
...28...
Acara makan malam akhirnya telah selesai. Kini, Nyonya Hana, Tuan Ferdy, Vihan, Vans, serta Alena tengah berkumpul di balkon belakang. Nyonya Hana sengaja mengajak Alena berkumpul di belakang rumah karena terhubung langsung dengan taman bunga miliknya. Ia juga sudah menyulap balkon ini menjadi sangat indah dengan lampu-lampu kecil serta bunga melati yang dirangkai dengan sangat cantik.
"Wah, aku merasa cemburu karena kau menyiapkan kejutan seindah ini untuk Alena. Sementara aku, suamimu tidak pernah kau berikan kejutan," celoteh Tuan Ferdy melayangkan protes pada Nyonya Hana yang sedang menyajikan minuman untuk Alena.
"Diamlah, nikmati saja malam ini. Jangan membuat ular betina bangun dan mematukmu," balas Nyonya Hana dengan perkataan yang mengandung ancaman, yang langsung membuat Tuan Ferdy memalingkan wajahnya. Sementara Vihan dan Vans tersenyum tipis melihat tingkah kedua orang tuanya.
"Alena, ayo minum!" seru Nyonya Hana, kemudian duduk di samping Alena.
"Terimakasih, Tante. Aku sangat tersanjung diundang makan malam di rumahmu. Lalu, dibuatkan kejutan seindah ini," tutur Alena dengan begitu tulus. Ia tidak menyangka jika di luar lingkup dunia yang ia ciptakan sendiri, ada orang lain yang mau menerima dirinya apa adanya meski ia tidak menjadi diri sendiri.
Nyonya Hana membelai penuh kasih sayang kepala Alena. Ia sangat menyukai gadis di depannya. Selain sopan dia juga sangat polos dan manis. Jika saja, tuhan memberikan seorang putri baginya, maka ia menginginkan putri semanis Alena.
"Sama-sama, sayang. Kamu harus rajin-rajin berkunjung ke rumah ini. Tante, sangat senang karena kamu mau datang ke rumah Tante."
"Apa tidak masalah jika aku sering main ke sini, Tan?"
"Tentu saja, pintu rumah ini terbuka lebar untukmu. Bahkan, kamu bisa mengajak momymu ke sini. Kita akan mengadakan girls time bersama, pasti akan sangat menyenangkan."
"Waww, itu ide yang sangat bagus Tan. Momyku pasti sangat senang jika mendengar hal ini. Jujur, Tante sangat ramah dan baik, sangat jarang aku menemukan wanita sebaik Tante." Berbicara dengan Nyonya Hana membuat Alena langsung merasa cocok dengan wanita paruh baya itu. Nyonya Hana sangat pandai memposisikan diri, seolah-olah Alena berbicara dengan teman perempuan. Tidak ada batasan usia atau semacamnya. Dalam pertemuan pertama mereka sudah sangat akrab.
Tuan Ferdy, Vihan, dan Vans hanya bisa mendengar ocehan obrolan antara sesama perempuan. Saling memuji dan merendahkan diri dalam waktu bersamaan. Vans yang melihat sang ibu begitu akrab dengan Alena tersenyum tipis. Alena benar-benar gadis yang baik, dalam sekejap gadis itu berhasil mencuri hati sang ibu.
Puk!
Vihan memukul pundak Vans yang sejak tadi terus menatap ke arah Alena dan sang Momy. Vans lansung tersentak dengan pukulan di bahunya. Ia mendengus ketika Vihan duduk di sampingnya sambil meminum Red Jus.
"Kenapa terus melihat Alena?" tanya Vihan yang kini juga memperhatikan gadis di depannya yang tertawa denga begitu manis.
__ADS_1
"Ini mataku bukan matamu. Jadi, terserah jika aku mau melihat siapa," balas Vans dengan nada sedikit ketus. Lalu, meneguk Orange Jus miliknya.
"Aku tidak percaya jika kamu mempunyai teman perempuan." Vihan melirik sekilas ke arah Vans yang masih menikmati untuk menatap Alena.
"Kamu pikir, aku itu orang yang tidak pandai bersosialisasi sehingga tidak memiliki teman. Ayolah, Kambing, aku juga punya banyak teman." Vans menyeringgai.
