
...57...
Panggilan telpon tersebut terputus. Vans menatap ke arah Alena yang masih menikmati makanannya. Sebenarnya, Vans tidak enak hati untuk pergi lebih dulu meninggalkan Alena, tetapi Raline juga sendiri di sana. Sang pujaan hati sedang menunggu dirinya. Vans menggigit bibir bawahnya, memikirkan kata-kata yang tepat untuk mengatakan jika ia harus pergi kepada Alena.
Alena yang merasa terus diperhatikan mengangkat wajahnya dan menatap Vans dengan ekspresi biasa-biasa saja.
"Ada apa? Apa yang dia katakan?" cecar Alena dengan pertanyaan. Tadi karena sibuk mengurusi hatinya yang sedikit sakit membuat ia tidak menghiraukan percakapan antara Vans dan juga Raline. Bisa di bilang ia gagal loading. Akan tetapi, itu bukannya lebih baik daripada mendengarkan dan membuat hatinya semakin merasa sakit.
"Raline sebenarnya ngajak gue makan siang, Len," jawab Vans dengan sedikit nada tidak enak.
"Terus?"
"Dia lagi nunggu gue di kafe depan sekolah."
"Terus?"
"Lo kok terus-terus mulu sih, udah kayak tukang parkir aja," sebal Vans. Padahal ia sudah mengatakan kode agar Alena peka dan mengerti jika ia harus pergi.
"Ya gue mau gimana? gue bilang stop gitu, biar lo berenti ngomong?" Alena sedikit menyiniskan suaranya.
"Ya, bukan gitu maksudnya, Len."
"Ya terus apa? Gue bukan cenayang atau peramal yang bisa tahu isi hati lo."
"Gue mau nemenin Raline buat makan siang." Vans mengatakan hal itu dalam satu kali tarikan nafas.
Alena terdiam, bodohnya ia yang tidak peka dengan ucapan Vans barusan. Seharusnya ia lansung menyuruh Vans pergi tapi karena hatinya yang tidak rela, ia malah menahan kebahagian Vans. Sungguh ia sangat egois.
"Ya udah, lo pergi aja," ucap Alena dengan menetralisir raut wajahnya agar tidak terlihat sedih walaupun jauh di lubuk hatinya, ia ingin mengatakan jangan pergi dan tetaplah di sini. Akan tetapi, siapa dirinya? Seorang teman hanya bisa mendukung dan bukan menjadi batu sandungan atas kebahagian sahabatnya.
__ADS_1
Vans tersenyum lebar, ternyata ketakutannya jika Alena akan marah dan kesal itu tidak terjadi. Ia terlalu overthingking sehingga pikiran negatif mengusai pikirannya. Ia lupa jika Alena akan selalu mendukung ia untuk mengejar cintanya.
"Lo yang terbaik. Gue pikir lo bakal marah," hela Vans dengan lega.
"Ngapain gue marah, udah lo pergi aja. Ntar si Raline marah terus ngamuk baru tahu rasa."
"Issh, jangan doain yang jelek-jelek donk. Ya udah, gue pergi ya Buko. Nanti pulang sekolah sama gue ya." Vans dengan jahil mengacak puncak kepala Alena hingga rambut gadis itu jadi serabutan.
"Vans!" pekik Alena dengan menepis tangan Vans, yang hanya direspon dengan tawa lucu dari pria tampan itu.
Vans segera berlari meninggalkan Alena, sebelum Alena mencecar dirinya dengan omelan dan ocehan yang menggetarkan gendang telinga. Namun, sebelum Vans benar-benar keluar dari kantin, pria itu menoleh ke belakang. Lalu, mengedipkan sebelah matanya genit.
Alena yang melihat tingkah Vans tanpa sadar tersenyum dengan tulus. Di mana wajahnya berubah merona seperti ia sedang menggenakan blus-on. Andai tak ada kacamata dan juga tompel di wajah gadis itu. Maka kecantikan Alena akan bertambah dua kali lipat dengan pipi memerah.
Namun, senyum itu seketika luntur saat kenyataan menghantam Alena. Kenyataan jika Vans pergi untuk menemui Raline dan meninggalkan dirinya. Alena melihat sepiring nasi goreng yang hampir habis dengan sisa Burger seperempat. Demi menemui Raline, Vans bahkan tidak sempat menghabiskan makan siangnya. Ternyata memang sebrgitu besarnya cinta Vans untuk Raline, dan ia harus sadar diri.
