The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Kekesalan dan kekhawatiran Vans


__ADS_3

...69...


Vans turun dari mobil dengan kedua tangan dan mata yang fokus pada ponsel. Sejak tadi, ia berusaha menghubungi Alena. Namun, gadis itu tidak kunjung mengangkat panggilan darinya. Hal itu tentu saja menyulut kekesalan dan juga kekhawatiran di waktu yang sama. Ia kesal karena Alena yang tak mengangkat telpon. Dan khawatir jika sesuatu sampai terjadi pada sahabatnya itu.


Bruk!


"Aduh, lo jalan jangan main hp napa!" pekik Vihan dengan menatap kesal pada adiknya. Karena terlalu fokus pada ponsel yang ada ditangan, Vans sampai tidak sengaja menabrak Vihan yang kebetulan keluar dari pintu.


"Maaf, gue ngak sengaja. Udahlah, jangan di permasalahin, gue lagi pusing nih gara-gara Alena," jawab Vans dengan mendengus kesal. Vans berjalan masuk ke dalam rumah. Namun, Vihan mencekal bahu Vans hingga dia kembali mundur ke belakang.


"Emang, kenapa sama Alena?" tanya Vihan penasaran.


"Lo kok peduli sama dia?" balas Vans dengan melempar pertanyaan tidak suka.


"Lah, emang masalah kalau gue peduli sama dia."


"Jangan macem-macem lo sama Alena. Lo, ngak boleh deketin dia," tegas Vans dengan tatapan tajam.


"Kenapa? Orang Alena jomblo."


"Pokoknya ngak boleh, ya tetep ngak boleh."


"Aneh lo, Vans. Jangan-jangan lo suka sama Alena."


"Enggaklah, gue cintanya sama Raline bukan Alena. Dia itu temen baik gue. Jadi, dia ngak boleh deket-deket sama playboy kayak lo. Gue ngak mau Alena sampe di PHP-in sama lo."


"Lo sadar ngak sih? Lo posesif banget sama Alena. Lo bilang kayak gini karena ngak mau kan lihat Alena deket-deket sama cowok lain. Hati-hati ntar lo suka lagi sama Alena karena yang gue tahu, persahabatan antara dua orang cewek dan cowok itu pasti akan ada perasaan yang tumbuh." Vihan menyeringgai dengan senyum miring. Sedangkan, Vans mulai termakan perkataan Vihan. Dia terlihat memikirkan apa yang baru saja dikatakan oleh sang kakak. Menyelami ke dalam hati yang paling dalam. Mencari rasa dan juga kebenaran. Namun, bagi Vans Alena adalah sahabatnya. Hanya itu, tidak lebih.


"Udahlah, percuma gue ngomong sama lo. Kepala gue malah makin pusing," dengus Vans, kemudian berlalu begitu saja ke dalam rumah.


"Huhh, terserah deh. Gue juga ngak peduli," lirih Vihan.


Brak!

__ADS_1


Vans membandingkan pintu kamarnya dengan keras. Pikirannya semakin kusut karena Alena yang juga belum mengangkat telpon atau sekedar membalas pesan. Gadis itu kembali menghilang sama seperti waktu ketika ia habis tenggelam.


"Lo itu kemana sih? Gue udah bilang buat ngabarin gue kalau lo udah sampai di rumah. Bukannya ngabarin malah ngilang kayak maling. Sumpah, lo ngak tahu banget kalau gue khawatir," cerocos Vans berbicara pada dirinya sendiri seperti orang tidak waras.


Ia kembali memencet kontak Alena dan menunggu gadis itu menjawab panggilan telpon darinya. Akan tetapi, lagi-lagi ia harus menelan pil kekecewaan karena hasil yang ia dapatkan tetap sama. Tidak ada tanda-tanda sedikit pun panggilan telponnya akan di jawab. Hanya suara operator yang terdengar dari ujung telpon.


"Lihat aja. Gue bakal kasi lo pelajaran karena udah buat gue khawatir setengah mati." Vans melempar kesal ponselnya ke atas ranjang. Lalu, meraih handuk dan masuk ke kamar mandi. Sepertinya, mandi adalah sesuatu yang tepat untuk menenangkan pikirannya yang sembraut gara-gara Alena.


Tring!


Namun, belum sempat Vans masuk ke kamar mandi. Sebuah notifikasi pesan masuk ke ponselnya. Ia tersenyum senang. Ia yakin jika itu pasti pesan dari Alena. Dengan cepat, ia kembali meraih ponselnya dan membuka pesan yang baru saja masuk.


