The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Mendapatkan teman


__ADS_3

...64...


Tangisan yang syarat akan luka dan derita. Tangisan yang begitu terdengar pilu. Tangisan kecewa dengan rasa sakit hati yang bercampur menjadi satu.


"Alena!" panggil suara gadis yang masuk ke dalam ruangan tersebut. Membuat Alena menghapus dengan cepat air mata di wajahnya. Ia menatap tidak percaya melihat siapa yang masuk ke dalam ruangan ini.


"Gina, Zeli," lirih Alena dengan wajah bingung melihat kehadiran dua gadis yang selalu mengganggu hidupnya.


"Alena lo baik-baik aja kan?" tanya Zeli menghampiri Alena yang terlihat pucat. Sedangkan Gina terlihat terisak dengan nafas yang berat.


"Kalian, kenapa bisa di sini?" tanya Alena bingung denga sikap kedua gadis itu.


"Mereka yang membawamu ke rumah sakit," sela sang Dokter tersenyum ke arah Alena.


"Sumpah, Len. Lo buat gue hampir pingsan," ucap Gina dengan kesal.


Kedua gadis itu duduk di sisi Alena. Mereka benar-benar takut saat menemukan gadis bertompel itu pingsan dengan hidung yang berdarah di parkiran. Kata-kata Alena yang tadi siang tentang pertemanan membuat mereka sadar jika sebuah hubungan yang sejati tidak bisa dibeli dengan apapun.


Pertemanan yang tulus berdasarkan rasa sayang yang ikhlas dari lubuk hati terdalam. Pertemanan tidak bisa ditawar dan ditukar karena hubungan bukan benda yang dipermainkan begitu saja. Alena berteman dengan Vans dengan ketulusan. Sedangkan mereka selalu mengukur sesuatu dengan harta dan uang. Bahkan, mengukur semua hal dengan derajat dan juga level. Dari Alena mereka belajar jika itu semua tidak benar. Hubungan yang dilandasi dengan harta dan tatanan sosial tidak pernah bertahan lama. Hanya hubungan dari hati yang akan terus abadi hingga kematian datang.


"Lo kelihatan pucat banget, gue ngak tahu harus bawa lo kemana. Yang terpikirkan saat itu hanya rumah sakit. Sebenarnya lo sakit apa, Len?" cecar Zeli dengan celotehnya yang panjang.

__ADS_1


Alena menatap dua gadis tersebut dengan aneh. Rasanya, ini bukan sifat kedua gadis itu. Apa mereka sengaja bersikap baik seperti ini agar mereka bisa mendekati Vans melalui dirinya?


"Gue ngak papa." Alena melirik ke arah Dokter, memberi tatapan bertanya apa sang Dokter memberi tahu Zeli dan Gina tentang kondisinya.


Melihat tatapan isyarat dari sang pasien, tentu sang Dokter mengerti. Ia menggelengkan kepalanya pelan memberi jawaban jika apa yang dikhawatirkan Alena tidak terjadi. Ia tidak mungkin memberi tahu masalah serius ini pada dua gadis remaja yang masih labil. Rahasia pasien adalah prioritas utama. Alena merasa lega karena ternyata Zeli dan Gina tidak tahu akan kondisinya yang memprihatinkan.


"Makasih, kalian sudah mengantarku ke sini," ucap Alena dengan tulus.


"Lena, maafin kita ya buat yang tadi siang, Kata-mata lo emang bener. Jika hubungan tidak bisa ditawar atau dibeli oleh apapun. Kita salah karena selama ini kita selalu bulli lo. Kita hanya melihat sisi kekurangan lo tanpa melihat sisi kebaikan dan kelebihan lo. Gue sadar Lena, semua sesuatu tidak bisa hanya diukur oleh penampilan," ujar Gina dengan bersungguh-sungguh. Watak keras dan jutek yang selalu ia tunjukkan kini hilang tergantikan dengan tatapan sendu penuh penyesalan.


Zeli meraih tangan Alena dan menggenam tangan lentik Alena yang terasa dingin. Ia menatap wajah pucat Alena dengan tatapan yang sama seperti Gina. Ia sangat merasa bersalah dengan apa yang sudah ia perbuat pada Alena.


"Alena, lo maafin kita kan? Kita ingin jadi temen lo. Gue harap lo bisa lupain masa lalu. Gue dan Zeli bersungguh-sungguh minta maaf sama lo," pinta Zeli dengan tatapan penuh harap.


Gina yang melihat tatapan ragu Alena sangat mengerti apa yang sedang dipikirkan oleh gadis itu. Tentu saja, Alena tidak akan percaya begitu saja dengan apa yang mereka ucapkan setelah apa yang mereka lakukan selama ini. Gina menghapus sisa-sisa air matanya dan memeluk tubuh ringkih Alena. Di mana, air mata Alena lansung luruh begitu saja merasakan pelukan hangat Gina yang begitu menenangkan. Apa seperti ini rasanya di peluk oleh teman perempuan? Pertanyan itulah yang muncul di kepala Alena saat ini.


"Gue tahu, lo pasti berpikir kita ingin berteman sama lo karena Vans. Tidak Alena, gue dan Zeli tidak ingin mendekati Vans lewat lo. Kita tidak butuh pria tampan seperti Vans. Kita butuh temen yang baik seperti lo. Teman yang tidak mengharapkan apapun saat berteman. Gadis yang berteman dengan tulus. Kamu tahu, seharusnya aku menyadari hal itu dari dulu. Namun, kamu sudah membuat kami sadar. Jika hubungan itu dibangun dengan hati bukan dari kasta dan derajat," ungkap Gina dari lubuk hati terdalam. Zeli yang melihat sisi lain Gina merasa tidak percaya. Gina yang biasanya jutek, judes, dan tidak peduli dengan orang lain. Ternyata bisa menangis saat melihat kondisi Alena yang pingsan.


Bahkan, sejak Alena diperiksa oleh Dokter. Gina terus gelisah dan ketakutan. Dia begitu khawatir dengan kondisi Alena. Dokter yang menangani Alena pun menjadi korban semprotan kalimat-kalimat pedas gadis itu.


"Gina benar Alena. Kita janji, kita ngak akan deketin Vans. Kita tulus berteman sama kamu. Jadi, kami mohon maafin semua kesalahan kami." Zeli berusaha membujuk Alena. Memang itu yang mereka inginkan. Berteman dengan tulus tidak lebih.

__ADS_1


"Untuk semua yang sudah terjadi kita lupakan saja. Semua itu sudah berlalu dan hanya menjadi masa lalu. Kita hidup di masa kini dan masa depan. Jadi, mana bisa aku menolak pertemanan kalian," putus Alena dengan menerima Zeli dan Gina sebagai teman.


Tangis Gina dan Zeli seketika pecah. Mereka memeluk Alena semakin erat. Membagi rasa bahagia karena kini permusuhan yang pernah ada di antara mereka telah berubah menjadi pertemanan dan persahabatan.


Alena juga merasa sangat senang. Di sisa-sisa hidupnya. Semua impian dan harapan kecil yang ia miliki mulai teruwud satu persatu. Mulai dari memiliki teman, dan kini ia memiliki dua teman perempuan sekaligus. Hal yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Apa tuhan sengaja melakukan hal ini padanya? Untuk memberikan memori yang indah dan manis sebelum nyawanya dibawa pergi. Sebelum, kedua matanya mengatup dengan sempurna dan tak bisa lagi melihat dunia.


Rasa sakit yang begitu menyesakkan menyeruak dengan begitu mudah ke dalam dada Alena. Rasa sakit meratapi nasibnya yang begitu miris dan malang.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komentar


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2