The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Izin Nyonya Giana


__ADS_3

...23...


Setelah mengobrol dan bercanda cukup lama. Akhirnya Vans pamit pulang. Apalagi sore sudah menjelang, pasti saat sampai di rumah ia akan dicecar dengan pertanyaan-pertanyaan dari sang ibu.


Alena dan Vans berjalan beriringan masuk ke dalam rumah. Seperti kesepatan awal, jika Vans akan meminta izin pada ibu Alena untuk mengajak Alena makan malam di rumahnya malam ini. Vans sangat yakin, jika ia akan menang taruhan dengan Alena.


Nyonya Giana yang sedang duduk santai sambil menonton tv langsung menghentikan aktivitasnya saat melihat Alena dan Vans mendekat dan arahnya.


Bibir Nyonya Giana tersenyum lebar saat melihat Alena yang tertawa lepas bersama Vans. Ia sangat senang melihat hal itu, rasanya sudah sangat lama ia tidak melihat tawa tanpa beban Alena. Ia benar-benar sangat terharu. Nyonya Giana mengusap ujung matanya yang sudah mulai berembun. Ia tidak boleh menangis di depan kedua remaja itu.


"Kalian sudah selesai mengobrol?" tanya Nyonya Giana saat Alena dan Vans sudah berdiri di depannya.


"Vans katanya mau pamit, Mom," jawab Alena dengan nada menantang. Ia ingin lihat apa Vans benar-benar berani untuk meminta izin pada sang Momy. Ia yakin, sang ibu pasti akan melarang ia pergi. Meski, sebenarnya ia sangat ingin makan malam di rumah Vans.


"Ohh, kok cepet banget sih, Vans. Ya udah, Momy ambil kue yang udah Momy buatin buat Vans dulu, ya." Nyonya Giana segera beranjak dari duduknya dan hendak melenggang pergi. Namun, Vans segera menghentikan langkah Nyonya Giana.


"Tante, tunggu!" seru Vans yang langsung berdiri di depan Nyonya Giana.


"Ada apa, Vans?"


"Tante, sebenarnya momyku mengundang Alena untuk makan malam di rumahku. Dia sangat ingin bertemu dengan Alena. Apa Tante bisa memberi izin pada Alena untuk bisa makan malam di rumahku?" ujar Vans dengan wajah sedikit memelas.


Nyonya Giana tampak berpikir, wajahnya yang ramah seketika berubah menjadi tegang. Alena yang melihat ekspresi sang Momy sudah mengerti jika sang Momy tidak akan mengizinkan ia pergi.


Lihat, sudah aku duga, Momy tidak akan memberi izin. Sayang sekali Vans, lo kalah. Batin Alena dengan menggeleng-gelengkan kepalanya pada Vans. Seolah-olah mengatakan jika pria itu sudah kalah.


Tidak ingin menyerah, Vans meraih tangan Nyonya Giana dan menggenggamnya dengan lembut.


"Tidak papa, jika Tante tidak mengizinkan Alena pergi ke rumahku. Aku mengerti kekhawatiran Tante tapi aku pasti kena omelan momyku karena tidak berhasil mengundang Alena. Tapi, aku tidak akan takut karena aku membawa kue buatan Tante. Aku akan memberikan kue Tante yang sangat enak itu pada momyku, dan aku yakin momy tidak akan marah lagi," ucap Vans melayangkan jurus andalannya, yaitu memuji kue buatan Nyonya Giana. Ia berharap jurus andalannya ini berhasil.


Alena menepuk jidatnya pelan mendengar perkataan Vans. Ternyata pria itu benar-benar melakukan rencana yang dikatakan di taman. Alena pikir Vans hanya bercanda.

__ADS_1


Kedua sudut bibir Nyonya Giana terangkat mendengar pujian Vans yang sangat manis di telinganya. Sungguh, hatinya berhasil dicuri oleh pria berkacamata itu.


"Ohh, pujianmu itu terdengar sangat manis sekali, Vans. Baiklah, Tante mengizinkan Alena untuk makan malam di rumahmu tapi berjanjilah kamu akan menjaga putri Tante dengan baik, mengerti!" Nyonya Giana mencubit gemas kedua pipi Vans yang terlihat sangat menggemaskan dimatanya.


