The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Dunia masing-masing


__ADS_3

...7...


"Lo, nangis?" tanya suara lembut, yang langsung membuat Alena menghentikan tangisannya. Alena mengusap cepat air mata di kedua pipinya. Lalu, mengangkat wajahnya dengan sedikit gelagapan.


Ia tidak menduga jika murid lain akan masuk ke kelas, saat jam istirahat. Biasanya semua murid sibuk mengisi perut di kantin.


Alena menatap datar, wajah pria yang baru beberapa saat menjadi murid baru di kelas ini. Tatapan Alena terkunci dengan bola mata hitam pekat yang begitu menenangkan. Seolah-olah ia tertarik ke dalam dua bola mata indah itu.


Begitu pula dengan Vans, pandagannya terfokus pada wajah polos yang sembab. Bisa ia lihat, hidung Alena memerah dan kantung mata gadis itu membengkak. Namun, ada yang sedikit berbeda dari gadis di depannya. Gadis itu tidak memakai kacamata bulat seperti tadi pagi. Seolah Vans melihat sosok yang berbeda di balik kacamata yang bertengger di hidung mungil Alena.


Untuk beberapa saat, keduanya larut dalam pertukaran pandangan dengan pikiran masing-masing. Seolah salah satunya bisa merasakan luka yang sedang bersarang pada lubuk hati mereka.


Tiupan angin berhembus masuk dari sela-sela jendela. Membuat jendela bergerak mengeluarkan decitan akibat gesekan besi satu sama lain. Seolah jendela-jendela tersebut sedang memainkan nada harmoni yang indah.


Anak rambut Alena yang tergerai jatuh di depan pandangan gadis itu, membuat kontak mata keduanya terputus.


Vans segera membuang wajahnya ke sembarang arah, sementara Alena memilih menunduk dengan kedua tangan yang sedang ditautkan satu sama lain.


Vans merogoh satu celananya dengan kaku, lalu mengeluarkan sehelai sapu tangan yang langsung ia sodorkan pada Alena.


"Wajah lo banjir, pakai ini untuk menghapus air mata lo," ucap Vans sedikit gugup.


Alena menatap lekat pada pria yang terlihat salah tingkah di depannya. Lalu, dengan sedikit ragu-ragu ia menerima sapu tangan yang diberikan oleh Vans. Setelah Alena mengambil sapu tangan dari tangannya. Vans memilih untuk segera pergi dari hadapan Alena.


Alena hanya menatap datar punggung Vans yang berlari keluar dari kelas. Saat bayangan pria tersebut tidak lagi terlihat. Sudut bibir Alena terangkat ke atas, menciptakan lengkungan indah mengalahkan keindahan pelangi.


Ia menatap sapu tangan yang kini ia genggam. Terlihat ukiran inisial V pada sudut sapu tangan itu. Alena mengusap rangkaian benang yang menyembul. Ternyata, ada seseorang yang sedikit peduli padanya.

__ADS_1


"Bahagia sekali rasanya, melihat orang lain peduli padaku. Apa ini, rasanya memiliki seorang teman? Apa tidak salah jika aku berteman dengan Vans? Dia terlihat tulus dan berbeda dari murid lain," gumam Alena berbicara pada dirinya sendiri.


...----------------...


Waktu terus berjalan tanpa henti. Hari terus berganti dengan cepat menjadi bulan. Tanpa sadar lima bulan berlalu dengan tanpa di sadari.


Namun, kondisi Alena dan Vans masih tetap sama. Meski bulan bertambah, tetapi perlakuan murid-murid di sekolah Elite tersebut tidak pernah berubah. Bahkan, mereka semakin menjadi-jadi merundung dua murid culun itu.


Setiap hari, selalu saja ada drama dari murid yang menganggap diri mereka lebih baik dan berkuasa. Tanpa segan mereka melakukan kekerasan pada murid-murid yang lemah.


