The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Nyonya Giana pangling


__ADS_3

...50...


Taksi yang membawa Alena dan Vans akhirnya berhenti di depan gerbang rumah Alena. Satpam yang sedang berjaga segera mendorong pintu besi yang menjulang tinggi tersebut saat melihat anak majikannya yang keluar dari taksi bersama dengan seorang pria tampan.


Alena dan Vans berjalan beriringan tanpa ada pembicaraan di antara mereka. Alena yang masih sibuk denga perasaannya sendiri yang benar-benar sangat mengganggu dirinya. Sedangkan Vans, ingin berbicara tapi tidak ingin membuat Alena kesal. Sejak tadi, gadis dengan rambut bergelombang itu hanya diam tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Bahkan hingga mereka sampai di rumah, Alena masih setia membisu.


Ting!


Tong!


Alena memencet bel dengan terburu-buru. Ia sudah tidak tahan berada di dekat Vans. Saat ini, ia hanya ingin segera masuk ke dalam rumah dan merebahkan tubuh serta pikirannya yang mulai ngawur.


Nyonya Giana yang berada di ruang tamu dengan gaya cemasnya segera beranjak dan berlari menuju pintu. Ia yakin, jika yang memencet bel adalah putrinya. Selama setengah jam ia terus mencemaskan Alena. Putrinya itu sudah melewati batas janji yang sudah dibuat.


Ceklek!


Nyonya Giana membuka pintu dengan cepat hingga menampilkan wajah putrinya yang tengah tertunduk dalam. Di mana di sampingnya ada pria tampan yang benar-benar membuat Nyonya Giana pangling.


Nyonya Giana menatap dengan lekat dan seksama pria tampan itu yang terasa begitu familiar. Akan tetapi, ia tidak ingat jika pernah bertemu dengan pria remaja ini.


"Mom, Lena min---"


"Malam, Tante!" seru Vans memotong ucapan Alena.


"Apa kau Vans?" Nyonya Giana menunjuk Vans dengan wajah tidak percaya. Di mana tatapannya menelisik gaya baru teman putrinya, mulai dari ujung kaki hingga ujung kepala. Sungguh sangat berbeda dari Vans yang terkesan dengan penampilan culun selama ini.


"Iya, Tante. Apa penampilanku begitu jelek sehingga Tante tidak mengenaliku?" canda Vans dengan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia merasa sedikit risih dan juga tidak nyaman mendapat tatapan terkejut dari Nyonya Giana. Yah, walaupun sejak keluar dari mall semua orang menatap dirinya dengan tatapan yang sama. Namun, itu merasa tatapan Nyonya Giana berbeda dengan tatapan orang lain.


"Waw penampilanmu, sungguh sangat berubah Vans. Tante benar-benar tidak mengenalimu." Nyonya Giana mencubit gemas pipi Vans. Sungguh ia juga jatuh hati dengan ketampanan hakiki teman dari putrinya.

__ADS_1


"Terimakasih, Tante. Rasanya aku ingin terbang mendengar pujianmu itu."


Nyonya Giana dan Vans tergelak tertawa ringan. Sedangkan Alena hanya menghambuskan nafasnya pelan mendengar percakapan antara kedua orang di depannya. Namun, setidaknya ada sisi baiknya juga. Dengan begini sang ibu bisa melupakan sedikit tentang masalah ia pulang terlambat.


"Oh ya, Tante. Tante jangan memarahi Alena karena pulang terlambat. Ini semua salahku, Tan. Aku yang sudah mengajak Alena pergi ke danau sehingga kami pulang terlambat. Jadi, jika Tante ingin marah, marahi aku saja. Aku sungguh minta maaf," pinta Vans dengan kedua tangan mengatup di depan dada, di mana wajahnya dibuat memelas penuh harap.


Alena menatap Vans. Lagi-lagi Vans membuat ia semakin jatuh cinta dengan pria itu. Vans selalu berusaha membuat ia tidak berada dalam situasi yang sulit dan dia selalu menepati janji yang sudah dibuat. Bagaimana mungkin, hati Alena tidak meleleh dengan semua perlakuan Vans yang begitu manis dan begitu melindungi.


Nyonya Giana menatap ke arah Alena yang sejak tadi terus menatap ke arah Vans. Senyum tipis terukir di bibir Nyonya Giana. Ia saja bisa terpesona dengan ketampanan Vans. Apalagi putrinya, bahkan Alena sama sekali tidak berkedip sedikitpun.