Alena yang mendengar sang Momy mengizinkan dirinya pergi membuka mulutnya lebar-lebar. Ia tidak percaya dengan mudahnya sang Momy mengizinkan ia pergi. Selama ini, ketika ia izin untuk pergi ke suatu tempat pasti ada drama perdebatan antara dirinya dengan sang Momy. Akan tetapi, ketika Vans yang meminta izin Nyonya Giana langsung setuju. Alena benar-benar merasa iri.


Vans mengedipkan sebelah matanya nakal pada Alena. Lihat, jurus andalanya terbukti manjur. Itu artinya, ia memenangkan kesepakatan.


"Baiklah, Tante akan ambil kue untuk kau bawa pulang." Nyonya Giana melangkah pergi meninggalkan Alena dan Vans.


"Lihat, gue menang! Udah gue bilang kan, kalau gue bakal berhasil ngebujuk momy lo," ujar Vans dengan gaya sombongnya.


"Lo ternyata licik juga, lo puji-puji momy gue supaya lo di kasih izin. Ini sama aja curang," sanggah Alena yang tidak terima Vans menang dengan begitu mudah.


Vans berjalan mendekat ke arah Alena. Lalu, mengikis jarak antara wajahnya dengan wajah Alena yang seketika menjadi gugup.


"Dalam perang, semuanya adil untuk dilakukan. Bersiaplah malam ini, gue akan jemput lo, Lena." Vans menarik wajahnya dan tersenyum lebar. Alena mengusap bibirnya karena ia menjadi salah tingkah karena perbuatan Vans yang selalu berbicara di depan wajahnya, dengan jarak yang begitu dekat.


"Terimakasih, Tante. Ya udah, Vans pulang dulu ya."


"Iya, hati-hati."


"Dah, Lena," ucap Vans sebelum pergi pada Alena yang masih terdiam kaku di tempat.


Setelah Vans pergi. Alena langsung menghempaskan dirinya duduk di samping sang Momy. Ia ingin protes dengan sang Momy yang setuju begitu saja dengan permintaan Vans.


"Mom, kok Momy setuju sih izinin aku pergi?" tanya Alena dengan nada sedikit marah dan tidak terima.


"Memangnya kamu tidak mau makan malam di rumah Vans? Jika kamu tidak mau kenapa kamu tidak bilang pasa Vans?" jawab Nyonya Giana dengan melemparkan pertanyaan, yang membuat Alena memutar kedua bola matanya kesal. Bukan itu yang ia maksud.


"Bukan seperti itu, Mom."

__ADS_1


"Lalu?"


"Aku hanya tidak habis pikir, kenapa Momy dengan sebegitu gampangnya menyetujui permintaan Vans. Giliran aku yang meminta izin, Momy selalu melarang dan menolak. Aku hanya tidak terima saja." Alena melipat kedua tangannya di depan dada.


"Ha ... Ha ..., kamu iri dengan Vans ternyata."


"Tentu saja, aku ini anak Momy tapi selalu di larang. Giliran Vans yang minta Momy lansung setuju."


"Hmmm, dengarkan Momy. Menurut Momy Vans itu anak yang baik dan manis. Dia juga mengajakmu kerumahnya, bukan ke tempat-tempat yang buruk. Momy juga sangat senang ternyata kamu mempunyai seorang teman. Kenapa kamu tidak pernah cerita jika kamu punya teman?"


Bagaimana bisa aku cerita. Aku saja berteman dengannya baru beberapa jam yang lalu. Batin Alena.


"Cerita tentang Vans bukan sesuatu yang penting," balas Alena tanpa dosa.


"Haduh, kamu ini tidak boleh seperti itu. Kalian itu teman jadi harus saling peduli. Sudahlah, lebih baik sekarang kamu minum obat dan segera bersiap. Kamu kan akan pergi makan malam," ucap Nyonya Giana dengan sangat antusias, membuat Alena geleng-geleng kepala. Siapa yang diundang, siapa yang kesenangan bukan main.


"Baiklah." Alena melenggang pergi kembali ke kamar. Lagi-lagi ia harus minum tujuh macam obat. Sungguh sangat menyebalkan tapi butiran-butiran obat itulah yang membuatnya hidup sampai detik ini.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2