Meski, sudah berkali-kali di tegur oleh pihak sekolah. Murid-murid yang sok berkuasa tersebut seakan tuli dan menutup mata, jika apa yang mereka lakukan memang salah.


Akhirnya ujian akhir semester telah tiba. Seluruh murid menyambut ujian tersebut dengan benci dan rasa tidak suka karena bagi mereka ujian adalah momok yang sangat menakutkan. Di mana otak mereka akan di peras untuk menjawab banyaknya soal-soal yang akan membuat kepala mereka pusing. Namun, hal itu tidak di rasakan oleh Alena.


Ia menikmati setiap menit kegiatan yang ada di sekolah ini. Mungkin memang terkesan monoton, tapi percayalah inilah impian yang ingin dirinya nikmati.


Pencarian Alena terhenti pada buku sains yang sejak tadi ia cari. Dengan perasaan senang, ia hendak mengambil buku tersebut. Namun, sebuah tangan tiba-tiba memegang tangannya saat ia menyentuh buku tersebut.


Alena terpaku, melihat tangan siapa yang menyentuh tangannya. Dengan cepat, Alena berbalik dan mendapati Vans berdiri tepat di belakangnya.


"Maaf, gue ngak tahu, kalau lo juga ingin mengambil buku itu," ucap Vans dengan rasa bersalah.


Sebenarnya Vans juga mencari buku yang sama untuk bahan ujian besok. Namun, ia tahu jika Alena juga menginginkan buku itu.


"Tidak apa-apa, tapi gue ingin meminjam buku itu, gue juga yang pertama kali menyentuhnya," balas Alena, berusaha mengatakan jika buku itu ia yang pertama menemukan.


"Gue juga ingin meminjam buku itu, gue juga nyentuh buku itu. Jadi gue juga berhak untuk meminjamnya. Gue mohon, biarin gue yang minjem buku itu karena gue harus ngerjain tugas Reline. Dia pasti akan marah dan ngejauhin gue, kalau gue ngak nyelesein tugasnya," pinta Vans, berharap penjelasannya bisa membuat Alena membiarkan dirinya yang meminjam buku tersebut.

__ADS_1


Yah, seperti yang ia katakan barusan. Lima bulan terakhir ia terus mengejar Reline sang gadis cantik dan populer di sekolah ini. Namun, Vans selalu di tolak mentah-mentah serta di hina oleh Reline. Semua murid di seluruh sekolah ini tahu, jika Raline membuat Vans menjadi babu yang menuruti setiap keinginan gadis itu.


Vans yang sudah jatuh cinta dengan kecantikan dan keanggunan Reline tidak mau berhenti, meski terkadang dia harus menjadi bulan-bulanan preman sekolah yaitu Justin dan dua kacungnya.


Justin juga sangat menyukai Reline. Sehingga pria tersebut akan membantai siapa pun yang berani mendekati gadis cantik itu. Meski di perlakukan dengan sangat kejam, Vans tidak mau mundur dan menyerah. Dia terus memperjuangkan cintanya untuk Reline tanpa kenal takut dengan Justin.


"Gue mohon," pinta Vans dengan wajah memelas.


"Gue ngak peduli, gue juga butuh buku ini," ucap Alena dengan dingin. Lalu segera mengambil buku sains tersebut dan melenggang pergi meninggalkan Vans.


"Aissshhh, Reline pasti akan marah sama gue," kesal Vans mengusap wajahnya kasar.


Begitulah hubungannya dengan Alena. Dingin dan kaku, meski pernah saling membantu satu sama lain. Namun, hal itu terjadi saat awal-awal Vans menjadi murid baru. Setelah itu, keduanya sangat canggung seperti dua orang asing yang tidak saling mengenal.


Meski mereka satu kelas, tapi keduanya bukanlah teman. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Alena sibuk dengan impian kecilnya, dan Vans sibuk melayani Reline dan mengejar cinta gadis cantik itu.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


vote

__ADS_1


gift


__ADS_2