The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Rumah Alena


__ADS_3

...20...


Tok!


Tok!


Tok!


"Masuk!" seru suara wanita dari dalam ruangan setelah diketuk. Vans membuka pintu dan masuk ke dalam. Terlihat wanita dengan wajah judes dan galak tengah duduk dengan buku besar di depannya.


Vans berjalan mendekat dengan kepala tertunduk. Wanita yang tak lain adalah Bu Anggrek, mantan wali kelas XA. Bu Anggrek menatap Vans dengan tatapan meneliti. Mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Ada perlu apa kamu kemari?" tanya Bu Anggrek dengan nada terkesan sinis.


Vans mengangkat wajahnya dengan takut-takut. Sungguh atmosfer di sekitarnya terasa menjadi sangat berat saat berhadapan dengan guru wanita yang terkesan killer.


"Saya, ingin bertanya di mana alamat rumah Alena? Bu," jawab Vans memberanikan diri.


"Untuk apa?" selidik Bu Anggrek, yang berhasil membuat Vans semakin gemetar.


"Alena tidak masuk sejak libur usai. Jadi, saya pikir untuk berkunjung ke rumahnya. Kami adalah teman, dia juga tidak mengabari jika tidak masuk sekolah. Jadi, wajar kan Bu, jika seorang teman ingin tahu kabar temannya?"


Bu Anggrek hanya menatap Vans dengan tajam tanpa merespon ucapan pria muda itu. Vans yang terus diperhatikan merasa risih karena tatapan Bu Anggrek rasanya saat ini sedang mengulitinya. Bu Anggrek meraih kertas kecil di samping tangannya. Lalu, mencoretkan tinta hitam di atas kertas tersebut.


"Ambillah, ini alamat rumah Alena!" seru Bu Anggrek yang langsung membuat kepala Vans mendongak seketika. Wajah ketakutan Vans seketika berubah semringah. Akhirnya, ia mendapatkan apa yang ia inginkan. Vans mengambil kertas tersebut, melihat coretan alamat rumah Alena yang ternyata tidak jauh dari rumahnya.


"Terimakasih, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu," pamit Vans yang langsung keluar dari ruangan Bu Anggrek yang sudah terasa seperti kandang macan, sungguh sangat mengerikan.


...----------------...


Alena duduk di atas kasur dengan laptop di depannya. Saat ini ia sedang menonton tarian ballet yang dikirim oleh Madam Mosy.


Yah, akhirnya setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam, ia sampai di rumah. Rumah yang selalu menjadi batasan hidup antara dirinya dan dunia luar.


Kamar dengan nuansa Pink Soft ini adalah tempat favorit bagi Alena. Di mana, ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus mengenakan kacamata serta tompel.


Terlihat di dinding kamar, terpajang bingkai foto masa kecil Alena. Gadis itu terlihat begitu manis dan cantik dengan senyum merekah di bibirnya. Setiap moment bersejarah dalam hidupnya selalu ia abadikan dengan sebuah foto.


Sementara di sebelah lemari pakaian, juga terdapat sebuah lemari kaca yang cukup tinggi. Lemari itu berisi 40 piala mendunia yang berhasil Alena raih dalam dunia ballet.


Satu hal yang menarik, sebuah figura berbentuk kalender yang terpajang di atas meja belajar Alena. Ada tiga buah coretan tangan dengan judul 'Impian Alena'

__ADS_1


"Tariannya sungguh bagus," ucap Alena memuji video yang baru saja ia tonton. Ia pun mematikan laptop dan meraih ponselnya yang sudah hampir satu bulan tidak ia sentuh.


Selama di Singapur kedua orang tuanya tidak mengizinkan ia memainkan benda pipih itu. Kedua orang tuanya memberikan alasan jika ia harus fokus dengan pengobatannya.


Saat benda pipih itu menyala, beberapa notifikasi masuk dengan beruntun. Alena mengejitkan keningnya saat melihat nomer tidak dikenal mengirimkan banyak sekali pesan.


'Alena, kenapa lo berbohong sama orang tua gue?'


'Gue Vans.'


'Alena, jawab pesen gue, plesae!'


'Lo, kenapa ngak masuk sekolah?'


Bunyi beberapa pesan Vans yang terus dikirim berulang-ulang. Bahkan, pesan tersebut sekitar 100.


"Vans? Ini nomer Vans?" gumam Alena yang masih tidak percaya jika ada seseorang yang mengirim pesan kepadanya. Sungguh sebuah kemustahilan.


