The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Ganti model rambut


__ADS_3

...42...


Di dalam ruangan seorang penata rambut sedang memainkan gunting kecilnya di atas rambut Vans. Penata rambut tersebut terlihat begitu serius dengan pekerjaannya. Ia tidak peduli dengan renggekan dan protes yang dilayangkan oleh Vans.


"Pak, tolong jangan gunting semua rambutku!" seru Vans dengan nada memelas.


"Jangan panggil aku, Pak!" sarkas pria tersebut dengan nada mendayu-dayu. Lalu, menyisir rambut Vans dengan gaya genit seperti seorang wanita.


"Tapi kamu laki-laki, punya batang dan kumis," balas Vans dengan tubuh yang sudah bergidik ngeri. Sepertinya penata rambut yang sedang merubah model rambutnya adalah seorang laki-laki banci. Sejak tadi ia masuk ke dalam ruangan ini, ia sangat merasa tidak nyaman karena pria jadi-jadian ini terus mencolek pipinya genit.


"Aku laki-laki cantik. Panggil aku Miss, kalau kamu panggil aku Pak, aku cium pipi tampan kamu," goda Penata Rambut tersebut dengan mencubit gemas pipi Vans.


Vans menelan salivanya paksa dengan wajah tertekuk dalam. Siapapun tolong bantu ia bebas dari pria ini, membayangkan pria itu mencium pipinya, sungguh membuat seluruh bulu kuduk Vans merinding.


"Iya, Miss. Jangan cium aku, aku masih polos," balas Vans dengan pasrah dan memilih untuk berhenti protes dan bersuara. Ia tidak ingin bibir tebal Penata Rambut jadi-jadian itu menempel di pipinya yang lembut.


"Haduh, kamu jangan takut, bibir aku lembut loh."


"Jangan, Miss. Aku udah punya pacar. Nanti kalau pacar aku tahu Miss cium aku dia bisa marah," bohong Vans.


"Hah? Apa gadis bertompel di luar itu pacarmu?"


"Iya, Miss." Vans menggigit ujung lidahnya karena ia sudah berani mengakui Alena sebagai pacarnya. Namun, ia tidak memiliki alasan lain karena Penata Rambut jadi-jadian ini sangat mengerikan. Lagi pula ia berada di tempat ini karena Alena. Jadi, tidak apa-apa jika ia berbohong seperti ini.


"Baiklah, aku tidak akan menciummu, tampan." Penata Rambut tersebut kembali mencubit pipi Vans dengan gemas, yang direspon dengan wajah bergidik ngeri oleh Vans.


Satu jam berlalu dengan cepat, tetapi sangat membosankan bagi Alena. Ia sudah membaca hampir semua majalah kecantikan yang disediakan di atas meja. Namun, Vans belum juga keluar dari ruang cukur rambut.


Haduh, lama banget ya kalau cowok yang nyalon. Apa rambut Vans sekeras besi sampai-sampai sudah satu jam belum kelar juga. Batin Alena dengan menghembuskan nafasnya pelan.


Tap


Tap


Tap

__ADS_1


Suara langkah kaki mendekat, membuat Alena mengangkat wajahnya dengan perlahan. Tatapannya semakin naik dan lansung terpaku saat melihat sosok pria dengan styles rambut yang sangat trandy tengah berdiri tepat di hadapannya.


Model rambut yang pendek dengan beberapa anak rambut yang sengaja dibuat berdiri. Lalu, sapuan warna tipis berwarna coklat membuat gaya rambut Vans terlihat sangat memukau dan mempesona.


Ketampanan yang selalu tersembunyi di balik rambut yang selalu di sisir ke samping, kini menguar dengan begitu kuat. Gaya rambut yang lebih Manly membuat rahang Vans terlihat semakin tegas dengan garis wajah yang semakin terlihat jelas.


Alena yang melihat aura ketampanan Vans, benar-benar jatuh dalam pesona pria tersebut. Ia bahkan tidak bisa berkedip sedetik pun karena begitu menikmati wajah tampan pria yang sedang berdiri di hadapannya dengan wajah tertekuk.


"Wah, sepertinya gadismu sangat terpesona dengan hasil karyaku," celetuk Penata Rambut tersebut dengan bangga dan gaya lemah gemulainya.


