
...59...
"Lo mau pesen apa? Biar gue pesenin," tanya Vans membuyarkan lamunan Raline.
"Gue mau stik aja."
"Ya udah, lo tunggu di sini."
Vans segera pergi menuju meja kasir dan memesan makanan yang diinginkan Raline. Hal seperti biasa yang selalu ia lakukan di saat Raline menganggap dirinya sebagai budak. Setelah mendapatkan pesanannya. Vans kembali duduk dengan satu piring stik, kemudian meletakkannya di depan Raline.
"Kok cuma satu? Lo ngak pesen makanan?" tanya Raline dengan dahi berkerut.
"Tidak, gue udah kenyang. Tadi gue udah makan siang sama Alena. Lo tahu, Alena tadi hampir ngambek sama gue karena dia minta Burger malah gue kasih nasi goreng," ucap Vans dengan menceritakan kejadian beberapa menit yang lalu. Wajah Vans terlihat sangat senang dan begitu semringah saat mengingat memori bersama Alena.
"Ohh, Lo sama Alena ternyata deket banget ya." Wajah Raline sedikit tidak suka mendengar cerita Vans dengan Alena.
"Iya, di saat semua orang ngak mau temenan sama gue. Cuma dia yang mau temenan sama cowok cupu. Bahkan, lo waktu itu nolak gue karena gue cupu. Sekarang apa lo mau nerima gue?"
Wajah Raline seketika memerah tersipu malu mendengar pertanyaan Vans. Hatinya terasa berbunga-bunga dengan sejuta kupu-kupu yang sedang hinggap. Jantungnya berdegup dengan sangat cepat, sangat berbeda sekali waktu Vans mengatakan perasaannya malam itu. Namun, Ia merasa ini bukanlah tempat dan waktu yang tepat. Tidak ada tempat romantis dan juga kata-kata yang menyentuh hati.
"Ahhh, lo ngak romantis banget deh. Ya kali nyatain perasaan di tempat dan waktu yang ngak ada romantis-romantisnya. Lo tahu, gue ingin banget mengulang malam itu," ucap Raline memberikan kode, berharap Vans akan peka. Raline menatap Vans dengan sendu, sembari tangannya terulur menyentuh tangan Vans yang ada di atas meja.
Merasakan tangannya yang disentuh oleh tangan lembut dan putih Raline, membuat Vans sedikit gugup dan bergetar. Keringat dingin di pelipisnya mulai terbentuk. Di mana Vans terlihat salah tingkah.
"A--apa lo mau malam itu terulang?" tanya Vans dengan terbata-bata. Ayolah, ia tahu arti ucapan Raline. Otaknya pintar dan cerdas tidak butuh waktu lama baginya untuk mencerna perkataan gadis cantik di depannya, yang selalu membuat ia terpukau dan tak bisa berpaling. Kecantikan Raline seperti sebuah mantra yang mengutuk dirinya hingga ia tenggelam terlalu jauh dalam pesona gadis itu.
"Tentu saja, itu pasti akan menjadi malam terindah untuk gue."
__ADS_1
"Lo mending makan dulu, kasihan stiknya udah dingin."
Raline mengangguk dengan senyum merekah, kemudian menarik tangannya dan mulai memotong dan melahap daging sapi tersebut. Raline merasa senang karena sepertinya Vans mengerti akan ucapannya barusan. Ia tidak sabar untuk menantikan hari itu tiba. Di mana Vans akan mengatakan perasaanya dan ia akan menerimanya dengan suka cita. Setelah ia dan Vans resmi menjadi sepasang kekasih, pasti hal itu akan menjadi berita utama di akun sekolah. Dan itu artinya, ketenaran dan kepopulerannya akan bertambah.
...----------------...
Treng!
Treng!
Treng!
Suara bel pulang berbunyi dengan nyaring, membuat seluruh murid segera merapikan peralatan tulis mereka, dan segera berhambur keluar kelas. Seolah-olah kelas tersebut seperti sebuah penjara yang begitu mengerikan sehingga ketika mereka keluar, mereka begitu merasa bebas dan bisa terbang kemanapun tujuan yang mereka inginkan.
