The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Ayo cerita!


__ADS_3

...24...


Vans memarkirkan sepedanya di garasi. Lalu meraih paperbag berisi kue buatan Nyonya Giana. Rasanya, hari ini ia merasa begitu senang, pertama ia dan Alena menjadi teman. Kedua gadis itu mau datang makan malam di rumahnya sehingga ia tidak perlu lagi mendengar ocehan dari sang Momy, dan yang ketiga ia menang taruhan di mana Alena akan membantunya mendapatkan Raline. Namun, dari tiga hal tersebut yang paling menarik untuk dirinya adalah hal ketiga. Ia sangat penasaran apa yang akan dilakukan Alena untuk membantu dirinya mendapatkan Raline sang dewi sekolah.


"Aku pulang!" seru Vans masuk ke dalam rumah dengan senyum merekah.


Vihan dan Tuan Ferdy yang berada di ruang tamu langsung menoleh ke arah Vans.


"Orang tuh pulang sekolah, pulang. Bukannya malah keluyuran!" sindir Vihan dengan sedikit berteriak. Namun, tidak menoleh ke arah Vans yang hanya mencebikkan bibir mendengar sindiran Vihan.


"Kenapa pulang jam segini, Vans?" tanya Tuan Ferdy dengan nada menyelidik dan tatapan tajam. Akan tetapi tatapannya jatuh pada paperbag yang dibawa oleh putranya.


"Maaf, Dad. Aku pulang terlambat karena berkunjung ke rumah Lena." Vans merebahkan bokongnya. Lalu, merogoh ponsel dalam saku celana.


"Lena?" sahut Vihan menatap Vans dengan kening berkerut. Siapa itu? ia sama sekali tidak pernah mendengar nama tersebut.


"Alena, gadis manis yang menyelamatkan Vans waktu itu!" seru Nyonya Hana yang langsung nimbrung begitu keluar dari kamar. Wajahnya terlihat sangat antusias mendengar jika Vans berkunjung ke rumah Alena. Ia tidak sabar mendengar cerita putranya itu. Vihan yang mendengar hal itu hanya menganggukkan kepalanya. Sekarang ia ingat gadis berkacamata dengan tompel di pipi kirinya ternyata bernama Alena.


"Bagaimana, Vans. Apa kamu sudah mengundang Alena untuk makan malam di rumah kita?" tanya Nyonya Hana dengan semangat.


"Iya, Mom," balas Vans singkat, sementara ia sibuk berkirim pesan dengan Alena. Ia sedang mengingatkan Alena untuk segera bersiap, dan lucunya gadis itu membalas dengan sinis serta emot kesal.


"Apa dia akan datang?" tanya Nyonya Hana lagi.


"Iya, Mom."


"Apa kue ini dari Alena, Vans?"


"Iya, Mom."


Nyonya Hana mendengus kesal karena sejak tadi ia bertanya, Vans hanya menjawab iya dan fokus dengan ponselnya. Padahal, ia sedang menunggu Vans menceritakan tentang apa yang ia lakukan di rumah Alena. Akan tetapi, putra bungsunya itu malah senyum-senyum sendiri seperti orang gila sambil memandangi ponselnya.


"Vans, Momy sedang bicara padamu!" seru Nyonya Hana dengan suara yang tegas, membuat Tuan Ferdy yang tengah diam-diam menghabiskan kue langsung menoleh ke arah istrinya yang terlihat kesal, dengan hidung kembang kempis seperti pompa balon.


"Kenapa, Mom?" tanya Vans dengan santainya, lalu mematikan ponselnya dan menatap sang Momy yang sepertinya membutuhkan perhatian.


"Momy sedang bicara padamu tapi kamu malah asik dengan ponselmu. Apa begitu caramu berbicara dengan Momy, Vans? Momy ingin tahu bagaimana dan apa yang kamu lakukan di rumah Alena. Ceritakan pada Momy!" tekan Nyonya Hana dengan menghembuskan nafasnya kasar.

__ADS_1


"Astaga, Mom. Momy ini kepo banget sih," sela Vihan dengan tertawa ringan.


"Kepo?"


"Knowing Everything Partical Object, atau biasa di singkat KEPO. Artinya, sikap yang selalu ingin tahu urusan orang lain," jelas Vihan yang langsung diangguki oleh Vans.


