turun tak beraturan.
"Ceritakan, apa yang kamu sembunyikan!" seru Madam Mosy terkesan memerintah dan tak ingin disanggah.
...----------------...
...****************...
bonus pic
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
__ADS_1
tips