The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Satu gigitan


__ADS_3

...55...


Treng!


Treng!


Treng!


Bel istirahat berbunyi. Seluruh murid segera merapikan peralatan tulis mereka dan berhamburan keluar dari kelas. Satu tempat tujuan yang kini terpikir di kepala mereka yaitu kantin. Tempat paling indah dan menyenangkan setelah melewati rentetan pelajaran yang menguras isi kepala.


Begitupula dengan Alena. Ia beranjak dari duduknya dan mendekat ke arah Vans yang tengah sibuk menatap pada layar ponsel.


"Vans," panggil Alena.


"Iya, Len," jawab Vans tanpa menoleh ke arah Alena.


"Ke kantin yuk, gue laper banget."


"Ya udah, ayo." Vans masukkan benda pipih itu ke dalam saku seragamnya. Lalu, mengulurkan tangannya pada Alena. Melihat hal itu, tentu saja Alena merasa bingung.


"Lo, mau minta duit?" tanya Alena dengan polos, yang membuat Vans berdecak.


"Ya kali gue minta duit sama lo. Maksudnya tuh gini." Vans menarik tangan Alena dan menggengamnya dengan erat, persis seperti seorang kekasih menggengam tangan kekasihnya.


Alena terdiam dengan tatapan menatap lekat pada tangannya yang digenggam oleh Vans. Jika seperti ini terus, bagaimana bisa ia membunuh rasa yang sedang tumbuh di hatinya. Vans selalu bersikap manis dan membuat dirinya baper.


Vans menarik tubuh Alena untuk mengikuti langkahnya menuju kantin. Saat menggenggam tangan Alena, ia merasa sangat senang dan nyaman. Tangan Alena yang lembut dan mungil membuat Vans sangat suka menggenggam tangan mungil Alena yang terasa pas di genggamannya.


Semua mata para murid kini tertuju pada Vans yang menggandeng Alena. Tentu saja, ini adalah fenomena yang sangat langka. Di mana pria tampan menggengam tangan gadis culun yang jelek. Seperti kisah-kisah dalam sebuah drama tv.


Beberapa para murid mulai memotret dan membuat berita gosip yang hanya dalam hitungan menit berita tersebut berhasil menjadi tranding topik pada akun sekolah. Vans dan Alena yang tidak tahu hal itu tidak peduli dan tidak ingin ambil pusing. Jika risih tentu saja mereka merasakannya, khususnya Alena yang menjadi sorotan dan pelaku antagonis di sini. Namun, ia dan Vans sudah biasa bukan selalu berjalan beriringan dulu. Di saat Vans belum berubah menjadi keren dan tampan. Jadi, baginya ini bukanlah hal yang perlu dibesar-bersarkan.


Tidak hanya itu, para murid juga mulai bergosip dan saling berbisik. Entah apa penilaian mereka. Namun, itu sama sekali bukan urusan Alena dan juga Vans. Sekarang yang penting dan utama mereka ingin cepat sampai di kantin karena perut keduanya sudah mulai keroncongan.


Suasana kantin yang ramai dan ribut seperti biasa menyambut kedatangan Vans dan Alena. Keduanya memilih bangku kosong yang ada di sudut kantin. Bangku yang tak tersentuh dan tak teringinkan untuk diduduki. Mungkin karena tempatnya yang terlalu berada di pojok.


"Duduklah di sana. Gue akan memesan makanan untuk kita. Lo mau apa?" tangan Vans dengan senyum yang selalu mengembang di bibir seksinya.

__ADS_1


"Gue mau burger," jawab Alena dengan antusias. Ia sudah sangat menginginkan roti dengan isi daging itu. Sepertinya cacing-cacing dalam perutnya juga setuju dan menginginkan makanan itu. Buktinya, rasa lapar semakin mendera perutnya.


"Ngak boleh," tegas Vans membuat wajah semringah Alena berubah menjadi bingung.


"Kenapa?"


"Itu bukan makanan sehat. Gue akan pesenin nasi goreng aja," putus Vans dengan menaikkan sebelah alisnya.


"Ck, ngak mau. Gue lagi ngak mau makan nasi goreng. Gue maunya makan Burger," tolak Alena dengan wajah cemberut.


"Udah, lo ngak usah ngebantah perkataan gue. Sekarang lo duduk di sana!" titah Vans mutlak tanpa menerima penolakan atau bantahan. Vans segera berlalu meninggalkan Alena menuju tempat pemesanan makanan.