Begitu pula dengan Alena dan juga Vans yang merapikan peralatan tulis mereka, dan memasukkannya ke dalam ransel. Vans segera mendekat ke arah Alena dengan wajah ragu dan sedikit cemas.
"Lo kenapa? Di tolak lagi sama Raline?" ucap Alena tanpa memandang ke arah Vans, dan terus fokus memasukkan buku terakhir ke dalam tas. Vans mendengus mendengar ejekan dari Alena. Belum saja ia bicara, tetapi gadis itu malah menyimpulkan dengan sesuka hati.
Alena memutar tubuhnya hingga menghadap Vans, yang berdiri dengan menyilangkan kedua tangan di depan dada. Alena menatap Vans dengan tatapan tajam dengan rahang yang mengeras.
"Gue ngak pernah mikir seburuk itu. Gue mengatakan hal itu cuma bercanda. Tapi, lo malah berpikir gue seneng lihat lo di tolak sama Raline. Itu sama sekali ngak bener, Vans. Gue tahu lo sayang sama Raline, makanya gue bantuin lo buat dapetin dia!" sentak Alena dengan kemarahan yang memggebu-ngebu. Lalu, melenggang pergi dengan cepat meninggalkan Vans yang menatap punggungnya dengan tatapan heran.
"Len, tunggu!" panggil Vans dengan sedikit berteriak untuk menghentikan Alena. Namun, gadis itu sudah keluar dari kelas. Ia sama sekali tidak bermaksud menyinggung Alena seperti itu. Apa yang dikatakan tadi, sungguh hanya candaan tapi kenapa gadis bertompel itu malah marah.
"Lah, kok dia jadi marah? Kan, gue cuma bercanda," gumam Vans, kemudia berlari mengejar Alena.
Alena terus berjalan dengan cepat. Di mana air matanya sudah mengenang di pelupuk kedua mata indah miliknya. Alena memperbaiki posisi kacamatanya yang bergeser karena ia berjalan dengan cepat. Ia benar-benar terluka dengan perkataan Vans. Ia sama sekali tidak seburuk itu untuk melihat Vans di tolak oleh Raline walaupun di dalam hatinya ia membenarkan hal itu.
__ADS_1
"Apa-apaan lo, Vans. Gue memang cinta sama lo tapi bukan berarti gue senang melihat lo ditolak sama Raline. Asal lo tahu, gue capek banget mendam perasaan ini dan berpura-pura ngak baper. Gue tersiksa tapi gue tahu lo cinta sama Raline. Gue bakal dukung keputusan lo," oceh Alena pada dirinya sendiri dengan suara yang bergetar menahan tangis. Ia tidak mungkin menangis di tempat umum, bisa-bisa apa yang akan dipikirkan oleh orang lain.
"Alena!" teriak Vans memanggil Alena dari belakang. Namun, Alena memilih untuk pura-pura tuli. Ia bahkan tidak menoleh ke arah Vans yang berlari mengejarnya.
"Lena!" teriak Vans lagi dengan suara yang lebih nyaring. Akan tetapi, gadis yang di panggil sama sekali tidak menengok ke belakang sedikitpun. Bahkan, Alena terus berjalan dan mempercepat langkah kakinya. Vans melipat bibirnya dengan kesal. Lihat saja, ia akan memberi pelajaran pada Alena karena telah berani mengacuhkan dirinya.
Vans memilih berlari untuk mengejar Alena. Jika ia hanya berjalan, bisa-bisa Alena menghilang dari pandanganya.
Hap!
Vans menangkap lengan Alena dan menarik tubuh gadis bertompel itu hingga tubuh Alena berbalik dengan cepat dan membentur dadanya.
"Apa lo tuli?" sinis Vans dengan menatap sebal. Alena mendorong tubuh Vans hingga menjauh dari tubuhnya. Masalahnya, jantungnya sudah mulai menggila dengan degupan yang sangat cepat. Semakin ke sini, Vans selalu menyentuh dirinya dengan tiba-tiba, membuat ia merasa jantungnya di copot dari gantungan secara tiba-tiba.
"Ada apa lagi?" bentak Alena dengan dada yang memburu.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips