The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Sarapan bersama


__ADS_3

...79...


Di meja makan sudah duduk dengan manis Tuan Surya, Nyonya Giana, Vans, dan Alena. Pagi ini mereka sarapan bersama dibalut dengan obrolan ringan dan canda tawa.


Nyonya Giana mengusap sudut matanya. Saat melihat sinar bahagia yang terpancar dari wajah Alena. Ia sangat bahagia karena bisa melihat momen indah seperti ini. Di mana mereka bisa bercengkrama tanpa ada kesedihan. Kehadiran Vans dalam hidup Alena membawa warna dan tawa. Ia sangat bersyukur, tuhan menghadirkan teman sehangat Vans.


"Vans, apa kamu mau tambah lagi?" tanya Nyonya Giana antusias saat melihat piring remaja pria itu hampir kosong.


"Tidak, Tante. Aku sudah sangat kenyang," tolak Vans hormat sembari memasang wajah tertekuk.


"Ini enak lo makanannya. Awas, ntar kalau lo ngak nambah lagi ntar lo kelaperan lagi pas jam pelajaran," sindir Alena dengan melipat bibir.


"Gue tahu ni makanan enak tapi ngak mungkin juga gue habisin," timpal Vans dengan melirik tajam pada Alena. Di mana kakinya yang ada di bawah meja sudah meluncur menginjak kaki gadis itu.


Alena membelalakkan matanya saat merasakan injakan halus di kakinya. Ia menatap Vans dengan melotot, yang ditanggapi pria itu dengan senyum mengejek.

__ADS_1


"Nanti kalian bareng sama Dady aja ya?" celetuk Tuan Surya memutus kontak mata penuh kekesalan antara Vans dan Alena. Sehingga dua remaja berbeda jenis itu menoleh ke arah sumber suara.


"Tidak usah, Dad. Kami akan pakai mobil yang satunya lagi," tolak Alena. Akan terasa sangat canggung pasti jika ia dan Vans berangkat bersama dengan Tuan Surya.


"Baiklah, sesuai keinginanmu tapi Vans tidak keberatan kan?" tanya Tuan Surya memastikan pada Vans.


"Iya, Om. Aku mah oke aja," balas Vans sambil tersenyum ramah.


Setelah obrolan singkat tersebut. Semuanya melanjutkan sarapan mereka. Tidak ada lagi yang memulai obrolan. Hanya dentingan garpu dan sendok yang terdengar. Di mana sesekali, Alena dan Vans saling mencuri pandang satu sama lain. Entah ada apa dengan mereka. Namun, dari semua hal itu hanya Alena yang paling merasa aneh dan terpojok. Tinggal serumah dengan pria yang dicintai adalah hal terindah dalam hidupnya walaupun kenyataan jika cinta dan perasaanya hanya bertepuk sebelah tangan. Dan tinggal beberapa jam lagi, pria yang ia cintai akan resmi menjadi kekasih gadis lain.


Sungguh nyilu dan terasa sakit. Namun, itulah kenyataan dan fakta yang harus ia terima dengan lapang dada.


Alena menatap keluar jendela mobil. Menikmati pemandangan pinggir jalan di pagi hari. Biasanya ia dan Vans berangkat naik sepeda. Itu artinya, ini pertama kalinya mereka berangkat menggunakan mobil. Rasanya sangat berbeda, tetapi rasa bahagia di hati Alena tetap sama. Sejak tadi ia tidak berani menoleh ke arah Vans. Takut, jika benteng yang ia bangun hancur lagi.


"Ekhmmm," dehem Vans melirik sekilas ke arah teman perempuannya. Sejak tadi, Alena terus saja diam. Situasi hening di antara mereka sungguh tidak enak.

__ADS_1


Alena memejamkan kedua matanya. Mengontrol perasaan yang semakin sulit ia kendalikan. Ia menoleh ke arah Vans sekilas dan kembali memandang lurus pada jalanan di depan.


"Lo ngak tidur ya tadi malem?" Vans membuka suara dengan bertanya. Pasalnya, ia melihat lingkaran hitam di kedua mata Alena.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2