"Tentu saja, Momy harus ..., yah kepo sama Vans karena Momy ingin tahu apa yang kamu lakukan di rumah Alena. Seorang ibu wajar saja kan, ingin tahu apa yang dilakukan anaknya," ujar Nyonya Hana membela diri.


"Sudahlah, Vans. Ceritakan saja, lagipula Dady juga ingin tahu," sela Tuan Ferdy dengan mengedipkan sebelah matanya nakal.


Vans dan Vihan membuka mulut mereka dengan kedua mata melebar. Mereka tahu apa arti kedipan dari sang ayah.


"Dad, ini tidak seperti yang kau pikirkan," sanggah Vans yang mulai terpojok.


"Ternyata dia, Vans. Waww, aku merasa kalah jika seperti ini," sosor Vihan.


"Please, kambing. Jangan mikir kayak gitu, Alena cuma temen aku." Vans.


"Temen apa demen, Ha ... Ha ...," ledek Vihan.


"Hei, Vans. Kamu belum cerita!" panggil Nyonya Hana dengan setengah berteriak. Namun, Vans terus berjalan tanpa menoleh kembali.


"Tuh kan, ngak jadi deh Momy tahu tentang Alena," gerutu Nyonya Hana dengan menatap Vihan kesal.


"Udah donk, Mom. Jangan manyun gitu kan tambah cantik," ledek Vihan sambil memeluk bahu Nyonya Hana.


"Kamu bilang Momy cantik kalau manyun. Berani kamu ya ngeledek, Momy. Vihan!" teriak Nyonya Hana sambil menoyor kepala putranya.


"Ya ampun, Mom. Ya kali Vihan bilang jelek, kan terlalu jujur, Momy itu wanita tercantik di hidup Vihan. Jadi, jangan manyun lagi, ya." Tawa Vihan sembari mengecup gemas pipi Nyonya Hana.


.


Vans kembali menyalakan ponselnya. Gara-gara sang Momy aktivitas berkirim pesan dengan Alena harus terhenti. Vans melebarkan matanya melihat notifikasi pesan dengan nama kontak Alena. Bibirnya terus saja tersenyum sejak tadi.


'Dengar, Vans. Berhenti memintaku untuk mengirim foto karena aku tidak suka' bunyi pesan dari Alena yang menolak mengirimkan foto dirinya karena Vans memaksa untuk mengirim foto Alena setelah selesai bersiap.


'Jika kamu tidak mengirimkan fotomu. Bagaimana bisa aku mengenalimu nanti?' balas Vans dengan cekikan, membuat Alena kesal sungguh sangat menyenangkan.

__ADS_1


'Kamu pikir aku ada di lautan manusia!'


'Ohh, Alena jadi marah'


'Diam, jangan meledekku terus. Jika tidak, aku tidak mau pergi makan malam ke rumahmu'


"Dasar pengancam," umpat Vans membaca pesan dari Alena. Niatan ingin membuat Alena kesal malah ia yang di skakmat oleh gadis itu.


Vans melempar asal ponselnya. Lebih baik, ia bersiap sekarang untuk menjemput Alena. Ia tidak mau gadis itu menunggu.


Vans segera meraih handuk yang tergantung di samping lemari, lalu masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan jam 07:00 malam. Ia harus bergegas dengan cepat.


...----------------...


Sementara di kediaman Pradipta, tepatnya di kamar Alena. Gadis itu tengah tersenyum menatap layar ponselnya. Ia sangat senang karena berhasil membuat Vans tidak berkutik dengan ancamannya. Bagaimana tidak? Pria itu terus saja memaksa dirinya untuk mengirimkan foto. Tentu saja, ia merasa kesal.


Alena menatap pantulan dirinya di depan cermin. Kali ini ia memakai gaun dress selutut dengan bagian mengembang di bawah. Gaun dengan warna pich itu terlihat indah terpasang di tubuhnya. Kulit putih bersih dan terkesan licin membuat warna soft itu menyatu dan cocok dengan warna kulit Alena.


Alena meraih stiker tompel yang selalu menghiasi wajahnya. Stiker yang selalu berhasil menutupi kecantikan dari wajah indah dan anggun milik Alena. Jika ditanya apa ia bosan dan jenuh? Tentu, jawabannya adalah iya. Akan tetapi, identitasnya jauh lebih penting dari rasa jenuh dan bosan.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips


Othor maksa nih. udah UP banyak masak ngak ada timbal balik🥲 ayo donk biar othor makin semangat buat lanjut nih

__ADS_1


__ADS_2