The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Pertemanan serta Kesepakatan


__ADS_3

...22...


"Ternyata rumah lo ngak terlalu jauh dari rumah gue. Hanya lewat tiga komplek."


"Benarkah?" Alena cukup terkejut mendengar ucapan Vans.


"Iya, gue bahkan tahu berapa harga baju lo itu. Baju itu seharga dua juta kan?"


"Bagaimana lo bisa tahu?" Alena lagi-lagi terkejut.


"Ha ... Ha ..., tentu saja karena baju lo itu keluaran produk Dady gue. Jadi, tentu gue tahu," kekeh Vans dengan menaikkan kedua alisnya.


Waww, satu fakta lagi yang membuat Alena terkejut akan Vans. Ternyata pria di depannya adalah putra dari pemilik perusahaan fashion yang terkenal di kota ini. Ia sungguh tidak menyadari hal itu. Mungkin karena penampilan Vans yang terkesan culun membuat latar belakangnya tidak di sadari oleh orang lain. Andai, para gadis tahu siapa laki-laki ini, Alena yakin Vans akan menjadi rebutan murid-murid perempuan.


"Gue bener-bener ngak bisa percaya. Lo anak dari pemilik perusahaan fashion paling terkenal di kota ini. Terus, penampilan lo?" Alena memicingkan alisnya.


"Emang kenapa sama penampilan gue? Lo juga punya rumah sebesar ini, terus lo anak orang kaya. Kenapa penampilan lo kayak gini? Apa lo ingin nutupin kecantikan lo?" cecar Vans dengan mendekatkan wajahnya ke wajah Alena. Kini, jarak kedua wajah mereka hanya tinggal lima centimeter. Alena bahkan bisa merasakan sapuan halus nafas Vans di wajahnya.


Wajah Alena seketika berubah menjadi memerah. Untuk pertama kalinya ia berdekatan sedekat ini dengan seorang pria. Rasanya sangat aneh dan berbeda.


Klep!


Vans menjentikan jarinya di depan wajah Alena yang melongo. Gadis itu seketika tersentak kaget. Alena membuang wajahnya ke sembarang arah.


"Ayo jawab! Kenapa lo malah melamun?" tanya Vans dengan mengangkat alisnya.


"Penampilan adalah hak masing-masing orang. Terserah donk bagaimana gue harus berpenampilan," jawab Alena dengan kaku.


"Lo bener, semua orang musuhin kita karena penampilan. Bukankah mereka sangat kejam?"


"Hmmm."


"Gue juga mau berterimakasih sama lo karena lo udah nyelamatin gue saat gue hampir tenggelam di kolam. Seandainya ngak ada lo mungkin gue udah tinggal nama." Wajah Vans berubah menyendu. Ia menatap lekat wajah Alena yang semakin dilihat semakin manis.

__ADS_1


"Sama-sama, lo kenapa pasrah aja sih? Bukannya berenang naik ke atas, lo malah milih tenggelam. Jangan bilang lo ngak bisa berenang? Oh, atau karena patah hati lo mau bunuh diri."


Vans tertawa mendengar kesimpulan Alena. Ternyata Alena adalah sosok yang menyenangkan dan lucu. Bagaimana bisa ia tidak menyadari hal itu saat di sekolah. Bahkan, Alena sangat asik untuk dijadikan patner ngobrol. Vans mengacak puncak kepala Alena gemas, yang langsung membuat Alena menatap dirinya kesal.


"Issshhh, ngapain sih ngacak-ngacak rambut gue? Gue ngak suka," sebal Alena.


"Lo sih, ngomongnya asal. Asal lo tahu ya, gue itu perenang terbaik. Masalahnya, saat nyebur ke kolam tangan gue yang sempet di injek sama Justin kram. Makanya, gue ngak bisa berenang naik. Ya kali, gue mau mati sebelum gue dapet cinta gue."


"Maksud lo, lo masih berharap sama Raline?"


"Yah, hati ngak bisa dipaksain." Vans tersenyum kecut.


"Raline kan udah nolak lo, bahkan dia ngehina lo. Lo itu bodoh apa gimana sih?" cibir Alena dengan nada sedikit tidak suka. Sungguh ia baru menemukan pria yang masih mau berjuang setelah ditolak dan dihina.


"Karena Raline cinta sejati gue. Lo juga bakal ngerasain kalo lo udah nemuin cinta sejati lo."


"Terserah deh."


"Terserah?"