"Baiklah, Tante tidak akan marah dengan kalian yang pulang telat. Akan tetapi, lain kali jangan di ulangi lagi. Ini yang terakhir Vans." Nyonya Giana memperingatkan Vans dengan menekan setiap kalimatnya. Di mana telunjuk Nyonya Giana menunjuk tepat di depan dada Vans, menegaskan jika hal ini tidak boleh terjadi lagi.


"Iya, Tan. Ini tidak akan pernah terulangi lagi. Lena, kalau gitu gue pulang dulu. Terimakasih untuk hari ini." Vans menoleh ke arah Alena, yang lansung membuat Alena memalingkan wajahnya.


"Okeh, hati-hati di jalan. Ingat, lo harus berpenampilan seperti ini besok saat ke sekolah," pesan Alena mengingatkan Vans.


"Iya, Bawel. Besok tunggu gur ya, gue akan menjemputmu."


"Vans maklumi sikap Alena. Mungkin, dia kelelahan jadi bersikap seperti itu."


"Tidak papa Tante, aku pulang. Selamat malam." Vans tersenyum ramah, kemudian berjalan pergi meninggalkan Nyonya Giana yang masih berdiri di ambang pintu sampai ia masuk ke dalam taksi.


Alena lansung masuk ke dalam kamar mandi, menyalakan shower hingga sapuan dingin air yang mengalir menerpa puncak kepalanya. Alena memejamkan kedua matanya, menikmati setiap aliran air yang mengalir membasahi seluruh tubuhnya.


"Bagaimana bisa aku mencintaimu, Vans? Bagaimana bisa rasa ini muncul di hatiku. Rasa yang seharusnya tidak boleh ada. Aku harus sadar, jika Vans mencintai Raline. Aku tidak boleh berharap lebih. Cinta, aku mohon keluarlah dari hatiku. Jangan menyiksaku dengan perasaan ini. Hidupku tidak seberuntung itu untuk bisa merasakanmu. Hiks ...." Tangis Alena pecah di mana air mata yang keluar dari kedua mata indahnya menyatu dengan guyuran air shower.


Dada Alena benar-benar terasa sesak. Cinta, senang, bahagia, sakit, tidak terima, dan tidak rela kini menyatu dan melebur menjadi satu. Ia merasa sangat bahagia berada di dekat Vans. Namun, di saat yang bersamaan ia harus merasakan sakit karena kenyataan yang begitu pahit jika Vans tidak memiliki perasaan yang sama. Lalu, rasa tidak terima dan tidak rela melihat Vans bersama dengan Raline.


"Tuhan, kamu begitu sangat menyayangiku hingga ingin bertemu denganku secepatnya bukan? Aku mohon, Tuhan. Bantulah aku untuk menghapus perasaan ini. Aku sama sekali tidak berhak untuk merasakan rasa yang begitu indah. Masa kecilku saja tidak seindah pelangi. Lalu, bagaimana bisa aku merasakan rasa cinta, apalagi itu pada temanku sendiri."

__ADS_1


Alena larut dengan pikiran dan lamunannya di bawah guyuran shower. Setidaknya dengan mandi air dingin membuat perasaan gelisah serta tidak karuan dalam dirinya perlahan memudar meskipun rasa cinta yang sedang tumbuh di dalam hatinya belum juga bisa dihilangkan dan dibunuh. Semakin ia mencoba untuk menghilangkan perasaan cinta untuk Vans, semakin hati Alena terasa sakit.


Setelah merasa pikirannya cukup tenang. Alena menyelesaikan ritual mandinya dan segera keluar dari kamar mandi.


Tok!


Tok!


Tok!


Suara ketukan pintu kamar, membuat Alena segera membukakan pintu. Terlihat Nyonya Giana dengan nampan berisi makan malam serta obat yang menjadi santapan wajib Alena.


"Sayang, makan malam dulu terus minum obat. Obat untuk dosis tadi siang sudah kamu minum, kan?" tanya Nyonya Giana berjalan masuk ke dalam kamar Alena dan duduk di tepi ranjang. Nampan yang ia bawa di letakkan di atas kasur.


"Sudah, Mom," jawab Alena dengan memakai baju tidur. Lalu, duduk di samping sang ibu.


"Aku akan minum obat saja, Mom. Tadi, aku sudah makan malam dengan Vans sebelum pulang," imbuh Alena lagi, kemudian meraih tujuh butir obat lalu meminumnya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2