The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Om boleh aku menginap?


__ADS_3

...75...


"Sssttt." Alena lansung meletakkan ujung jarinya di depan bibir Vans sebelum pria tampan itu menyelesaikan kalimatnya yang bisa membuat hati Alena semakin luka.


Waktu seakan berhenti saat tatapan Alena dan Vans bertaut dan menyatu menjadi satu. Adu tatap-tatapan penuh rasa dengan jiwa yang berkelana pun tak dapat dihindari. Sentuhan lembut di bibir Vans membuat pria itu tak bisa bergeming. Di mana tatapan Alena selalu berhasil mengunci pergerakan bola matanya. Begitu pula dengan Alena yang terdiam membeku seperti patung dengan rasa cinta yang semakin subur di hati. Selalu saja terjadi adegan yang mampu meluluh lantahkan benteng hati yang sudah ia bangun dengan susah payah.


Menyingkirkan rasa untuk Vans semakin terasa mustahil baginya. Setiap ia ingin melupakan rasa cintanya, saat itu juga terlukis momen indah yang semakin memupuk cinta tersebut. Ingin rasanya ia mengatakan jika ia sangat mencintai pria yang ada di depannya. Memeluk tubuh indah itu dan mengatakan jika dia hanya miliknya.


"Ekhhmmm," dehem suara bass Tuan Surya yang berhasil membuat kontak mata Alena dan Vans terputus.


Keduanya saling menjauh dengan gerakan kaku dan salah tingkah. Terutama Alena yang sudah terlihat seperti maling yang ketahuan mencuri barang.


"Kenapa kalian mengobrol di sini? Alena kamu tidak mengajak Vans masuk?" tanya Tuan Surya dengan senyum ramah. Tidak terbersit sedikipun curiga pada dua remaja yang tengah menunduk menyembunyikan wajah mereka yang memerah.


"Emmm, a--aku akan mengajak---"


"Om, bolehkah aku menginap di sini?" sosor Vans dengan cepat sehingga memotong kalimat Alena.


"Tentu saja boleh, di rumah ini banyak kamar yang bisa kamu tempati," balas Tuan Surya memperbolehkan.


Alena menaikkan alisnya. Sekarang apa yang harus ia lakukan? Ia pasti tidak akan bisa tidur jika Vans menginap. Sepanjang malam ia pasti akan memikirkan pria itu tanpa henti. Jika seperti ini, kapan perasaanya pada Vans bisa ia singkirkan?


"Tapi besok kita akan sekolah," seloroh Alena mengingatkan, berharap jika Vans membatalkan niat untuk menginap.


"Tidak papa, Dady akan siapkan seragam untuk Vans besok. Jangan khawatir, semuanya akan baik-baik saja." Tuan Surya memberi solusi yang membuat Alena semakin kesal dan gelagapan. Sang ayah sama sekali tidak mengerti dan peka akan keinginannya.


"Yes, gue bakal nginep di sini," ucap Vans kegirangan.


"Makasih, Om. Maaf, aku jadi ngerepotin," imbuh Vans dengan wajah sedikit tidak enak.


"Tidak papa, itu hanya hal kecil sama sekali tidak merepotkan. Kamu bisa menginap di sini kapan pun yang kamu mau. Sekarang, kalian tidurlah. Ini sudah malam." Tuan Surya menepuk tiga kali bahu Vans dan melangkah pergi meninggalkan dua remaja itu. Di mana perasaan mereka sedang bertentangan. Yang satunya, sangat senang karena diizinkan menginap. Sedangkan yang satunya lagi tengah khawatir dan merasa gelisah.


"Lo kayaknya ngak suka banget kalau gue nginep di sini," selidik Vans dengan kedua tangan terlipat di dada.


Alena mendongakkan wajahnya pada Vans. Ia berusaha mengontrol perasaan gelisah dan khawatir dalam dirinya agar tidak terlihat. Ia tidak ingin Vans sampai curiga. Malam ini, ia harus ekstrak hati-hati. Mulai dari mempertahankan penampilan saat tidur. Lalu, memastikan jika Vans tidak akan sampai masuk ke dalam kamarnya seperti tadi.

__ADS_1


"Ah, lo apaan sih. Udahlah, gue ngantuk mending kita tidur aja," final Alena mencoba menghindari Vans.


