
...56...
Tring!
Tring!
Tring!
Suara notifikasi masuk secara bersamaan pada setiap ponsel semua murid, termasuk juga Raline yang tengah asik bergosip dengan kedua temannya di kafe depan sekolah. Raline merogoh ponsel yang ada di dalam saku sekolahnya. Lalu, memainkan benda pipih itu denga wajah yang mengetat.
Ia melihat dengan jelas kabar yang menjadi tranding topik dalam waktu 20 menit yang lalu. Di mana wajah tampan Vans terpampang jelas tengah menggandeng tangan gadis culun dengan tompel di pipi, dalam sebuah foto.
Seketika amarah Raline tersulut dengan cepat. Tentu saja, ia tidak terima melihat Vans menggandeng tangan gadis lain. Vans adalah mangsanya yang harus menjadi miliknya.
"Wawww, Ini bukannya Vans yang tadi pagi gandengan sama lo, Rale. Gila, sekarang malah ngegandeng cewek lain."
"Sumpah, gandeng cewek jelek si culun bertompel. Tadi pagi gendeng cewek cantik, sekarang gandeng kebalikannya. Ha ... Ha .... Lo kalah saing sama si culun, Ral."
Tawa mengejek dari kedua teman yang ada di sampingnya, seperti cairan bensin yang semakin membuat kemarahan Raline semakin terbakar. Ia tentu saja, tidak terima dikatai seperti itu. Ia dibandingkan dengan gadis culun, jelek, dan bertompel. Tentu saja, gadis itu bukanlah tandingannya. Bahkan, seujung kukunya pun lebih baik dan cantik dari gadis culun itu.
"Kalian, tutup mulut! Jangan berani ngebandingin gue sama cewek culun, dan jelek itu!" hardik Raline dengan menatap ke dua temannya dengan sangat tajam. Seolah, ingin menghabisi kedua gadis itu itu sekarang juga.
__ADS_1
Kedua teman Raline seketika menghentikan tawanya dan membungkam mulut masing-masing melihat kemarahan Raline. Mereka tentu saja tidak berani menantang seorang dewi sekolah. Apalagi, Raline donatur pentraktir jatah makan siang mereka.
Raline mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat hingga buku-buku tangannya memutih. Vans adalah miliknya dan ia tidak akan membiarkan gadis lain mengambil Vans, apalagi itu adalah si gadis culun. Raline memainkan ponselnya dengan cepat, menekan kontak Vans. Lalu, mendekatkan benda pipih itu ke telinga.
Vans yang sedang menikmati makan siang bersama Alena menatap ke arah ponselnya. Di mana nama Raline tertera pada layar menyala benda itu.
"Siapa?" tanya Alena dengan santai sambil menyantap nasi goreng miliknya.
"Pujaan hati," jawab Vans dengan bahagia. Ia memperlihatkan layar ponselnya pada Alena. Di mana nama kontak Raline tertulis My Heart dengan emoji love di akhir kata tersebut.
Alena tersenyum kecut dan memilih melanjutkan makan siangnya walaupun hatinya terasa dicubit dengan sangat keras. Ia harus bisa menutupi perasaanya dengan bersikap seperti biasa, seolah-olah ia baik-baik saja. Vans mengangkat panggilan Raline. Di mana gendang telinganya lansung disapa dengan suara lembut Raline.
"Hallo, Ral. Kenapa lo nelpon gue?" tanya Vans dengan antusias.
"Gue tadi nyariin lo ke kelas A tapi lo ngak ada. Tadi, gua niatnya mau ngajakin makan siang di kafe depan sekolah." Nada suara Raline terdengar sedih. Tentu saja hal itu membuat Vans merasa tidak enak hati karena telah membuat gadis pujaannya menjadi sedih.
"Maaf, Ral. Lo ngak bilang sih tadi, gini aja sekarang gue susulin lo deh. Kita makan siang bareng. Lo lagi di mana?"
"Di kafe depan sekolah, Vans."
"Ya udah, gue ke sana sekarang."
__ADS_1
Panggilan telpon tersebut terputus. Vans menatap ke arah Alena yang masih menikmati makanannya. Sebenarnya, Vans tidak enak hati untuk pergi lebih dulu meninggalkan Alena, tetapi Raline juga sendiri di sana. Sang pujaan hati sedang menunggu dirinya. Vans menggigit bibir bawahnya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatakan jika ia harus pergi kepada Alena.
Alena yang merasa terus diperhatikan mengangkat wajahnya dan menatap Vans dengan ekspresi biasa-biasa saja.
...----------------...
...****************...
Maaf up nya dikit.. otor lagi ngantuk😁😁😁
jangan lupa
like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1