The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Kerumunan


__ADS_3

...52...


Para murid perempuan Sun Elite School pagi ini berlari beramai-ramai menuju parkiran sekolah. Beberapa di antara mereka bahkan hampir terjatuh terjungkal ke lantai. Akan tetapi, murid-murid perempuan itu terlihat sangat antusias. Para murid laki-laki sangat bingung dengan hal itu sehingga mereka akhirnya mengikuti ke arah mana para gadis itu berlari.


Raline yang baru datang dengan kedua temannya tengah melenggak-lenggokkan tubuhnya seperti seorang model. Menarik perhatian para pria yang selalu memuji kecantikannya.


Namun, dari arah depan terlihat gerombolan murid perempuan yang berlari, hingga akhirnya karena gerombolan itu tubuh Raline menjadi tersenggol dan hampir jatuh. Untung ada seorang murid perempuan yang termasuk dalam gerombolan itu menangkap tubuhnya. Jika tidak, wajahnya yang cantik pasti akan membentur tong sampah yang sangat kotor.


"Lepaskan!" sentak Raline dengan wajah marah, di mana tubuhnya masih di senggol oleh beberapa murid yang berlarian ke arah parkiran.


"Maaf, Raline,"


"Minggir-minggir, kasi jalan."


"Awas donk, jangan ngehalangi jalan."


"Auuu, berikan sedikit jalan."


Suara berisik gerombolan para gadis itu yang saling mendahului dan berdesak-desakan. Bahkan, ada beberapa yang terinjak karena terjatuh. Raline menepikan tubuhnya agar tidak terkena dorongan atau desakan dari para gadis yang menggila.


Raline benar-benar sangat bingung ada apa dengan pagi ini. Kenapa para gadis berlarian dengan berteriak histeris, seolah-olah ada idol yang datang ke sekolah ini.


"Astaga, sebenarnya ada apa ini? Kenapa mereka berlarian seolah dikejar zombie seperti itu?" ucap Raline melemparkan pertanyaan saat gerombolan murid perempuan itu sudah berlalu.


"Iya, mereka menuju ke arah parkiran," tambah teman Raline dengan tampilan yang berantakan karena terkena tangan-tangan nakal dari gerombolan murid perempuan.


"Yang gue denger dari perkataan mereka yang histeris. Ada cowok ganteng di parkiran," celetuk teman Raline yang satunya dengan wajah antusias. Siapa yang tidak bersemangat jika menyangkut tentang pria tampan.


"Cowok ganteng?" lirih Raline dengan wajah berpikir sembari tatapannya menuju ke arah parkiran yang di kerubungi oleh para murid perempuan dan laki-laki.


"Gue penasaran, setampan apa sih cowok itu sampai-sampai membuat satu sekolah menjadi gempar. Kita ke parkiran!" Raline memberikan instruksi pada dua temannya yang di sambut dengan anggukan setuju.


Ketiga gadis tersebut memutar haluan menuju parkiran. Seharusnya pagi ini, mereka banjir pujian karena menjadi gadis cantik di seluruh sekolah. Khususnya Raline, tetapi gara-gara berita cowok ganteng membuat Raline terlupakan. Tentu saja, Raline tidak terima. Ia sangat penasaran setampan apa pria itu hingga berhasil membuat seluruh gadis di sekolah ini berteriak histeris.

__ADS_1


Di sisi lain, tepatnya di parkiran. Terlihat seorang pria tampan dengan rambut yang di buat sedikit berdiri dan begitu styles tengah tersenyum di tengah kerumunan para gadis yang sedang mengambil foto dirinya.


Bola mata indah pria itu sejak tadi mencari-cari seseorang. Namun, ia tidak kunjung menemukan orang yang ia cari. Tidak bisa bergerak masuk ke dalam sekolah membuat ia memilih untuk menyenderkan tubuhnya pada pintu mobil samping sehingga membuat dia terlihat begitu sangat tampan.


Satu tangan kanan yang dimasukkan ke dalam saku celana, dengan tas ransel yang menyampir di bahu kirinya. Sedangkan, di pergelangan tangan kirinya terlihat melingkar jam tangan mewah berwarna hitam. Sangat kontras dengan warna kulit putihnya.


Pria tampan yang menjadi pusat perhatian sejak dia turun dari mobil mewah itu adalah Vans Dirgantara. Cowok cupu yang selalu direndahkan dan dihina, serta dibulli kini berubah menjadi pria tampan yang sangat digilai oleh para gadis.


Para murid bahkan tidak mengenali jika pria yang begitu mereka puji dan agung-agungkan adalah pria yang selalu mereka tatap dengan jijik.


"Ohh, astaga murid barunya ganteng banget."