"Ck, lo main tidur aja. Kita ngak main dulu apa ngobrol gitu?"


"Ngobrolnya bisa lanjut besok aja."


"Ngak asik banget lu."


"Ya, lo ngerti donk gue capek."


"Lo ngak ngapa-ngapain tapi capek."


"Gue tadi olahraga bentar jadi capek. Gue bakal anterin lo ke kamar tamu. Lo udah kasih tahu Tante Hana kalau lo mau nginep di sini?"


"Belum."


"Ya udah, lo kasih tahu sekarang gih. Kasian Tante Hana kalau lihat anaknya ngak ada di rumah pasti dia khawatir."


"Siap, Buko."


Percakapan ringan antara Alena dan Vans pun terus berlanjut. Terkadang mereka sesekali tertawa ringan dengan guyonana yang dilontarkan. Sementara kedua kaki mereka terus melangkah dan berhenti di depan kamar tamu.


"Emang kamar tamunya di sini. Lagian, kamar gue ada dalam satu rumah jadi ngak jauh-jauh amat. Kalau lo butuh bantuan atau apapun lo bisa panggil---"


"Lo, kan?" sosor Vans cepat.


"Lo bisa panggil pelayan. Soalnya gue mau tidur." Alena berbalik dan hendak pergi. Namun, dengan cepat Vans menarik pergelangan tangannya dan menarik tubuh Alena hingga kembali berbalik.


"Makasih," ucap Vans dengan tulus sembari menatap dalam kedua bola mata indah Alena. Entah mengapa, ia selalu ingin melihat dan menatap kedua mata indah dengan bulu mata yang lentik itu. Seolah mata Alena memiliki magnet yang mampu menyedot dirinya.


Deg!


Deg!


Deg!

__ADS_1


Degup jantung Alena kembali berdetak dengan tidak normal. Di mana dadanya terasa begitu sesak melihat tatapan dalam Vans. Tatapan yang selalu membuat ia mabuk dan tidak bisa lepas.


Tidak, aku harus sadar diri. Batin Alena membangun benteng dalam dirinya. Dengan cepat ia memutuskan kontak mata dengan Vans dan memilih membuang wajah asal.


"Apa wajah gue jelek. Makanya lo ngak mau natap gue, atau ada sesuatu yang salah di wajah gue?" tanya Vans dengan sedikit tidak suka. Entah mengapa, Alena selalu saja mengalihkan pandangan saat bersisitatap dengannya.


Gue ngak bisa karena semakin gue natap lo. Maka cinta gue akan terus tumbuh. Batin Alena, tentu saja, ia tidak memiliki keberanian untuk mengatakan hal itu.


"Iya, wajah lo jelek jadi gue jengah negliatnya," kilah Alena dengan tersenyum mengejek. Vans tersenyum kecil dan mengacak rambut Alena gemas. Semakin hari, ia merasa tidak bisa jauh dari gadis ini. Seakan ada sesuatu yang menarik dirinya untuk terus berada di sisi Alena. Saat berada jauh, ia merasa khawatir dan cemas. Namun, hal itu wajar bukan, jika terjadi pada sepasang teman yang saling menyayangi.


"Ck, jangan berantakin rambut gue," sebal Alena dengan memicingkan matanya.


"Gue suka dan gue bakal lakuin terus."


"Ihh, nyebelin."


"Ha ... Ha ... Ya udah gue masuk. Selamat malam Buko bawel."


"Selamat malam."


"Mimpiin gue ya," kekeh Vans dengan mengedipkan mata.


"Ngak bakal," balas Alena dengan menjulurkan lidahnya meledek Vans. Lalu, segera berlari menuju kamarnya. Sudah cukup hari ini ia dibuat terkejut oleh semua hal. Mulai dari penyakitnya, kemudian Gina dan Zeli yang tiba-tiba berubah, dan sekarang Vans yang menginap di rumah. Semuanya terjadi di luar dugaan. Namun, ia harus menyiapkan kejutan yang romantis untuk Raline. Ia ingin Vans segera mendapatkan keinginannya dan bisa melihat pria itu bahagia bersama dengan gadis yang dia cintai walaupun di lain sisi ada gadis yang terluka, dan harus memendam rasa. Dan gadis itu adalah dirinya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komen


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2