The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Hari libur berakhir


__ADS_3

...15...


15 hari berlalu. Akhirnya libur sekolah telah usai. Semua murid yang sudah begitu candu dengan kasur harus kembali bangun pagi-pagi dan berangkat menuju sekolah. Rasa malas yang begitu besar membuat mereka mengumpat kesal karena hari libur berlalu dengan sangat cepat.


Vans sudah siap dengan seragamnya. Ia memasukkan buku serta pelaratan sekolah lainnya ke dalam ransel. Lalu, meraih ponselnya yang tergeletak di samping rak. Ia memainkan sebentar benda pipih itu. Namun, wajah Vans terlihat kecewa. Gadis yang diharapkan membalas pesannya tak kunjung merespon.


"Kenapa, Alena belum membaca pesanku?" umpat Vans ketika melihat tanda centang pada aplikasi berkirim pesan masih tetap satu. Jangankan untuk berubah menjadi biru, berubah menjadi gandapun tidak. Vans menghela nafas panjang. Yah, ia mengirim sebuah pesan ucapan terimakasih pada Alena. Pesan itu ia kirim setelah ia mengetahui dari Nyonya Hana jika Aelin yang mengantarnya pulang. Itu artinya, ia mengirim pesan 15 hari yang lalu. Akan tetapi, gadis itu sampai hari ini belum membalas atau pun membaca pesannya.


Ia mendapatkan nomer ponsel Alena dari group chat sekolah. Ia ingin menanyakan mengapa Alena berbohong dan memberi alasan palsu pada orang tuanya, meski hal itu memang adalah sesuatu yang tepat.


"Sudahlah, mungkin nomer ponselnya sudah tidak dipakai lagi. Tidak mungkin, orang tidak aktif selama ini. Aku akan berterimakasih saat di sekolah saja," ucap Vans berbicara pada dirinya sendiri, lalu menyampirkan ransel di punggungnya dan segera keluar dari kamar.


Seperti pagi hari biasanya, Nyonya Hana, Tuan Ferdy, dan juga Vihan suda duduk di meja makan. Memang tradisi dalam keluarga ini jika Vans datang paling akhir.


"Pagi, Mom, Dad!" seru Vans dengan mencium lembut pipi kiri sang ibu. Nyonya Hana tersenyum bahagia.


"Kebiasaan ya kamu Vans, ngucapin selamat pagi sama Dady dan juga Momy aja. Sedangkan pada abangmu, kamu tidak pernah mengucapkan selamat pagi," sindir Vihan sambil memasukkan roti ke dalam mulutnya.


"Hhh, ngucapin selamat pagi ke kamu itu mubazir tau ngak." Vans menarik kursi di samping Vihan kemudian duduk. Nyonya Hana segera menyajikan roti di atas piring Vans.


"Dasar adik durhaka," umpat Vihan mencebikkan bibirnya.


Perdebatan di pagi hari akhirnya berakhir. Vans dan Vihan diam menikmati sarapan mereka masing-masing. Tidak ada yang memulai obrolan atau perdebatan lagi. Keduanya sibuk dengan pikiran masing-masing.


Vihan sibuk memikirkan hasil tips yang ia berikan kepada Vans 15 hari yang lalu. Ia sangat penasaran apakah adiknya ini ditolak atau sebaliknya. Ia juga penasaran dengan apa yang terjadi malam itu, saat Vans pulang dengan keadaan yang buruk. Namun, adiknya yang sangat menyebalkan dan tidak tahu berterimakasih itu malah bungkam dan menutup mulutnya rapat-rapat. Vans tidak ingin menceritakan hasil pernyataan cintanya walaupun ia sudah menanyakan hal itu berkali-kali.


Sementara Vans, pikirannya terus melayang pada Alena. Pertanyaanya yang belum dijawab membuat dirinya tidak henti memikirkan gadis itu. Alena seperti menghilang ditelan bumi setelah berhasil membuat dirinya berhutang budi dan mati penasaran.


"Mom, Dad, aku berangkat!" seru Vihan memecah keheningan, di mana ia langsung menjadi pusat perhatian.


"Hati-hati, sayang."


"Yes, Mom." Vihan melenggang pergi.


"Aku juga sudah selesai, kalau gitu aku berangkat ya, Dad, Mom," ujar Vans yang langsung beranjak dari duduknya.

__ADS_1


"Tunggu, Vans." Ucapan dari Nyonya Hana menghentikan pergerakan Vans. Ia berbalik kembali menatap sang ibu.


"Ada apa, Mom?"


"Bisakah kamu meminta Alena untuk makan malam di rumah kita malam ini?" tanya Nyonya Hana dengan menyegir.


