
...66...
Mobil Vans berhenti di depan sebuah rumah besar dan megah. Rumah bak istana dengan beberapa penjaga di depan gerbang besi yang membentang. Akan tetapi, ia tidak terlalu terpukau dengan rumah berkaya modern itu karena rumah Alena jauh lebih besar dari rumah tersebut.
Raline yang melihat Vans sedang memperhatikan sekelilingnya tersenyum tipis. Ia yakin, jika Vans kagum dengan rumah besarnya. Ia menyentuh bahu Vans dengan lembut sehingga pria tersebut tersentak kaget. Lalu, menatap ke arahnya.
"Ini rumah gue, gur tinggal di rumah besar ini," ucap Raline dengan gaya sedikit angkuh yang disembunyikan.
"Rumah lo besar sekali, lebih besar dari rumah gue," jujur Vans dengan polos mengatakan kondisi rumahnya yang sebenarnya.
"Rumah gue lebih besar?" Raline mengerutkan dahinya. Itu artinya, ia lebih kaya bukan dari Vans.
"Keluarga gue, ngak suka dengan rumah besar dan banyak pelayan. Momy gue lebih senang mengurus semua keperluan rumah sendiri. Mulai dari mengurus gue dan Vihan. Intinya, dia yang mengurus rumah."
"Itu artinya, dia tidak menyewa jasa pembantu atau pelayan?"
"Kami menyewa tapi hanya dua orang. Prinsip keluarga gue, rumah besar dengan sedikit penghuni akan sepi. Namun, jika rumah kecil dengan sedikit penghuni itu akan terasa ramai."
"Prinsip keluarga lo sangat keren. Di rumah gue, ada puluhan pelayan. Kami tidak biasa mengerjakan sesuatu sendiri."
"Ya, di rumah Alena juga ada puluhan pelayan. Rumahnya juga jauh lebih besar dari lo. Saat gue ke rumahnya gue pikir gue sedang berada di dalam istana yang besar."
__ADS_1
Raline mengepalkan kedua tangannya kesal. Rahang ramping wajahnya mengeras dan mengetat menahan amarah. Lagi-lagi Alena, selalu saja Alena. Mulut pria yang ada di sampingnya seakan tidak ada habisnya untuk membicarakan tentang Alena. Memuji gadis bertompel itu yang membuat hati dan darahnya mendidih.
Apa sih yang dimiliki Alena? Selalu saja Vans menyebut gadis buruk rupa itu. Lihat saja, aku akan membuat Vans menjauhinya. Batin Raline dengan kebencian yang semakin tumbuh untuk Alena.
"Raline," panggil Vans dengan menggoyangkan bahu gadis tersebut.
"Hah?"
"Gue rasa, lo kelelahan. Jadi beristirahat lah."
"Baiklah. Gue masuk, terimakasih sudah nganterin gue, Vans." Raline menyunggingkan senyum yang dipaksakan. Lalu, turun dari mobil Vans begitu saja.
Semua itu terus bermunculan di kepala Vans seolah seperti alarm yang terus berdering. Vans meraih ponselnya dan memencet kontak Alena, sementara tatapannya masih fokus pada jalanan.
Ia sengaja menyuruh Raline segera turun dari mobil tadi karena ia sudah tidak sabar untuk segera menelpon Alena. Jika ia menelpon sahabatnya itu di depan Raline, pasti gadis pujaan hatinya akan cemburu. Jadi, ia memilih mengusir Raline dengan halus.
Tut!
Tut!
Tut!
__ADS_1
Suara nada sambung terus berbunyi dari ujung telpon. Namun, tidak ada tanda-tanda jika panggilan tersebut akan diangkat.
"Ck, Alena, angkat donk telponnya. Lo selalu aja buat gue khawatir," gumam Vans berdecak kesal. Alena selalu bisa mempermainkan emosinya.
"Sudalah, aku akan menelponnya saat aku sampai rumah. Lihat saja, akan ku beri dia pelajaran," lirih Vans bermonolog dengan dirinya sendiri.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
komentar
gift
vote
tips
__ADS_1