"Sumpah, gue meleleh."


"Dia ganteng banget, mirip sama oppa-oppa idol."


"Pacar impian gue."


"Ganteng, nama lo siapa?"


Di sisi depan parkiran. Terlihat Alena turun dari mobil dengan penampilannya yang seperti biasa. Kacamata besar yang bertengger di batang hidungnya. Lalu, tompel hitam di pipi kirinya, serta rambut yang di kepang.


Setelah mobil Tuan Surya pergi dari hadapannya. Alena menatap penasaran pada kerumunan yang ada di parkiran. Parkiran sekolah hampir penuh dengan para gadis.


"Astaga, gue butuh oksigen. Fix dia cowok terganteng di sekolah kita."


"Pengen banget dapetin dia. Tapi apalah daya gue cuma kentang goreng."


Begitulah ucapan-ucapan yang didengar Alena ketika semakin dekat dengan kerumunan para gadis itu. Ia benar-benar semakin penasaran apa yang sedang terjadi. Alena memicingkan alisnya dan bergerak mendekat hingga beberapa murid perempuan yang datang di belakangnya menyenggol Alena begitu saja. Alena merenggis kesakitan. Namun, bukannya minta maaf, murid-murid itu malah bersikap tidak melihat kehadiran Alena. Karena begitu penasaran, Alena berinisiatif untuk bertanya pada salah satu murid yang ada di dekatnya.


"Ini, ada apaan sih? Kok rame-rame?" tanya Alena.


"Cih, jangan nanyak nanya gue. Lo ngak lihat apa gue lagi sibuk. Minggir jangan halangin jalan gue buat ketemu cowok tampan, dan satu lagi mending lo pergi dari sini karena cewek culun kayak lo ngak pantes buat ketemu cowok ganteng. Paham!" sarkas murid tersebut dengan gaya sombong.

__ADS_1


Alena hanya diam, ia sudah sangat terbiasa mendapatkan perlakuan kasar dan tidak baik dari para murid. Tidak ingin menyerah dan masih penasaran. Alena menjinjitkan kakinya hingga berdiri pada jari jempol kakinya sendiri. Ia adalah penari ballet tentu saja ia bisa melakukan hal itu dengan mudah.


Alena menajamkan kedua matanya, di mana kedua pupil matanya membesar saat melihat Vans yang terjebak di tengah-tengah kerumunan. Alena menutup mulutnya dengan spontan. Ia tidak menduga jika penampilan baru Vans akan membuat pria itu menjadi idola sekolah. Bisa Alena lihat, Vans yang terlihat tidak sangat tidak nyaman.


"Melihat cowok ganteng dan keren membuat para gadis menjadikan Vans mangsa mereka. Astaga, aku tidak menduga jika Vans akan setenar ini. Aku harus membantu dia untuk keluar dari kerumunan. Pasti dia merasa sesak," gumam Alena dengan menggangguk-anggukkan kepalanya. Ia rasa pemikirannya memang benar. Ia harus menolong Vans.


Tanpa peduli ramainya kerumunan yang berdesakan. Alena mencoba menerobos kerumunan para murid perempuan itu. Meskipun, tubuh mungilnya harus terdorong dan terhimpit. Bahkan, ada pula yang dengan jahatnya mencakar punggung Alena karena ia tidak sengaja menyenggol orang lain. Namun, Alena tidak menghentikan langkahnya untuk mencapai Vans.


"Permisi," ucap Alena dengan mendorong tubuh para gadis yang menghalangi jalannya.


"Ihhh, culun berani banget lo dorong gue," umpat para murid perempuan tersebut yang sangat kesal dengan Alena. Dari arah samping seorang murid melempar batu ke arah Alena sehingga mengenai kening Alena.


Bugh


"Auuuu!" pekik Alena. Ia menyentuh pelipisnya dan terlihat bercak cairan merah di jari-jari tangannya.


"Astaga, aku berdarah," lirih Alena dengan air mata yang hampir tumpah. Alena menggelengkan kepalanya cepat. Saat ini bukan saatnya ia memperdulikan luka yang ada di pelipisnya, yang lebih penting sekarang adalah ia harus membantu Vans. Ia tidak bisa melihat Vans dalam kesulitan. Apalagi, Vans selalu membantu dan melindungi dirinya.


Alena menyeruak pada kerumunan terakhir. Akhirnya, ia berhasil melewati gerombolan kerumunan itu. Alena melangkah dengan cepat dan hendak menarik tangan Vans dari bagian samping pria itu. Namun, tangan Alena berhenti udara. Saat tatapannya melihat tangan Vans digandeng oleh tangan seorang gadis, yang tak lain dan tak bukan adalah Raline.


Krak!


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2