The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Matahari tenggelam


__ADS_3

...49...


"Pejamkan mata indah lo untuk sebentar. Gelap ini akan mengantarkan lo pada sinar yang indah," lirih Vans dengan tatapan yang begitu dalam. Kedua kelopak mata Alena terpejam dengan rapat meskipun ia bingung dengan apa yang akan dilakukan oleh Vans. Namun, seluruh bagian tubuhnya menurut pada perintah pria itu walaupun pikiran dan perasaan menolak akan hal itu.


"G--gue takut gelap," ujar Alena terbata-bata dengan raut wajah panik, tetapi kedua matanya tetap terpejam. Seolah sapuan tangan Vans yang begitu lembut di wajahnya seperti lem perekat yang sangat lengket.


"Sssttt, ada gue di sini. Gue akan menjadi mata dan penuntun buat lo."


Ucapan Vans yang begitu membuai gendang telinga Alena membuat ia menuruti setiap perkataan Vans. Seolah apa pun yang keluar dari mulut pria tampan itu menjadi sebuah mantra yang sangat ampuh.


Dengan hati-hati, Vans menggiring Alena keluar dari taksi. Ia memastikan kap mobil tidak membentur kepala Alena. Sedangkan Alena memegang satu Vans dengan erat, berjaga-jaga agar ia tidak jatuh tersandung batu.


Langkah keduanya berhenti. Perlahan, Vans menarik tangannya dari kedua mata Alena sehingga pandangan gadis itu terbuka dengan perlahan. Pandangan Alena yang sedikit mengabur mulai menjadi jelas. Bersamaan dengan hal itu, kedua mata Alena terperanjat dengan apa yang ia lihat.


Saat ini ia berada pada sebuah bangunan dengan enam buah tiang yang menyangga bangunan beton tersebut. Di mana bangunan berwarna putih yang sudah sedikit berlumut itu dihiasi oleh tanaman jalar yang menjalar di setiap tiang pilar bangunan itu. Akan tetapi, yang membuat tempat ini semakin indah adalah pemandangan tenggelamnya matahari yang bisa terlihat dengan begitu cantik, dipadukan dengan luasnya danau hijau dengan air yang jernih.


Sungguh ciptaan tuhan yang sangat indah. Dalam hidup Alena tidak pernah melihat tempat seindah ini. Sinar jingga yang selalu ia kagumi. Kini, menerpa tubuhnya. Burung merpati yang terbang bersama kawanannya terlihat begitu memukau dengan formasi, persis sebuah tarian alami.


Rasanya, Alena ingin menari dengan alunan musik pelan dan menyentuh. Tanpa disadari, tangan Alena terangkat ke depan. Seolah-olah sedang menyentuh matahari yang hanya tinggal seperempat.


"Ini sangat indah, sangat indah," ucap Alena dengan kalimat penegasan. Ia bahkan, tidak ingin berkedip untuk sebentar saja. Takut, jikalau pemandangan ini akan hilang dari pandangannya.


Vans yang berdiri di belakang Alena melangkah ke depan dan berdiri sejajar dengan gadis itu. Ia tersenyum lebar melihat wajah Alena yang begitu kagum dengan pemandangan matahari terbenam. Wajah Alena terlihat ringan tanpa beban dan hal itu membuat hatinya merasa menghangat. Entah apa yang mendorong ia untuk selalu membuat Alena merasa bahagia. Seolah senyum Alena adalah sesuatu hal yang pantas untuk ia usahakan.


"Udah gue bilang, kan. Kalau lo pasti bakal suka sama tempat ini. Dari sini lo bisa melihat sinar jingga dan matahari tenggelam," celetuk Vans fokus pada matahari yang mulai turun menyelinap kembali ke dalam persembunyiannya.


"Gue sangat suka, dalam hidup gue ini adalah tempat terindah yang pernah gue lihat." Alena menoleh ke arah Vans. Di mana wajah pria itu terlihat semakin tampan dengan sinar jingga yang menerpa wajahnya.

