
...17...
Jam istirahat akhirnya tiba. Seperti biasa, seluruh murid berhamburan keluar dari kelas dengan bahagia. Seolah-olah mereka keluar dari sangkar besi yang selalu membelengu mereka.
Akan tetapi, tidak dengan Vans yang masih duduk di kursinya sambil menatap nanar meja Alena yang kosong. Raut kecewa terlihat di wajah tampan Vans yang terhalang oleh kacamata besar di hidungnya.
Hari ini, ia harus menelan kembali rasa penasarannya. Ia juga tidak bisa menyampaikan pesan sang ibu untuk mengundang Alena untuk makan malam di rumahnya. Satu pertanyaan dalam benaknya sekarang. Kenapa gadis itu tidak masuk sekolah?
Ting Tong!
Sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel Vans. Terlihat jika pesan itu dari Raline. Vans bisa menebak jika Raline pasti meminta dirinya untuk membelikan makanan untuk gadis itu.
Bibir Vans tersenyum tipis. Hatinya menghangat, sungguh ia sama sekali tidak bisa mengendalikan hatinya yang selalu jatuh dalam pesona Raline. Dengan semangat, Vans segera beranjak dari duduknya untuk segera pergi membeli makanan untuk Raline.
Raline sedang berada di kelasnya bersama dua temannya. Mereka sedang bercanda dan bergosip ria, membicarakan tipe pria idaman mereka.
"Rel, sumpah gue masih inget saat si culun nembak lo. Di hadapan seluruh orang lagi. Dia benar-benar keren, ha ... ha ..., ceritain donk gimana rasanya di tembak sama cowok culun kayak dia!" seru salah satu teman Reline terdengar mengejek.
Raline memutar kedua bola matanya malas, mengingat kejadian malam itu saja membuat ia bergidik ngeri. Sungguh, saat itu adalah hal yang paling memalukan dalam hidupnya.
"Ck, lo ngak usah ngejek-ngejek gue kayak gitu. Lo udah lihat sendiri kan gimana gue nolak si Vans. Dia itu ngak pernah ngaca kali ya, berani-beraninya dia nembak gue. Dia pikir gue bakal bilang ' Iya gue mau, gue cinta sama lo' cih, ngimpi." Raline memilin ujung rambut lurusnya.
"Kalau Justin gimana? Dia juga sama lo, Rel,"
"Justin, dia ganteng sih. Dia juga keren, kekar, berkuasa, tapi gue agak angker aja lihat dia. Tapi, sepertinya gua bakal jadian deh sama Justin. Yah, buat naikin popularitas gue biar makin terkenal."
"Tapi kayaknya Gina ngak akan biarin lo jadian sama Justin deh, soalnya yang gue denger gosipnya dia juga suka sama Justin."
"Hah, si Gina. Dahlah dia cuma lalat bagi gue, ngak ada apa-apanya dibandingkan gue," balas Reline dengan percaya diri dan kesombongan yang begitu besar.
"Raline, nih pesanan lo!" seru Vans berteriak dari arah pintu. Ia segera mendekat ke arah Raline dan kedua temannya.
__ADS_1
Raline tersenyum senang, akhirnya makanannya sampai juga. Ternyata setelah di tolak Vans masih tetap mengejarnya. Akan tetapi, hal itu bagus. Itu artinya ia bisa terus memanfaatkan pria tolol di depannya.
Vans segera membuka makanan yang ia beli untuk Raline, lalu meletakkannya di depan gadis itu. Ia memperlakukan Raline seperti seorang ratu, meski sudah di tolak dengan begitu kejam.
"Silahkan makan," ucap Vans dengan senyum yang merekah.
"Lo emang ngak ada malu ya, Vans. Udah di tolak masih aja nempelin Raline. Kalau sampai Justin tahu, abis lo di jadiin telur dadar," cemooh salah satu teman Raline.
Vans terdiam dan hanya bisa menerima hinaan itu. Ia tidak punya keberanian untuk membalas ataupun menjawab hinaan itu. Meski, di dalam hati ia sudah sangat marah dan kesal.
"Vans, pekerjaan rumah gue belum jadi. Tolong di kerjain ya. Gue mau dapet nilai yang sempurna!" titah Raline dengan melempar buku catatannya tepat di wajah Vans.
