The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Bertamu


__ADS_3

...21...


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu membuat fokus Alena buyar seketika. Ia segera melempar ponselnya ke atas tempat tidur, lalu mendekat ke arah pintu.


Klek!


Alena membuka pintu, di balik pintu terlihat sang ibu sedang menatapnya dengan tatapan bahagia dan penuh semangat.


"Sayang, cepatlah bersiap-siap, ada seseorang yang mencarimu!" seru Nyonya Giana dengan sedikit nada perintah.


"Mencariku?" Alena mengerutkan dahinya tidak mengerti.


"Iya, temanmu datang mencarimu."


"Hah?" Bibir Alena langsung terbuka mendengar perkataan sang ibu. Teman? Sejak kapan ia punya teman? Tapi, siapa yang datang ke rumahnya dan mengaku-ngaku sebagai temannya?


Nyonya Giana menatap aneh putrinya. Bukannya Alena senang temannya datang berkunjung, malah putrinya ini terlihat kaget dan syok.


"Kenap sayang? Apa Vans bukan temanmu?"


"Hah? Vans?" Lagi-lagi Alena dibuat terkejut, saat mendengar siapa yang datang berkunjung.


Pria itu benar-benar meneror diriku. Batin Alena yang langsung masuk ke dalam kamar dan menutup pintu dengan keras.


Brak!


Nyonya Giana terlonjak kaget saat pintu kamar di tutup dengan keras di depan wajahnya. Sebenarnya apa yang terjadi dengan Alena? Putrinya itu bersikap cukup aneh. Nyonya Giana mengendikkan bahunya, lalu kembali turun untuk menemui Vans.

__ADS_1


Alena segera bersiap dengan gerakan cepat. Ia meraih asal baju dengan ukuran King Size dari dalam lemari. Lalu membuka laci mencari kacamata bundar yang selalu ia pakai. Sungguh, Vans sangat membuat ia terkejut dengan datang tiba-tiba keruamahnya. Pria itu benar-benar sangat merepotkan.


Alena mematut dirinya di depan cermin rias. Ia merapikan rambut bergelombang berwarna coklat gelap miliknya. Alena menghembuskan nafasnya, lalu menarik nafasnya dalam, mengontrol nafasnya yang tidak berhembus dengan teratur. Vans benar-benar membuat ia gelagapan.


Alena mengikat tinggi rambutnya seperti ekor kuda sehingga menciptakan aura kesederhanaan dan culun. Ia tidak bisa tampil dengan wajah dan Style aslinya. Bisa-bisa Vans tahu identitas aslinya.


"Ck, laki-laki itu sangat merepotkan. Kenapa dia harus datang ke rumah sih," decak Alena dengan kesal. Lalu, meraih stiker tompel yang langsung ia tempelkan di pipi kirinya. Setelah merasa penampilannya sudah sempurna seperti Alena versi cupu. Alena pun segera keluar untuk menemui Vans.


Sementara di ruang tamu, terlihat Vans tengah dipaksa oleh Nyonya Giana untuk mencicipi kue-kue yang ia buat. Vans sudah memakan satu piring kue dengan variasi rasa yang berbeda. Akan tetapi, Nyonya Giana tidak mau melepaskan Vans, sebelum pria itu mencicipi semua kue yang ia buat.


"Kamu tahu, Vans. Ini kue varian rasa blubery, kamu pasti sangat menyukai nya!" seru Nyonya Giana dengan meletakkan satu potong kue lagi di atas piring Vans.


Vans tersenyum kecut, melihat sepotong kue dengan potongan yang cukup besar kembali di letakkan di atas piringnya. Perutnya sudah sangat kembung dan kenyang untuk dipaksa makan lagi. Akan tetapi, ia tidak enak untuk menolak. Ibu Alena sungguh sangat baik, tetapi membuat perutnya sakit.


Vans melahap kue tersebut dengan satu kali suapan. Semakin cepat ia mengunyah, semakin cepat ia terbebas dari Nyonya Giana. Kali ini, Vans berharap Alena cepat datang.


"Bagaimana? Enak bukan?" tanya Nyonya Giana dengan antusias. Ia sangat menyukai teman putrinya ini. Vans adalah anak baik dan juga penurut. Bahkan, pria remaja itu sudah menghabiskan satu piring kue yang ia buat. Tentu saja, ia sangat senang akan hal itu.


