The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Gosip


__ADS_3

...38...


"Hai, Alena!" seru Ceri berdiri di depan meja Alena bersama Dita. Kedua mata Vans dan Alena tertuju pada dua gadis yang tengah tersenyum di depan mereka.


"Ada apa?" tanya Vans dengan raut wajah sedikit tidak suka. Alena yang hendak bersuara mengurungkan niatnya karena sudah didahului oleh Vans.


"Eh, kok lo ngegas sih, orang kita mau ngomong sama Alena," sinis Dita menatap kesal pada Vans.


"Ya, orang gue yang denger," sungut Vans tak mau kalah. Alena segera menyentuh bahu Vans agar pria itu tenang.


"Kenapa, Cer?" sela Alena bertanya dengan nada lembut.


"Mana jawaban lo, bagi donk. Kan lo udah janji tadi sama kita-kita." Ceri menengadahkan tangannya di depan Alena.


Alena menghembuskan nafasnya pelan, kemudian mengambil buku dari dalam tasnya. Namun, gerakan tangannya terhenti saat melihat Vans yang sudah lebih dulu menyerahkan kertas pada Ceri.


"Nih, kertas jawaban buat kalian," ujar Vans, membuat Ceri dan Dita tersenyum senang dan segera berlalu meninggalkan meja Alena.


Puk!


Alena memukul keras lengan Vans lagi dengan mata melotot. Vans menatap Alena dengan wajah tertekuk menahan sakit, sembari tangannya mengusap lengan yang lagi-lagi menjadi korban samsak Alena.


"Sakit, tahu," ringgis Vans dengan memutar kedua bola matanya.


"Kok lo ngasih mereka jawaban yang salah sih? Itu kan coretan-coretan jawaban gue yang salah. Kalau mereka dapet nilai buruk pasti mereka bakal marahin gue terus ngebuli gue. Lo tahu, gue ngak mau buat masalah cuma gara-gara jawaban doank," sungut Alena terus bicara dengan satu tarikan nafas. Ia memijat pelipisnya ringan. Sudah ia pastikan Dita dan Ceri pasti akan membuat perhitungan padanya.


"Lo ini gimana sih, Lena. Lo itu harusnya bersyukur karena gue kasi mereka jawaban yang salah," ucap Vans membela diri.


"Bersyukur pala lo."


"Lo itu ngak boleh bagi-bagi jawaban sama mereka. Ya kali, lo udah susah-susah muter otak buat pecahin soalnya. Eh, mereka malah enak-enakkan minta bagi jawaban. Sumpah gue bingung sama lo, soal pelajaran aja kepala lo cepet konek. Giliran soal beginian aja, tuh kepala lo yang encer jadi bodoh."

__ADS_1


Alena mencerna setiap perkataan Vans yang memang benar adanya. Hanya saja ia tidak ingin mencari masalah dengan kedua gadis itu. Ia pernah menolak memberikan jawaban pada Ceri dan Dita, dan hasilnya kedua gadis itu terus mengganggu dirinya selama tiga hari berturut-turut.


"Lo ngak tahu, mereka pasti bakal gangguin gue setelah tahu jawaban yang lo kasih salah. Lo pikir gue ngak pernah nolak buat kasi mereka jawaban apa? Gue pernah ngelakuin itu, dan hasilnya buruk buat gue." Wajah Alena menyendu dengan raut putus asa.


Vans mengusap lembut puncak kepala Alena, menyalurkan kehangatan dan ketenangan agar gadis itu tidak sedih. Ia bukan bermaksud untuk membuat Alena dalam masalah. Hanya saja, ia tidak ingin Alena dimanfaatkan oleh orang lain. Biarpun ia juga sering dimanfaatkan oleh Raline dan Justin, tetapi ia tidak masalah dengan hal itu. Namun, ia merasa terluka jika melihat Alena yang dimanfaatkan.


"Udah, Bukonya Vans jangan sedih. Jangan takut sama mereka. Gue kan sekarang temen lo. Gue ngak akan biarin mereka gangguin lo," hibur Vans dengan tersenyum manis.