Vans menangkap dengan cepat, meski kacamatanya sedikit bergeser karena terkena lemparan buku Reline. Vans mengangguk dengan cepat, menuruti setiap perintah dari Raline, sama persis seperti seorang babu. Ingin menolak, tetapi ia tidak berani. Selain mendapat ancaman dari Justin hatinya juga meminta hal yang sama.
"Sekarang, pergilah. Wajah lo bikin nafsu makan gue jelek," usir Raline tanpa hati dengan embel-embel hinaan di akhir kalimatnya.
Seperti yang di perintahkan Raline, Vans pun segera pergi dari hadapan Raline. Di perlakukan layaknya seperti sampah tapi wajahnya terlihat semringah dan ceria. Ia begitu sangat polos dan lugu, ia hanya berani menerima tanpa berani untuk melawan.
...----------------...
Tuan Surya dan Nyonya Giana terlihat gugup dan cemas. Mereka sedang berada di depan ruang dokter, menunggu hasil laporan pengobatan Alena selama hampir tiga minggu.
Saat ini Alena sedang tertidur dengan pulas di dalam ruang inap VVIP setelah melakukan metode penyembuhan terakhir. Metode yang menguras tenaga Alena begitu banyak. Untungnya, ini adalah metode terakhir yang akan gadis malang itu jalani.
Nyonya Giana terus mondar-mandir di depan Tuan Surya yang tengah duduk dengan kepala tertunduk dalam. Sesekali, Nyonya Giana melipat tangannya dan menggigit ujung jarinya karena rasa khawatir dan cemas yang berkumpul menjadi satu di dalam dirinya.
Tuan Surya semakin pusing dan ikut cemas melihat sang istri yang terus mondar-mandir di depannya. Akhirnya, Tuan Surya angkat bicara.
"Mom, bisakah kamu berhenti. Dady tambah pusing jika kau terus mondar-mandir seperti setrikaaan," keluh Tuan Surya dengan meraih tangan Nyonya Giana dan menuntun wanita itu untuk duduk di sampingnya.
"Bagaimana Momy bisa diam, Dad. Momy begitu cemas dengan hasil laporan pengobatan Alena," timpal Nyonya Giana dengan air mata yang menitik bebas di pipinya.
__ADS_1
"Percahayalah, Mom. Kali ini kita akan berhasil, penyakit Alena akan hilang dan dia akan segera sembuh," hibur Tuan Surya menyakinkan sang istri. Meski, ia sendiripun tidak yakin dengan apa yang ia katakan.
"Momy, sudah tidak tega lagi, Dad, melihat Alena yang kesakitan karena terus melakukan berbagai macam pengobatan. Dia sudah sangat lelah, biarpun Alena tidak mengatakan hal itu tapi Mom bisa melihat deritanya. Dad, kenapa harus putri kita, hiks ... hik ...." Tangis Nyonya Giana seketika pecah. Ia sudah tidak bisa lagi berakting menjadi sosok yang kuat. Ia sudah tidak tahan lagi, semuanya terasa begitu menyesakkan.
Tuan Surya menarik tubuh Nyonya Giana masuk kedalam pelukannya, menyalurkan kekuatan pada istrinya untuk selalu tabah dan sabar. Ia juga sama rapuhnya dengan sang istri. Ayah mana yang tidak sedih dan hancur melihat putri satu-satunya sakit keras. Akan tetapi, ia adalah kepala keluarga. Ia adalah penopang hidup istri dan putrinya. Untuk itu, ia tidak bisa terlihat lemah dan rapuh.
"Yakinlah dengan keajaiban tuhan, Mom. Mungkin, saat ini Alena sangat menderita tapi itu adalah perjuangan dia menuju sebuah kesembuhan. Sekarang, berhentilah menangis. Jika Momy lemah seperti ini, maka Alena juga akan melemah. Momy, harus menunjukkan kepada Alena jika Momy kuat sehingga Alena juga bisa kuat."
Nyonya Giana mengangguk mengerti. Ia mengontrol emosi dalam dirinya dan menghapus air matanya. Nyonya Giana menarik nafas dalam, mensugesti dirinya dengan pikiran-pikiran yang positif.
Klek!
Ruangan dokter terbuka membuat fokus Tuan Surya dan Nyonya Giana beralih.
"Tuan, dan Nyonya Pradipta, silahkan masuk. Dokter akan memberikan hasil laporan pengobatan, Nona Alena," ujar perawat menyingkirkan tubuhnya, memberi ruang untuk Tuan Surya dan Nyonya Giana.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
vote
tips
__ADS_1