The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Kita ke danau


__ADS_3

...47...


Matahari mulai turun dari peraduannya, menuju tempat yang lebih rendah siap untuk tenggelam. Sinar jingga yang begitu memukau terlihat di ufuk barat. Semburat awan-awan yang memantullkan sinar jingga sang surya, menambah keindahan sore tersebut.


Alena begitu menikmati pemandangan sore ini, hingga Vans yang berada di sampingnya merasa teracuhkan seperti kacang yang tumbuh sendiri di tengah ladang.


Klep!


Vans menjentikkan jarinya tepat di telinga Alena sehingga gadis bertompel dan berkacamata itu memutar kepalanya hingga menatap Vans.


"Lo suka senja?" tanya Vans.


"Yah, senja terlalu indah. Gue suka banget dengan warna jingga," jawab Alena dengan menghayati setiap yang ia katakan. Seakan senja memiliki arti penting dalam hidupnya.


Vans mengangguk perlahan, Alena kembali menatap ke arah barat, menikmati pemandangan senja yang sangat indah.


Sedangkan Vans, ia mempunyai sebuah ide untuk memberikan kejutan bagi Alena. Hari ini, Alena sudah begitu banyak melakukan hal yang membuat ia menjadi seperti ini. Berkat Alena, penampilan culun kini terhempas dari hidupnya, yang ada hanya Vans dengan ketampanan bak patung Yunani.


"Pak, bisa antar kami ke danau!" seru Vans pada supir taksi yang sedang fokus dengan jalanan di depannya.

__ADS_1


"Baik, Tuan," balas supir taksi tersebut dengan menganggukkan kepala.


Alena lansung menoleh ke arah Vans dengan kening berkerut. Bukankah mereka akan pulang? Lalu, mengapa Vans meminta supir taksi tersebut menuju danau?


Vans yang diperhatikan dengan wajah bingung oleh Alena, hanya menunjukkan ekspresi misterius yang tidak bisa diartikan oleh gadis itu.


"Kenapa lo minta supir untuk pindah haluan?" tanya Alena dengan melipat tangannya di depan dada.


"Berikan gue sedikit waktu lagi, hari ini lo udah banyak merubah gue. Dari Vans yang culun dan kampungan menjadi Vans yang keren dan tampan. Gue cuma butuh sepuluh menit aja. Gue yakin, lo pasti seneng setelah sampai di danau," jawab Vans dengan tatapan sendu dan dalam.


"Ck, lo jangan sok misterius deh. Momy udah minta gue buat pulang jam lima sore. Kalau gue telat pulang, Momy pasti bakal marah dan ngak akan kasi izin buat keluar lagi. Jadi, rencana lo buat pergi ke danau dibatalin aja. Kita bisa pergi lain kali," tolak Alena. Sebenarnya ia tidak tega menolak permintaan Vans. Akan tetapi, tinggal dua puluh menit lagi jam akan menunjukan pukul lima sore. Itu artinya, ia harus sampai di rumah.


"Lena, lo jangan khawatir. Tante Giana ngak bakal marah kok kalau kita pulang telat sedikit. Please, gue yang bakal ngomong sama Tante Giana. Jadi, lo ngak usah merasa cemas. Gue mohon bentar doank kok. Abis ke danau kita pulang ya," renggek Vans dengan wajah memelas, persis seperti anak kecil yang sedang merenggek meminta permen.


"Vans tap---"


"Sssttt." Vans meletakkan satu jarinya tepat di bibir Alena sehingga membuat bibir mungil itu berhenti bergerak.


Adegan tatap-tatapan tidak bisa dihindari lagi. Suasana hening yang hanya dihiasi alunan deru kendaraan, membuat suasana menjadi tenang. Tatapan Alena dan Vans bertaut dengan dalam. Di mana, jantung Vans dan Alena sama-sama terpompa cepat.

__ADS_1


Wajah Alena perlahan memerah seperti tomat yang sedang matang. Sedangkan Vans, ia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari wajah Alena yang terlihat manis dan menyejukkan mata. Tompel dan kacamata besar yang menghiasai wajah gadis itu tidak membuat pandangan Vans terganggu.


Ciiitttt!


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2