__ADS_1


Bersama orang terindah dalam hidup gue. Andai tuhan mengizinkan gue untuk memiliki lo. Pasti itu adalah kebahagian yang paling besar di sisa-sisa hidup gue. Batin Alena, yang hanya bisa mengatakan hal itu dalam bisu tanpa berani mengungkapkan sepatah katapun.


"Gue juga suka, ternyata kita menyukai hal yang sama. Lo tahu, gue benar-benar merasa beruntung bisa punya temen kayak lo. Lena, makasih udah mau jadi temen gue. Gue janji, gue akan buat lo bahagia." Vans menatap Alena dengan intens. Lalu, mengacak rambut Alena dengan gemas.


Alena tersenyum kecut. Realita kembali menampar dirinya. Seharusnya ia sadar diri, jika bagi Vans dirinya hanya sebatas teman, tidak akan pernah lebih.


"Gue juga berterimakasih sama lo, Vans. Udah jadi temen buat gadis culun kayak gue. Lihat aja, besok Raline pasti akan nempelin lo. Soalnya sekarang lo udah berubah jadi superstar super tampan," puji Alena menutupi rasa sakit di ulu hatinya.


"Oh ya, apa artinya lo mulai suka sama gue?"


"Dih, apaan sih. Gue ngak bakal suka sama lo. Lo tahu, tipe gue bukan kayak lo, Vans."


"Bagus deh, soalnya hati gue hanya buat Raline. Lo tenang aja gue bakal cariin pria yang tepat buat lo."


"Ngak perlu, gue ngak kepikiran buat cari cowok." Alena memutuskan untuk fokus melihat detik-detik matahari terbenam daripada terus memikirkan fakta jika Vans tidak menyukai dirinya lebih. Di hati Vans hanya ada Raline, dan ia tidak memiliki tempat di hati Vans.


Kedua remaja itu menikmati pemandangan matahari tenggelam. Semburat awan putih yang semula menghiasi langit jingga kini berubah menjadi gelap. Para burung merpati pun sudah pulang ke rumah masing-masing. Bulan bulat dengan sinar redupnya mulai nampak di langit. Sinarnya yang tak seterang matahari, tetapi tetap indah dipandang mata.


"Udah malem, pulang yuk!" ajak Vans dengan menggandeng tanga Alena.


Alena menatap lekat pada pergelangan tangannya yang digenggam oleh Vans. Terasa begitu hangat dan mendebarkan.


"Ayo!" ajak Vans lagi, saat melihat Alena hanya diam seperti patung.


"Hah?" Lamunan Alena seketika buyar dengan wajah melongo.


"Ayo pulang, tadi maksa minta pulang. Sekarang udah di sini malah ngak mau pulang," protes Vans dengan nada yang dibuat kesal.

__ADS_1


"Baiklah, kita pulang." Alena segera berlari menuju taksi sehingga genggaman tangan Vans terlepas.


Vans menatap Alena dengan bingung bersamaan dengan tatapan tidak suka. Sikap Alena sungguh aneh, gadis itu berlari begitu saja meninggalkan dirinya. Ia segera berjalan setengah berlari menuju taksi.


Vans masuk ke dalam taksi dan melihat Alena yang malah membuang wajah. Niat awal ingin protes dan marah-marah Vans urungkan karena Alena pasti merasa lelah seharian ini. Akhirnya Vans memilih untuk diam sepanjang perjalanan. Sementara Alena memilih melihat pemandangan pinggir jalan.


Sudah cukup untuk hari ini ia banyak berintraksi dengan Vans. Ia tidak ingin jantungnya berdebar dengan kencang dengan wajah yang memerah. Jika wajahnya yang merah dilihat oleh Vans, pasti pria itu akan tahu perasaannya. Ia tidak akan pernah membiarkan Vans mengetahui tentang perasaanya.


...----------------...


...****************...


Aku balik lagi nih..


ayo donk


vote


tips


like


komentar dan


gift


ya

__ADS_1


__ADS_2