Alena menatap lekat wajah Vans, mencari kebohongan pada kedua mata pria itu. Akan tetapi, semakin ia selami rasa takut yang ada di dalam dirinya seketika memudar. Kehadiran Vans membuat ia merasa memiliki tempat untuk berlindung dan bersandar.


"Emang lo bisa ngehadapin mereka? Orang lo aja sering di bully sama Justin dan Raline." Alena masih tidak percaya, bagaimana mungkin Vans membela dirinya dari kemarahan Ceri dan Dita, sementara pria itu juga senasib dengan dirinya.


"Ih, ya kali cowok kalah sama cewek. Kalau sama Justin jelas gue takut, tampangnya aja kek genderuwo kemasukan setan."


"Haduh, di mana-di mana genderuwo itu setan, Van ...," pekik Alena dengan menyebut nama Vans panjang, yang sontak membuat Vans tertawa lucu.


Jam istirahat akhirnya tiba. Hal itu ditandai dengan sura bel sekolah yang nyaring dan melengking. Semua murid bergegas dengan cepat keluar dari kelas masing-masing. Tentu saja, tujuan mereka adalah kantin sekolah, tempat paling menyenangkan.


"Okeh, anter tugas dulu ya ke ruang guru," jawab Vans segera berlari ke arah mejanya dan mengambil buku tugas, begitupula dengan Alena. Keduanya berjalan beriringan keluar dari kelas, melewati lorong-lorong menuju ke ruang guru.


"Gimana ya, reaksi si Ceri ama Dita nanti lihat nilainya jelek?" ujar Vans dengan tertawa jahat.


"Yang pasti mereka akan marah, terus mukanya jadi kesel dan jelek. Terus mereka pasti bakal liatin gue dengan mata melotot keluar dari cangkangnya. Iuuh, serem banget," celoteh Alena dengan membayangkan apa yang akan terjadi pada dirinya saat nilai tugas dibagikan.


"Mereka itu kesini kayaknya bukannya sekolah malah main terus. Soal yang segitu mudahnya mereka ngak bisa kerjain. Enak-enakkan minta bagi jawaban gratis. Gue bingung ya, mereka punya otak kok ngak dipake," oceh Vans dengan sebal.


"Entah, mungkin otak mereka ketinggalan di rumah kali ya," cela Alena, yang di sambut oleh tawa dari keduanya. Menggosipkan tentang otak Ceri dan Dita membuat keduanya tidak peduli dengan tatapan para murid yang menatap mereka dengan aneh dan jijik.


"Wuuhhh, yang lagi ketawa sama pacar sesama spesies!" seru Denol dengan berteriak. Terlihat di belakang pria itu berjalan mendekat Justin dan Billy.


Langkah Alena dan Vans seketika berhenti. Wajah Vans berubah menjadi pias dengan tangan sedikit gemetar. Ia sangat takut dengan tiga pria yang dijuluki preman sekolah itu kini sudah berdiri di depan mereka. Dengan mengumpulkan keberaniannya, Vans melangkah maju di depan Alena sehingga posisi Alena gini berada di belakang Vans.

__ADS_1


"Widih, dia lansung ngelindungin pacarnya. Uhhhh sosweet banget sih, Culun," ledek Justin dengan menunjukkan wajah jelek.


Billy mengusap ke dua bahu Vans, seolah-olah sedang membersihkan baju Vans, yang berhasil membuat Vans semakin gemetar ketakutan. Bahkan, Alena bisa melihat tubuh di depannya yang bergetar.


"Karena lo udah pacaran sama Si Cewek Culun jadi uang jajan kita naik 30%," ucap Billy dengan tersenyum manis tapi terkesan menyeramkan.


"Ta--pi, gue sama Alena ngak pacaran," ucap Vans dengan terbata-bata. Buliran keringat mulai terbentuk di pelipis Vans.


"Jadi, lo ngak mau kasi uang jajan ke kita!" geram Justin dengan menarik kerah seragam Vans, yang membuat Vans mendongak ke atas.


"Gue bakal kasih kalian uang jajan tapi kalau buat nambah 30% lagi, gue ngak punya uang segitu."


Bruk!


Justin menghempas tubuh Vans hingga tersungkur di lantai tepat di ujung sepatu Alena.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2