"Ini sangat enak Tante. Tante sangat pandai membuat kue. Apa Tante tidak mau membuka toko kue?" puji Vans menelan satu kunyahan terakhir di mulutnya.


"Tentu saja, Tante, kue Tante sangat enak tidak kalah dari kue yang selalu di sajikan di restoran bintang lima. Aku rasa, Tante tidak perlu minder," ucap Vans menyakinkan.


"Aduh, Tante sangat tersanjung dengan pujianmu Vans." Nyonya Giana tertawa senang.


"Ekkhhmm," dehem Alena, membuat Nyonya Giana dan Vans yang asik mengobrol menatap ke arahnya.


Vans menatap Alena dari ujung kaki hingga ujung kepala. Ternyata melihat Alena dengan pakaian santai membuat ia merasa sosok Alena sangat berbeda dari sosok yang ia kenal di sekolah. Gadis itu terlihat anggun dengan kaos ukuran King Size yang Vans tahu nilai harga baju tersebut cukup mahal.


"Akhirnya Alena datang juga. Sini, sayang duduk di samping Vans," ujar Nyonya Giana menarik lengan Alena untuk duduk.


"Ya, udah. Momy tinggal dulu ya. Momy mau buat kue untuk dibawa pulang sama Vans. Kalian ngobrol aja!" seru Nyonya Giana lagi dan langsung melenggang pergi meninggalkan dua teman yang baru saja bertemu.


Keduanya diselimuti rasa canggung setelah kepergiaan Nyonya Giana. Untuk pertama kalinya Alena dikunjungi oleh seseorang. Sedangkan Vans untuk pertama kalinya ia berkunjung ke rumah seorang gadis.

__ADS_1


"Berbicara di sini sepertinya tidak enak. Mau berbicara di taman?" celetuk Alena.


"Baiklah," jawab Vans setuju. Sepertinya tawaran Alena cukup bagus.


Keduanya beranjak dari sofa, lalu melangkah. Di mana Alena berjalan di depan sementara Vans mengekor di belakang. Nyonya Giana yang sebenarnya sejak tadi mengintip mengulum senyum. Saat melihat kedekatan Alena dan Vans. Ia merasa sangat senang karena ternyata Alena memiliki seorang teman.


"Sekarang lo bilang, kenapa lo datang ke rumah gue?" tanya Alena, di mana kini mereka sedang duduk bersebelahan di bangku taman di belakang rumah.


Vans menatap lurus pada bunga-bunga taman yang terlihat sangat indah, lalu memalingkan wajahnya ke samping menatap wajah Alena yang datar.


"Apa lo ngak senang dikunjungi sama teman lo?" balas Vans dengan sebuah pertanyaan.


"Gue ngak punya teman. Lagi pula gue tahu lo datang bukan untuk ngunjungin gue tapi lo datang karena pertanyaan lo itu," ucap Alena dengan sedikit rasa kecewa.


"Hhh, lo kok bilangnya gitu. Ya, sekalian kan gue dateng ngunjungi lo sama tanya-tanya soal kejadian di party waktu itu," ucap Vans dengan jujur. Ia tidak seburuk yang dipikirkan gadis di sampingnya.


"Emang lo peduli sama gue? Lo kan cuma peduli sama Raline." Alena menolehkan kepalanya menatap Vans. Kini tatapan mereka bertemu satu sama lain. Alena mencari kejujuran dari kedua bola mata Vans. Ia ingin tahu apa perkataan Vans barusan adalah kebenaran atau hanya kebohongan.


"Kalau gue ngak peduli sama lo, ngak mungkin gue di sini. Lo tahu, gue sampai-sampai nekat nemuin Bu Anggrek buat minta alamat rumah lo. Lo tahu kan, kalau Bu Anggrek itu galak dan serem banget. Gue berasa masuk kandang macan tau ngak."


Alena tertawa ringan mendengar ucapan Vans yang mengatai Bu Anggrek. Vans yang melihat Alena tertawa juga ikut tertawa, seolah-olah tawa Alena menular padanya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komern


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2