"Kamu punya banyak teman tapi pernahkah kamu berpikir, siapa yang berteman denganmu dengan tulus? Dunia sosial jaman sekarang itu kejam Vans. Semua orang memakai topeng, mengaku teman tapi hanya menjadi nyamuk yang hanya menghisap darahmu. Lalu, setelah kenyang dia akan terbang."
Vans menoleh ke samping, menatap sang kakak dengan tatapan tajam. Ia tidak suka dengan perkataan Vihan yang seolah-olah mengatakan jika semua teman yang ia miliki selama ini adalah para penjilat yang hanya memanfaatkan dirinya.
"Teman-temanku tidak sepertiku," tekan Vans.
"Lalu, jika tidak seperti itu lalu seperti apa? Apa teman-teman dari sekolah dulumu itu menghubungimu hanya untuk sekedar menanyakan kabar? Tidak, bukan. Lalu, apa ada yang mau berteman denganmu di sekolah barumu itu? Tidak ada. Mereka hanya datang di saat mereka membutuhkan dirimu. Jadi, Vans, tolong gunakan akalmu sedikit saja." Vihan menjeda kalimatnya, ia menatap ke arah Alena.
"Mungkin, Alena mau menjadi temanmu karena sebuah alasan. Apa kamu tidak pernah berpikir seperti itu?"
Vans langsung bangkit dari duduknya dengan kedua tangan mengepal dengan erat. Wajahnya terlihat sangat marah dan kesal. Ia mungkin masih bisa bersabar dengan semua perkataan Vihan tentang teman-temannya, tetapi tidak untuk Alena.
"Vans!" panggil Nyonya Hana, yang lansung membuat Vans sadar dan mengontrol emosinya.
"Iya, Mom." Vans menoleh ke arah Nyonya Hana.
"Kau temani Alena jalan-jalan di taman bunga Momy ya. Tunjukkan padanya, koleksi bunga mahal yang Momy miliki. Momy akan segera menyusul kalian setelah selesai membuat makanan yang nantinya akan Alena bawa pulang!" titah Nyonya Hana yang langsung berdiri.
"Tante, aku rasa tidak perlu. Tante, sudah mengirim makanan saat Vans datang menjemputku," sosor Alena dengan cepat karena merasa tidak enak hati. Nyonya Hana begitu sangat baik.
"Ck, Lena. Kamu bilang kamu menggangapku seperti momymu sendiri. Jadi, jangan menolak pemberian Momy Hana, mengerti!" Nyonya Hana memasang wajah garang agar Alena tidak bisa menolak keinginannya.
"Hhhh, baiklah, Tante." Alena menghembuskan nafas pasrah.
__ADS_1
"Jangan panggil Tante, ingat panggil Momy Hana."
"He ... He ..., iya Momy Hana." Alena tertawa ringan. Nyonya Hana segera melangkah pergi meninggalkan balkon. Tuan Ferdy yang melihat sang istri masuk, segera menyusul.
"Ayo, jadi ngak jalan-jalannya!" seru Vans dengan menaik-nurunkan alisnya.
"Iya." Alena bangkit dari duduknya.
"Kak Vihan, aku permisi dulu ya," ujar Alena lagi berpamitan pada Vihan yang langsung menganggukkan kepalanya.
Alena dan Vans berjalan beriringan menuju taman meninggalkan Vihan sendiri yang masih asik dengan Red Jus miliknya.
.
Alena mengedarkan pandanganya pada taman bunga yang cukup luas jika di sebut sebuah taman di belakang rumah. Hampir, bunga-bunga yang tumbuh di taman ini adalah bunga-bunga dengan harga yang cukup mahal. Bahkan, ada mawar dengan warna kuning keemasan yang terlihat bersinar di sisi bagian taman. Alena tahu jika bunga itu bukanlah mawar yang bisa didapatkan dengan mudah karena sang Momy juga memiliki satu tanaman bunga itu.
"Lo lihat, di sana ada bunga malam," celetuk Vans sambil menunjuk ke arah tanaman bunga dengan tinggi sebahunya. Alena pun menoleh ke arah tangan Vans.
...----------------...
...****************...
Jangan lupa
like
koment
gift
__ADS_1
vote
tips