Sedangkan di sisi lain. Vans memandang rumah besar dan mewah di hadapannya. Rumah yang bahkan lebih besar dua kali lipat dari rumahnya sendiri. Bibirnya pun sampai terbuka karena kagum dengan bangunan di depannya.


"Hei, nak. Kamu siapa?" tanya seorang pria paruh baya dengan pakaian satpam kepada Vans. Pria tersebut menghampiri pria remaja dengan seragam yang sama yang selalu dikenakan oleh putri majikannya.


Vans menyeka keringat di pelipisnya. Lalu tersenyum pada satpam yang kini sudah berada di depannya.


"Ohh, kamu temennya Non Alena. Dia ada di rumah, ayo masuk!" ajak sang satpam dengan senyum ramah. Ia segera membuka gerbang untuk Vans, yang langsung menggiring sepedanya masuk ke dalam.


Vans mengedarkan pandangannya, ternyata rumah Alena sangat besar. Jarak antara gerbang dengan pintu utama saja lumayan jauh. Bisa Vans simpulkan jika Alena adalah putri orang kaya. Namun yang menjadi pertanyaan, kenapa penampilan gadis itu terkesan sederhana? Tidak seperti gadis konglomerat lainnya yang selalu tampil Styles. Apa itu artinya, ia dan Alena memiliki kesamaan dalam masalah penampilan?


Tanpa sadar bibir Vans tersenyum memikirkan kesamaan antara dirinya dan Alena. Namun, jika di pikir-pikir jangankan masalah penampilan, masalah nasib pun tidak jauh berbeda.


Ting ... Tong ....


Satpam tersebut memenjet bel. Dari balik pintu terlihat dua pelayan wanita yang membukakan pintu.


"Ada apa?" tanya salah seorang pelayan.


"Itu, ada temen Non Alena," jawab satpam tersebut sambil menoleh ke belakang. Di mana Vans sedang memarkirkan sepedanya.


"Hei, nak. Kemarilah!" seru satpam tersebut sambil melambaikan tangannya pada Vans. Dengan setengah berlari Vans mendekat dan langsung tersenyum pada dua pelayan di depannya.


Dua pelayan wanita tersebut langsung membungkukkan tubuhnya 90°, memberikan penghormatan pada Vans.

__ADS_1


Vans yang diperlakukan seperti itu hanya tersenyum canggung. Pelayan di rumahnya saja tidak memberi hormat seperti ini. Akan tetapi, pelayan di rumah ini menghormatinya seakan-akan ia seperti seorang raja.


"Siapa yang datang?" tanya Nyonya Giana dengan berteriak.


"Teman Nona Alena, Nyonya!" seru salah satu pelayan menjawab pertanyaan sang majikan.


Nyonya Giana cukup terkejut mendengar jawaban pelayan tersebut. Ia tidak percaya jika putrinya memiliki seorang teman. Akan tetapi, ia bahagia mendengar hal itu.


Nyonya Giana segera meletakkan buah-buahan yang baru saja ia cuci, dan bergegas menuju pintu. Ia sangat penasaran dengan teman putrinya yang datang berkunjung.


Kedua pelayan wanita tersebut langsung menyingkirkan tubuh mereka, saat Nyonya Giana datang. Nyonya Giana tersenyum ramah melihat Vans. Pria remaja di depannya terlihat adalah anak baik-baik dan sederhana. Lalu, senyum lembut yang melengkung di bibir Vans benar-benar mampu memikat Nyonya Giana.


Ia pikir jika yang datang adalah seorang gadis. Akan tetapi perkiraannya salah, yang datang justru seorang remaja laki-laki.


"Halo, Tante," Sapa Vans denga menundukkan kepalanya memberi hormat pada wanita yang ia yakini sebagai ibu Alena. Meski, ia sedikit ragu akan hal itu.


"Halo, kamu temannya Alena?" tanya Nyonya Giana dengan antusias.


"Iya, Tan. Namaku Vans, teman sekelas Alena."


"Baiklah, Vans. Masuk dan duduklah, Tante akan memanggil Alena untuk turun. Kalian jamu tamu Nona Alena dengan baik." Nyonya Giana mempersilahkan Vans untuk masuk, dan memerintahkan kedua pelayan tersebut untuk melayani Vans. Sementara ia langsung bergegas menuju kamar Alena.


Vans melangkahkan kakinya memasuki rumah Alena yang ternyata sangat indah dan mewah. Bisa ia perkirakan jika perabotan yang terpajang di rumah ini adalah benda-benda yang sangat mahal.


"Silahkan duduk, Tuan!" seru salah satu pelayan tersebut.


"Terimakasih," jawab Vans dengan sopan.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2