Sementara Alena hanya mendengus pasrah. Lagi-lagi ia menurut dengan perintah Vans tanpa bisa menolak. Alena berjalan dengan sedikit lemas ke arah meja pojokan yang kosong. Pupus sudah keinginan untuk ia bisa makan Burger. Alena mengelus perutnya dengan dramatis.


"Ngak di rumah, ngak di sekolah. Semuanya ngelarang aku buat makan roti isi daging yang enak itu. Hhhh," gumam Alena dengan menjatuhkan kepalanya di atas meja.


Dari arah depan Vans mendekat dengan kedua tangan membawa makanan untuk Alena dan dirinya. Biasanya ia akan membawa makanan untuk Raline. Namun, kali ini ia membawa makanan untuk gadis yang sangat berjasa dalam hidupnya. Hatinya terasa sangat bahagia bisa membawakan makanan untuk Alena. Jika dibandingkan rasa senang di hatinya saat membawakan makanan untuk Raline dengan Alena. Ia lebih merasa senang melakukan hal itu untuk Alena.


Vans meletakkan makanan yang dipesannya di depan meja. Alena mengangkat wajahnya dengan lesu. Namun sedetik kemudian bibirnya terbuka dengan lebar di iringi dengan kedua mata yang berbinar saat melihat satu Burger dengan lelehan keju. Benar-benar terlihat sangat lezat.


"Wahh, Burger," pekik Alena sangat senang. Kedua tangannya terulur hendak mengambil makanan yang membuat air liurnya itu meleleh. Namun, tinggal dua centimeter lagi Burger tersebut malah melayang menjauh dari jangkauan Alena. Wajah Alena seketika tertekuk dan mengerut kecewa.


Alena menghela nafas kasar dengan mulut yang dimanyunkan ke depan. Vans duduk di depan gadis itu dan meletakkan kembali Burger di sampingnya agar Alena tidak bisa meraih makanan tersebut.


"Ini, lo kan pesen nasi goreng." Vans menyodorkan sepiring nasi goreng ke depan Alena.


"Bukan gue yang mesen tapi lo," balas Alena dengan menatap nanar tanpa minat sepiring nasi goreng di depannya.


"Itu enak kok, cobain aja."


"Ngelarang makan Burger tapi dia sendiri yang pesen Burger," sindir Alena saat melihat Vans akan menggigit Burger dengan keju meleleh.


Vans yang hendak menggigit Burger pesanannya seketika mengurungkan niatnya. Ia memandang ke arah Alena yang hanya memainkan nasi goreng tersebut tanpa minat untuk memakan makanan tersebut.


Rasa kasihan menyeruak menyentuh hati Vans melihat wajah Alena yang sedih. Selalu saja begini, ia tidak bisa melihat wajah bertompel itu bersedih. Dengan menghela nafas panjang. Vans menyodorkan Burger yang ada di tangannya pada Alena.


"Ini makanlah," ucap Vans dengan nada sedikit tidak rela.

__ADS_1


Alena menelan ludahnya sendiri melihat Burger sudah ada di depan bibirnya. Ia melirik sekilas ke arah Vans dan menahan keinginannya untuk segera malahap makanan itu.


"Kenapa berubah pikiran?" tanya Alena.


"Ngak berubah pikiran, ayo makan aja. Tuh, air liur lo mau jatuh," balas Vans dengan meledek.


Tidak ingin membuang kesempatan. Alena segera menggigit Burger tersebut dari tangan Vans. Sungguh, rasa makanan itu sangat enak saat menyentuh lidahnya.


"Emmmm, enak banget," ucap Alena dengan menyentuh kedua pipinya sendiri.


Vans tersenyum melihat wajah Alena yang kembali senang. Tanpa jijik, Vans menggigit Burger tersebut tepat pada bekas gigitan Alena barusan.


Alena menelan bulat-bulat Burger yang baru setengah ia kunyah, saat melihat Vans makan dari bekas gigitan dirinya.


"Vans, lo makan bekas gigi gue," ucap Alena dengan wajah kaget yang terkesan lucu.


"Ya, terus?"


"Lo ngak jijik?"


"Kenapa harus jijik? Ini bekas lo kan. Gue ngak jijik sama sekali. Udah, lo sekarang habisin nasi gorengnya. Kan, gue udah kasih lo minta."


Alena semakin terbawa perasaan dengan apa yang baru di lakukan oleh Vans. Sikap pria itu sangat manis dan meluluhkan hati. Akan tetapi, sayangnya perasaan yang ia miliki hanya bertepuk sebelah tangan.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2