"Lo bantuin gue kek biar gue bisa jadian sama Raline. Sumpah gue cinta banget sama gue. Kita kan sekarang temen." Vans menjulurkan jari kelingkingnya di depan Alena.


Alena menatap jari kelingking Vans yang ada di depannya. Ia cukup tersentuh dengan Vans yang ingin berteman dengannya. Selama ini, ia tidak memiliki seorang teman sekalipun. Semuanya hanya datang untuk memanfaatkan dirinya. Setelah, mereka mendapatkan apa yang mereka inginkan, mereka pergi begitu saja.


"Lo mau manfaatin gue?" tanya Alena yang langsung membuat Vans melongo.


"Pertanyaan macam apa itu? Lo pikir gue penjilat? Ayolah, kita kan sama. Sama-sama ngak punya teman, sama-sama dimusuhin. Setidaknya kita bisa berteman kan. Lagipula, kalau lo ngak mau bantu juga ngak papa gue ngak maksa," jelas Vans yang merasa tidak suka dengan pertanyaan Alena. Gadis ini pikir dia berteman karena mau memanfaatkan gadis itu. Sungguh pemikiran yang sangat naif dan polos.


Akan tetapi, wajar saja jika Alena merasa seperti itu. Mungkin, gadis tersebut pernah menjalani pertemanan yang toxic sehingga Alena seperti itu. Vans berjanji pada dirinya, ia akan menjadi teman Alena yang paling setia. Entah rasa apa yang memikat Vans. Namun, ia merasa nyaman berada di dekat Alena.


Alena menatap Vans dengan lekat, mencari dusta pada perkataan Vans barusan. Akan tetapi, tawaran Vans sangat menggiurkan. Ia juga ingin memiliki seorang teman sama seperti orang lain. Berbicara dengan Vans pun terasa nyaman. Ia merasa menjadi dirinya sendiri tanpa harus bersandiwara. Lagi pula, Vans juga terlihat laki-laki yang baik. Sepertinya bukan masalah jika ia berteman dengan Vans.


"Oke, kita temenan," ujar Alena dengan senyum lebar di bibirnya, sembari tangannya mengulurkan jari kelingking. Dengan senang hati Vans menautkan kelingkingnya di jari kelingking Alena. Keduanya tersenyum dengan sangat lebar.

__ADS_1


"Kita resmi temenan," ucap Vans yang langsung di angguki oleh Alena.


Ternyata seperti ini rasanya memiliki teman, Batin Alena dengan kedua mata yang mulai memanas. Ia tidak pernah memimpikan hal ini. Akan tetapi kenyataan jauh lebih indah.


"Oh ya, gue lupa kalau Momy gue ngundang lo buat makan di rumah gue malam ini. Sebenarnya gue mau kasi tahu lo pas masuk sekolah. Tapi, lo ngak pernah masuk, emang lo kemana? Lo ngak pindah sekolah kan?" tanya Vans yang memang ingin menanyakan hal itu.


"Ngak kok, gue ngak pindah. Cuma kemarin gue ada kesibukan. Jadi, ngak bisa masuk. Tapi, buat undangan makan malam di rumah lo, gue ngak yakin kalau Momy gue bakal ngizinin," jawab Alena dengan ragu. Pasalnya ia tahu Nyonya Giana pasti akan melarangnya pergi. Apalagi, setelah kejadian di party malam itu.


"Lo tenang aja. Kalau urusan Momy lo, biar gue yang izinin. Gue yakin dia pasti bakal izinin. Tinggal bilang kuenya enak banget pasti dia bakal kasi izin," hibur Vans memberi solusi, yang langsung membuat Alena tertawa lepas.


"Gue ngak yakin," ejek Alena dengan nada menantang.


"Lihat aja, kalau gue berhasil. Lo harus bantuin gue buat dapetin Raline, gimana?"


Alena terdiam memikirkan penawaran Vans, terkesan merugikan dirinya. Namun, juga terdengar seru.


"Oke, gue setuju. Kalau lo gagal lo harus traktir gue di kantin selama satu minggu, gimana?"


"Oke, gue setuju," jawab Vans mantap.


Dalam waktu singkat, keduanya begitu akrab. Seolah-olah memang ada tali yang menyambungkan keduanya. Alena selalu berhasil dibuat tertawa dengan candaan Vans, sedangkan Vans selaku gemas dan bahagia melihat pergantian ekspresi Alena yang selalu ia lihat datar di sekolah.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2