Akan tetapi, detik berikutnya wajah Vans berubah pias saat melihat jika pesan yang masuk bukan dari Alena melainkan dari Raline. Tanpa semangat dan dengan wajah cemberut. Ia membalas pesan Raline singkat. Lalu, melempar kembali ponsel tersebut.


...----------------...


Malam menjelang begitu cepat. Malam ini terlihat begitu cerah dengan taburan bintang dan juga kehadiran bulan yang hanya tinggal setengah. Seorang wanita berparas cantik dengan rambut yang disanggul ke atas sehingga menampakkan leher jenjang wanita itu. Dia berjalan dengan gemulai memasuki rumah besar yang ditempati Alena.


Wanita yang masih terlihat muda meskipun umurnya sudah mencapai kepala tiga. Namun, tidak ada sedikitpun kerutan yang terlihat di wajahnya. Bahkan, tubuhnya sangat lansing dan terbentuk.


Para pelayan yang kebetulan lewat atau berada di ruang tamu membungkuk hormat pada wanita tersebut.


"Madam Mosy kamu sudah datang!" seru Nyonga Giana yang turun dari tangga bersama Tuan Surya. Yah, wanita yang datang adalah Madam Mosy. Guru balet Alena yang sudah membentuk putri mereka menjadi seorang Balerina prefesional.


"Selamat malam, Nyonya dan Tuan Pradipta," balas Madam Mosy dengan sopan.


"Maaf, kau harus repot-repot kemari karena Alena," ucap Tuan Surya merasa tidak enakan.


"Tidak papa, aku juga sangat merindukan muridku. Bagaimana dengan pengobatan Alena di Singapur? Apa penyakit itu sudah hilang?"


Wajah Tuan Surya maupun Nyonya Giana berubah sedih. Tidak ada yang hilang sama sekali. Bahkan, penyakit putrinya itu semakin memburuk. Segala cara sudah mereka tempuh. Akan tetapi, tidak ada hasil yang bisa membuat mereka merasa lega. Hanya kekecewaan dan kabar buruk yang selalu datang.


Madam Mosy yang melihat wajah kedua orang tua muridnya itu berubah sedih mengerti dengan jawaban yang tak bisa diutarakan. Ia sedikit merasa tidak enak karena kembali membuka luka kedua orang tua Alena. Ia sangat mengharapkan kesembuhan Alena karena Alena adalah satu-satunya murid yang sangat berprestasi yang ia miliki. Ia menyayangi Alena seperti putrinya. Jadi, tentu ia mengharapkan kesembuhan bagi gadis polos itu.

__ADS_1


"Maaf, Nyonya dan Tuan Pradipta. Aku tida bermaksud untuk membuat kalian sedih. Aku sangat menyayangi Alena. Dia adalah penari yang sangat berbakat. Aku punya sejuta mimpi untuk dia. Aku berharap keajaiban untuk gadis baik seperti dia," ucap Madam Mosy dengan doa yang tulus.


"Tidak papa, Madam. Aku juga mengharapkan hal itu." Nyonya Giana tersenyum kecut, menyembunyikan rasa sakit dan sedih di dalam dada. Tuan Surya merangkul bahu sang istri, memberikan kekuatan pada Nyonya Giana.


"Madam," ujar Alena dengan wajah semringah. Melihat sang guru sudah sampai membuat semangat untuk menari semakin membara dalam diri Alena.


"Alena, sepertinya kamu sudah siap untuk latihan," balas Madam Mosy tak kalah bersemangat saat melihat Alena sudah siap dengan baju ballet yang membalut tubuh ramping gadis itu.


"Tentu saja, aku sangat ingin menari. Belakangan ini aku jarang sekali bisa ikut latihan bersama yang lain."


"Tidak papa, kamu sudah mengusai tehniknya. Hanya perlu latihan lebih keras lagi. Malam ini aku akan memberikan koreografi yang baru."


"Benarkah?" Alena melebarkan mata tak percaya.


"Iya, aku serius."


"Baiklah, jika begitu bisa kita mulai latihannya sekarang?" tanya Alena dengan tidak sabaran.


"Ayo!" seru Madam Mosy senang.


"Kalian bisa berlatih di taman belakang. Aku akan membuatkan minuman dan cemilan," sela Nyonya Giana senang karena melihat putrinya sangat bahagia.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift

__ADS_1


voys


tips


__ADS_2