
...41...
Kedua mata Vans melebar saat melihat bangunan dengan tulisan Salon terpampang jelas dan begitu besar. Yah, sekarang ia dan Alena sedang berdiri tepat di depan sebuah salon pusat kota. Otak kecilnya masih sedang mencerna, mengapa Alena mengajak ia ke salaon? Apa gadis bertompel ini ingin keramas dan meminta ia menunggu hingga Many pedy selesai?
Berbeda dari wajah Vans yang terlihat tidak mengerti dan bingung. Ekspresi wajah Alena malah terlihat sebaliknya. Kedua sudut bibirnya melengkung tertarik ke atas, persis seperti pelangi yang melengkung indah. Alena menatap bangunan besar dan mewah di depannya. Di mana tempat tersebut terlihat ramai dengan para pengunjung. Yah, ini adalah salon terbaik di kota ini. Jadi wajar jika tempat ini sangat ramai dan laris.
"Apa-apaan ini, Alena? Salon?" celetuk Vans dengan melempar pertanyaannya.
"Yap, salon. Gue rasa tulisan itu tidak terlalu kecil sehingga lo ngak bisa baca dari jarak sedekat ini," jawab Alena dengan antusias.
"Maksud gue, ngapain lo ajak gue ke sini? Kayaknya lo ngarahin tukang supirnya nyasar deh," sanggah Vans kini melirik gadis di sampingnya yang terlihat bersemangat.
"Udahlah, Vans. Lo udah janji buat bungkem tuh mulut dan ngikutin apa yang gue bilang. Jadi, stop protesnya dan ikutin apa kata gue," sebal Alena yang sudah pusing dengan ocehan Vans yang terdengar seperti suara tikus kelaparan.
Tidak ingin membuang waktu. Alena menarik tangan Vans dengan kasar, dan menggeret tubuh Vans untuk masuk ke dalam salon. Vans yang tidak ingin masuk ke tempat para perempuan tersebut berusaha memberontak dan melepaskan pergelangan tangannya dari Alena.
"Lena, lepasin tangan gue," renggek Vans berusaha melepaskan tangannya. Namun, gadis yang sedang menarik pergelangan tangannya tidak menggubris dan bersikap tuli. Alena terus menarik pergelangan Vans untuk masuk meski ia harus mengeluarkan tenaga lebih untuk menyeret pria ini.
Bahkan, buliran keringat terbentuk di kening Alena karena Vans ternyata cukup berat. Sialnya, Vans terus saja memberontak dan berusaha kabur.
"Vans, jangan bersikap seperti anak kecil!" pekik Alena dengan melayangkan beberapa cubitan kecil di perut Vans.
"Au, jangan di cubit. Please, kalau lo mau nyalon, nyalon aja jangan ajak gue ke tempat ini. Gue ngak suka di sini, Lena. Lo liat, cuma ada cewek doang. Kalau kayak gini apa kata orang liat cowok masuk salon," protes Vans dengan ocehan panjangnya, yang membuat Alena semakin kesal.
"Gue ngak akan berhenti cubit perut lo kalau lo ngak nurut!" jawab Alena dengan meninggikan oktav suaranya dan terus melayangkan cubitan-cubitan ringan yang membuat tubuh Vans menggeliat kegelian dengan bibir yang tertawa.
Keributan keduanya membuat semua sorot mata tertuju ke arah mereka. Bahkan, beberapa wanita yang sedang perawatan ikut tertawa lucu melihat kelakukan dua remaja di pintu masuk.
Sedangkan Vans merasa sangat geli dengan cubitan Alena di perutnya. Ia merasa seperti digelitik oleh ulat bulu, sedikit terasa sakit di kulit terluar, tetapi terasa geli pada bagian dalam daging perutnya. Bahkan, parahnya ia merasa akan mengompol di celana jika Alena terus saja mencubit perutnya.
__ADS_1
"Haha ..., hentikan, Alena!" sentak Vans dengan memeluk tubuh Alena secara spontan agar gadis itu berhenti mencubiti dirinya.
Deg!
Deg!
Deg!
Jantung Alena seketika berdetak dua kali lebih cepat daripada sebelumnya. Tubuhnya terasa membeku di tempat. Seolah-olah sedang dikutuk menjadi patung batu. Pelukan Vans begitu terasa asing dengan aliran listrik yang terasa menyedot seluruh darah dalam tubuhnya.
"Gue bilang berhenti, geli cubitan lo," ucap Vans dengan nafas terenggah-enggah. Di mana rasanya engsel wajahnya terasa lepas sekarang karena terus tertawa sejak tadi. Wajah Vans menjadi lebih rileks, merasakan hangatnya tubuh Alena yang yang ada di pelukannya. Tubuh kurus Alena terasa begitu pas dan nyaman. Apalagi, aroma khas bunga lavender dari parfum gadis itu membuat Vans merasa selalu ingin menghirupnya.
Bukannya melepaskan Alena, Vans semakin mengeratkan pelukannya dengan menenggelamkan kepalanya tepat di ceruk leher Alena.
"Ekhem, kalau mau pacaran di luar aja, Mbak, Mas!" seru petugas salon yang lansung membuat Alena mendorong tubuh Vans.
Wajah Alena merasa panas dengan kedua pipi yang memerah. Ia memejamkan kedua matanya dan mengontrol nafasnya yang terasa tersendat.
"Hmmm maaf, Nona. Kami bukan pacar," ujar Alena dengan kaku. Vans juga mengangguk menyetujui perkataan Alena.
"Baiklah, Mas, Mbak, ada yang bisa saya bantu?" tanya sang petugas dengan ramah diiringi dengan senyum manis memanjakan mata.
"Ngak ada"
"Ada, Mba!" seru Alena dan Vans bersamaan dengan jawaban yang berbeda. Hal itu membuat petugas salon terlihat bingung. Ia tidak tahu, mana jawaban yang benar dan tidak. Remaja pria di depannya bilang tidak, sedangkan remaja gadis bilang iya.
Alena mengeram kesal, ia melayangkan tatapan tajam siap membunuh pada Vans, yang hanya direspon dengan cengiran kuda oleh pria tersebut.
"Lena, balik aja yuk!" pinta Vans dengan wajah memelas. Entah apa yang sedang dipikirkan Alena sehingga gadis itu membawa ia kemari. Akan tetapi, Vans yakin ada sesuatu hal yang akan terjadi. Hal itu terbukti dengan perasaanya yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Nona, aku ingin berikan layanan terbaik di salon ini untuk temanku. Aku ingin kamu melakukan sesuatu pada rambutnya. Aku ingin kamu membuat rambutnya menjadi lebih indah dan trandy," ujar Alena memberi perintah pada petugas salon yang membuat Vans syok setengah mati.
Ia menatap Alena dengan mata melebar dan bibir membulat. Apa yang ia duga akhirnya terjadi. Alena mengajak dirinya masuk ke dalam salon untuk merubah gaya rambut kesukaannya. Vans menggelengkan kepalanya frustasi, seharusnya ia tidak ikut gadis bertompel ini.
Melihat ekspresi Vans yang mirip ikan gabus. Alena hanya tersenyum penuh kemenangan. Petugas salon tersebut segera menarik lengan Vans untuk segera diberikan layanan terbaik sesuai dengan pesanan.
Alena melambaikan tangan dengan jahil pada Vans yang terus digiring masuk ke dalam salah satu ruangan. Yah, ia sengaja mengajak Vans ke salon karena ia ingin Vans mengubah model rambutnya. Ia akan mengubah Vans dari cowok cupu menjadi cowok keren. Ia yakin, saat para siswi melihat Vans yang baru, maka mereka akan meleleh seperti es krim. Lalu Raline, gadis itu pasti akan bertekuk lutut dan menempel pada Vans, dan ia akan sangat bahagia melihat Vans temannya mendapatkan cinta yang di inginkan.
Setelah Vans menghilang di balik tembok. Alena memutuskan untuk duduk di kursi tunggu. Ia memilih duduk di samping seorang wanita paruh baya dengan penampilan yang glamour.
Wanita paruh baya tersebut menatap Alena yang duduk di sampingnya. Ia tersenyum lucu, dan hal itu berhasil membuat Alena bingung.
Wanita tersebut yang mengerti ekspresi bingung Alena, akhirnya bersuara dengan nada lembut.
"Kenapa kamu pakai tompel palsu, Nak?" tanya wanita tersebut, yang lansung membuat Alena terkejut setengah mati. Bagaimana bisa wanita ini tahu jika ia memakai tompel palsu?
"Aku ini seorang penata rias prefesional, jadi jangan heran jika aku tahu tompel yang kamu kenakan hanya stiker biasa," tambah wanita tersebut dengan tatapan lembut.
"I--ini, sebenarnya ada luka di wajahku. Jadi, aku menutupinya dengan stiker tompel," jawab Alena dengan terbata-bata. Sepertinya ia harus membeli stiker tompel yang lebih bagus dan terlihat nyata. Jangan sampai, orang tahu tentang tompel palsu ini.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
__ADS_1
vote
tips