"Untuk apa? Mom," sosor Tuan Ferdy dan Vans bersamaan.


"Astaga, kalian ini memang kompak banget ya, kalian tidak lupakan siapa Alena?"


"Tentu saja tidak," jawab Vans dan Tuan Ferdy bersamaan lagi, membuat Nyonya Hana mengulum senyum lucu melihat kekompakan antara anak dan ayah itu.


"Momy sangat menyukai gadis itu Vans. Momy ingin mengundangnya makan malam di rumah kita karena dia sudah menyelamatkan nyawa putra rumah ini. Jadi, kamu harus sampaikan pada Alena."


"Apa perlu seperti itu, Mom?" tanya Vans dengan raut wajah sedikit tidak setuju. Ia merasa tidak perlu mengundang Alena ke rumah. Jujur, ia sangat kesal dengan gadis itu yang belum menjawab pesan darinya. Selama 15 hari ia harus memendam rasa penasaran dengan pertanyaan-pertanyaan yang terus mengganggu.


"Tentu saja, Vans. Dady juga setuju dengan Momy mu. Ajaklah Alena untuk makan malam bersama. Dia adalah gadis yang baik," sela Tuan Ferdy dengan nada tegas.


"Baiklah, akan aku katakan padanya nanti. Aku pergi dulu," ujar Vans menyanggupi keinginan kedua orang tuanya. Ia pun segera bergegas berangkat ke sekolah dengan menggunakan sepeda seperti biasanya.


...----------------...


Alena menatap pantulan dirinya di depan cermin. Di mana wajahnya terlihat pucat dan letih. Rasa lelah begitu terpancar begitu jelas dari wajah cantiknya.


Saat ini ia sedang berada di hotel. Ia baru pulang setelah menjalani beberapa pemeriksaan dari rumah sakit besar yang akan menjadi tempat ia berobat. Pengobatan yang dikatakan untuk membuat dirinya sembuh, sebenarnya sangat menyakiti dirinya.


Sebelumnya ia harus minum obat setiap harinya tanpa hari libur. Akan tetapi, beberapa hari yang lalu tubuhnya harus menerima banyak tusukan jarum suntik serta pemeriksaan lainnya. Rasanya, sangat melelahkan dan menyakitkan.


Akan tetapi, semua itu terbalas dengan senyum di bibir kedua orang tuanya. Air mata Alena mengalir begitu saja tanpa hambatan. Rasanya, ia sangat kasihan pada dirinya sendiri. Semakin hari, harapan hidupnya semakin hilang. Ia seperti raga tanpa jiwa, seperti hidup tanpa tujuan.


Penyakit ini begitu menyakitinya. Sampai kapan? Ia pun tak tahu jawabannya. Berdamai dengan keadaan dan menerima kenyataan membuat hatinya menangis pilu dalam diam. Namun, melawan pun percuma.


"Hah, sampai detik ini kamu masih bertahan Alena? Apa yang kamu tunggu lagi? Bukankah pergi dari dunia ini adalah jawaban terbaik untukmu? Lalu, kenapa kamu masih bertahan?" tanya Alena pada pantulan dirinya di cermin.


"Sepertinya tubuhmu cukup kuat, tapi sayangnya itu sama sekali tidak berguna," tambah Alena dengan tersenyum miring.

__ADS_1


Alena meraih sebuah note kecil berwarna Pink. Ia sangat menyukai warna soft ini. Warna itu melambangkan sebuah kebahagian, tetapi tidak ia dapatkan dalam hidup. Perlahan, tangan Alena yang sedikit gemetar mulai menorehkan sebuah kalimat pada note kecil itu.


'Aku tidak menduga jika diriku bisa berguna untuk orang lain, menjalani hidup ini dengan standar kehidupan membuat sesuatu dalam diriku ingin bermimpi. Akan tetapi, aku terlalu takut.'


Klek!


Pintu kamar Alena terbuka, dari balik pintu terlihat Nyonya Giana membawa nampan berisi makanan dan obat-obatan.


Lagi, batin Alena menatap nanar beberapa kantung obat. Hanya dengan melihatnya saja membuat Alena malas.


"Sedang apa? Sayang," tanya Nyonya Giana mendekat ke arah Alena.


Alena segera merapikan kembali note miliknya, memasukkan benda kecil itu ke dalam laci meja.


"Tidak ada," jawab Alena singkat.


...----------------...


...****************...


Haduhhh Alena kasihan banget... Jahat banget othor baru masuk udah di kasi penyakit berat. Pengen tampol deh.


Othor: " Jangan macem-macem lu, berani nampol gue, gue tendang ke luar bumi lo."😡


Oke


jangan lupa


like


koment


gift


vote

__ADS_1


tips


__ADS_2