Lamunan Alena seketika pecah dan buyar mendengar perkataan sang Penata Rambut yang kini menatap dengan tatapan genit ke arahnya. Alena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, menutupi rasa malu karena kepergok menatap Vans terlalu lama.


Astaga, Alena apa yang kamu lakukan? Batin Alena dengan mengontrol mimik wajahnya yang terasa panas.


Vans mendekat ke arah Alena dengan wajah cemberut, ia tidak mengatakan apapun pada Alena dan hanya melempar tatapan sinis. Ia masih marah dengan apa yang dilakukan Alena. Rambut yang sudah ia rawat seperti diri sendiri kini sudah dilibas habis oleh Penata Rambut jadi-jadian itu.


"Terimakasih, Miss. Hasil karya anda sangat bagus dan luar biasa," puji Alena dengan menyunggingkan senyum, yang semakin membuat sang Penata Rambut menjadi besar kepala.


"Tentu saja," balasnya dengan mendayu-dayu. Lalu, berjalan menjauh meninggalkan dua remaja tersebut.


"Waw, rambut lo keren banget," puji Alena.


"Gue tahu lo ngeledek, lo tahu gue hampir diperkosa tuh sama laki-laki jadi-jadian," sungut Vans dengan menyilangkan kedua tangannya di depan dada.


"Dahlah, gue puji dibilang ngeledek. Gue ngeledek lo marah-marah. Ya udah, sekarang lo ikut gue lagi. He ... He ...," kekeh Alena dengan menarik tangan Vans kembali dan keluar dari salon.


Alena dan Vans kembali naik taksi untuk menuju tempat selanjutnya. Alena masih memandangi wajah tampan di sampingnya, yang sungguh membuat matanya terasa dimanjakan.


Vans yang terus diperhatikan oleh Alena denga tatapan intens seperti itu merasa risih. Pasti ia terlihat sangat jelek dengan gaya rambut baru ini. Sejak tadi ia keluar salon semua mata menatapnya dengan aneh. Apa jangan-jangan ada sesuatu di wajahnya?


"Alena, ada yang salah sama muka gue?" tanya Vans dengan serius sembari mengusap-ngusap rambut barunya yang terasa sangat tidak nyaman.


"Enggak kok, ngak ada," jawab Alena dengan memalingkan wajahnya. Apa yang sudah ia lakukan? Ia terus menatap Vans dengan tatapan terpesona. Bahkan, sudah dua kali ia kepergok menatap Vans.


"Gue jelek ya, ini gara-gara lo sih, rambut gue harus ganti model kayak gini." Vans mulai merenggek lagi.

__ADS_1


"Udah, lo jangan protes percaya sama gue." Alena menepuk bahu Vans, memberi pengertian agar pria di sampingnya tidak merasa cemas.


Taksi yang mereka tumpangi akhirnya sampai di depan sebuah mall pusat perbelanjaan kota. Bangunan yang jauh lebih besar berkali-kali lipat dari pada salon yang barusan mereka kunjungi.


Vans lagi-lagi mengerutkan keningnya. Ia tidak mengerti mengapa Alena membawa ia ke sini. Akan tetapi, yang pasti Alena akan melakukan sesuatu. Tanpa menunggu lama, Alena kembali menarik tangan Vans untuk masuk ke dalam mall. Ia harus segera menyelesaikan misinya hari ini. Ia sudah tidak sabar melihat hasil pekerjaannya.


"Mall? Untuk apa kita ke sini?" cecar Vans dengan cemas. Mereka tengah berjalan beriringan menuju sebuah toko.


"Ya, untuk belanja, memang untuk apa lagi?" jawab Alena dengan antusias.


Vans merogoh saku seragamnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang tunai dan menyerahkannya pada Alena. Tentu saja, ia laki-laki gentel yang akan membayar belanjaan gadis yang bersamanya. Mau ditaruh dimana wajahnya kalau sampai Alena membayar sendiri apalagi membayar belanjaaannya. Tadi saja, biaya salon dibayar oleh Alena. Vans akan segera mengganti uang tersebut setelah sampai di rumah karena ia sama sekali tidak membawa Credit Card.


...----------------...


...****************...


Vans versi cupu



Vans versi udah ganteng



Jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2