"Aku hanya teman Vans, hanya teman. Ingat Alena kamu tidak punya hak untuk bermimpi memiliki Vans. Masih untung kamu bisa berteman dengannya," gumam Alena menghibur dirinya sendiri. Mensugesti dirinya dan berusaha melupakan rasa sakit di dalam dada.
Alena seketika tersentak kaget, saat meja di depannya di gerbak dengan sangat keras. Sampai-sampai piring-piring di atas meja bergetar dan mengeluarkan suara. Alena mengangkat wajahnya dan melihat Gina dan Zeli yang sedang menata ke arahnya dengan tatapan tajam.
Alena menelan air salivanya bulat-bulat. Di mana kerongkongannya terasa dicekik sehingga membuat ia sedikit sulit bernafas. Alena meremas jahitan roknya. Melihat dua gadis yang selalu membulli dan memperlakukan ia dengan buruk membuat rasa takut menyeruak dalam diri Alena dengan begitu mudah.
Ingin melawan ia tidak punya keberanian. Di sini ia hanya sendiri. Semua orang memusuhi dirinya. Tidak ingin menjadi bahan bulian Gina dan Zeli. Alena segera berdiri dari duduknya dengan terburu-buru dan juga tubuh bergetar.
Satu hal yang bisa ia lakukan sekarang, yaitu kabur dari dua gadis jahat di depannya. Tidak ingin membuang kesempatan. Alena segera bergerak untuk kabur. Namun, sayangnya Gina dan Zeli lebih cepat dengan menarik tangannya hingga kembali duduk di tempat semula.
Astaga, habis sudah riwayatku. Andai Vans ada di sini, pasti dia akan melindungiku. Ck, apa yang aku pikirkan? Aku tida boleh bergantung pada Vans. Batin Alena dengan menggigit bibir bawahnya sendiri dengan wajah tertekuk. Ia benar-benar takut, entah apa yang akan dilakukan oleh Gina dan Zeli kali ini.
Kedua gadis yang ada di hadapan Alena segera duduk. Lalu, melirik ke arah satu sama lain sebelum menatap Alena yang menunduk di depan mereka. Keduanya saling memberikan kode untuk memulai berbicara lebih dulu, sampai akhirnya Zeli menyerah dan mulai menggerakkan bibirnya.
__ADS_1
"Lena, Ki--"
"Apa yang kalian ingin kan? Kalian mau gue bayar makanan kalian? Atau kalian mau gue bawain barang-barang kalian? Atau kalian mau gue pijatin kalian sampai puas? Gue bakal ngelakuin semua perintah kalian tapi gue mohon, jangan ganggu gue." Alena mengucapkan hal itu dengan satu kali tarikan nafas. Di mana di akhir kalimatnya, ia memohon dengan mengatupkan kedua tangan di depan dada.
"Lo bisa diam ngak sih," ujar Gina sedikit kesal mendengar ucapan Alena yang panjang tanpa jeda atau koma.
"Kita bukan mau nyuruh lo ini dan itu. Tapi kita mau berteman sama lo." Zeli mengatakan niat awal dirinya dan Gina menemui Alena. Jangan pikir mereka akan berteman dengan gadis bertompel dan culun. Ini hanya rencana untuk mendekati Vans, hanya itu.
"Hah? Teman?" Bibir Alena sedikit terbuka. Gendang telinganya tidak salah dengar bukan? Dua gadis yang cukup terkenal mau berteman dengannya? Ini tidak bisa dipercaya. Ini sebuah mimpi yang tak akan bisa menjadi nyata.
Gina yang melihat Alena yang hanya melongo semakin kesal. Meladeni seorang gadis cupu memang sangat menguji kesabaran. Sedangkan, Zeli menunggu dengan harapan jika Alena mau berteman dengan mereka. Ayolah, siapa yang tidak tahu jika Alena adalah teman dekatnya Vans. Mendekati Vans secara lansung sungguh tidak mungkin karena pria itu sangat cuek dengan gadis lain, kecuali Alena.
"Gimana?" tanya Zeli dengan tidak sabaran.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips