The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Sssstttt


__ADS_3

...74...


"Ya ampun, sahabat gue baik banget," puji Vans dengan bangga. Tanpa izin Alena, Vans melepaskan sanggulan rambut temannya itu sehingga rambut Alena jatuh tergerai di bahu. Di mana anak rambut Alena terbang tertiup angin. Pemandangan yang selalu membuat wajah Alena terlihat manis, dan ia menyukai hal tersebut.


"Lo cantik dengan rambut tergerai," imbuh Vans dengan tersenyum tipis sembari menatap lekat wajah Alena yang terlihat begitu manis.


Wajah Alena seketika memerah mendengar pujian yang begitu memabukkan jiwa. Pujian dari pria yang ia sukai terasa membalut luka yang tengah terbuka di dalam hatinya. Kata-kata yang terdengar seperti alunan nada-nada cinta yang membangkitkan nuansa rasa bahagia.


Namun, gumpalan kenyataan tiba-tiba menghantam Alena, membuat wajah cantiknya yang merona seketika berubah menjadi pias. Senyum tipis yang sempat terukis seketika luntur dan hilang. Alena menepis tangan Vans yang memainkan rambut bergelombang miliknya.


"Tadi cuaca panas. Makanya gue iket rambut," seloroh Alena asal dengan rasa sesak yang kembali memenuhi dada. Setiap melihat wajah Vans, maka kenyataan perasaan yang ia pendam pada pria itu kembali terbayang. Kenyataan jika ia tidak akan pernah bisa memiliki Vans. Lagi pula ia tidak punya hak atas cinta karena hidupnya hanya tinggal sebentar. Entah kapan kematian akan menjemput tapi yang pasti hal itu hanya meninggalkan luka. Ia mencintai Vans dalam diam maka ia akan membawa rasa ini sampai mati tanpa pria itu tahu isi hatinya. Ia tidak ingin hubungan yang ada akan hancur karena rasa baru yang timbul di hatinya.


"Ck, jutek banget sih," gerutu Vans dengan bibir mencebik.


"Yah, itu tadi gue spontan."


"Oh ya, wanita yang ada di taman belakang siapa?" tanya Vans mengingat akan wanita paruh baya yang ada di taman.


Alena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia sangat gugup dan gelapan. Tidak mungkin ia mengatakan sejujurnya jika wanita itu adalah Madam Mosy pelatih penari ballet. Ia tidak ingin orang tahu jika ia adalah gadis yang sama yang sudah menjurai lomba menari ballet internasional.


"I--itu tadi teman Momy gue," ucap Alena dengan gugup. Memberikan alasan yang paling masuk akal.

__ADS_1


"Lo keliatan akrab banget sama dia."


"Ya, jelaslah gue udah anggap dia sebagai Tante gue."


"Oh." Vans ber-oh ria sembari menganggukan kepalanya.


"Ya udah gih, lo mending pulang aja. Ini kan udah malem." Alena mencoba menyuruh Vans untuk pulang. Ia sudah ingin masuk ke kamar sekarang. Ia sedikit sesak berada di dekat Vans. Mungkin karena faktor ia sudah berbohong pada pria itu.


"Astaga, lo ngusir gue?" Kedua mata Vans membola dengan wajah tidak suka.


"Ngak gitu. Gue cuma ngingetin lo waktu aja."


"Maksud lo?"


"Malam ini gue nginep di rumah lo ya."


"Hah?" Bibir Alena terbuka dengan lebar mendengar permintaan Vans.


"Lo tenang aja, gue bakal izin sama Tante dan Om. Jadi, lo ngak usah khawatir." Vans segera beranjak dari duduknya dan hendak masuk ke dalam rumah. Entah mengapa ia sangat malas untuk pulang. Ia merasa nyaman di rumah Alena. Namun, baru satu langkah Vans berlalu. Alena menarik pergelangan tangan pria tersebut sehingga Vans kembali memutar tubuhnya.


"Lo ngak boleh nginep di sini," ucap Alena dalam satu kali tarikan nafas.

__ADS_1


"Lo ngelarang gue gitu? Sumpah, lo tega lihat gue pulang malam-malam begini. Gue udah ngantuk banget loh. Gimana kalau gue kecela---"


"Sssttt." Alena lansung meletakkan ujung jarinya di depan bibir Vans sebelum pria tampan itu menyelesaikan kalimatnya yang bisa membuat hati Alena semakin luka.


...----------------...


...****************...


Maaf ya.. UP dikit


jangan lupa


like


komentar


gift


vote


tips

__ADS_1


__ADS_2