The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Kanker


__ADS_3

...14...


Sinar sang surya mulai muncul. Menyinari seluruh bumi yang sempat diselimuti gelapnya malam. Pagi menjelang begitu cepat, menggantikan malam yang beberapa jam ke depan akan kembali menyapa. Cahaya matahari yang terang menyelinap masuk ke dalam setiap celah yang bisa digapai.


Vans memejamkan kedua matanya, saat cahaya matahari yang silau jatuh tepat di mata kanannya. Cahaya matahari itu benar-benar menganggu tidur pulasnya.


Vans mengangkat tangannya, menghalangi sinar matahari yang menerpa bagian mata kanannya. Perlahan, kelopak mata Vans terbuka dengan di mana pemandangan yang ia lihat adalah nuansa kamarnya.


Vans segera bangkit dan terduduk. Ia mengedarkan pandangannya, memastikan jika ini adalah kamarnya. Akan tetapi, kenapa ia bisa berada di kamarnya sendiri? Bukankah tadi malam ia berada di pesta sekolah?


Vans memegang kepalanya, mencari ingatan tadi malam setelah Reline menolak cintanya mentah-mentah.


Hati Vans berdenyut nyilu, ketika mengingat bagaimana Raline menolak dan menghina cintanya yang tulus. Hatinya benar-benar hancur dan sangat sakit. Ternyata ia hanya di anggap babu oleh Raline, tidak lebih berharga dari sampah yang di buang.


Kedua mata Vans kembali berkaca-kaca. Dadanya terasa sangat sesak dan penuh, seperti sebuah bongkahan batu sedang menindih dadanya sehingga ia tidak bisa bernafas dengan lancar.


Klek!


"Vans, kamu sudah bangun, nak!" seru Nyonya Hana masuk ke dalam kamar putra bungsunya.


Vans langsung menyeka air matanya dengan cepat agar Nyonya Hana tidak melihat air matanya. Nyonya Hana duduk di samping Vans. Di mana ia membawa nampan berisi sarapan. Nyonya Hana meletakkan sarapan itu di depan Vans, lalu tangannya mengelus lembut pundak sang anak.


"Mom, kok bisa Vans udah ada di rumah? Seingat Vans, aku di sekolah," ucap Vans bertanya pada sang ibu. Ia sangat penasaran siapa yang mengantarnya pulang di saat ia sama sekali tidak berdaya.


"Kamu di antar oleh Alena. Bukankah dia temanmu?"


Vans cukup kaget mendengar perkataan Nyonya Hana. Ternyata yang membawa ia pulang adalah Alena, gadis yang juga menyelamatkan dirinya di saat semua orang tidak peduli.


"Iya, dia temanku Mom, Apa dia mengatakan sesuatu?"

__ADS_1


"Yah, dia mengatakan jika kamu terpeleset dan jatuh ke kolam karena tanganmu yang kram kamu hampir tenggelam. Momy, tidak percaya Vans seorang perenang handal sepertimu hampir tenggelam? Tapi untung ada Alena. Dia adalah gadis yang baik," jelas Nyonya Hana dengan senyum manis.


Vans terdiam memikirkan perkataan sang ibu. Alena benar-benar sangat baik. Ia harus berterimakasih pada gadis itu, pikir Vans. Akan tetapi, Vans juga dibuat bingung, kenapa Alena berbohong dan memberikan alasan palsu pada orang tuanya? Kenapa gadis itu tidak mengatakan hal yang sebenarnya terjadi? Jika sebenarnya ia ditolak mentah-mentah dan dipukul habis-habisan. Akan tetapi, ia juga bersyukur karena masalah sebenarnya tidak diketahui oleh keluarganya. Ia sangat malu, jika sampai keluarganya tahu apa yang sebenarnya.


"Lain kali, kamu harus berhati-hati, Vans. Mom, tidak ingin hal ini terulang kembali," pesan Nyonya Hana yang kemarin hampir pingsan karena melihat Vans pulang dalam keadaan tidak sadarkan diri dengan tubuh basah kuyup. Ia sangat bersyukur gadis yang bernama Alena dan juga ayah gadis itu mau mengantarkan Vans pulang ke rumah.


"Iya, Mom," jawab Vans singkat.


Nyonya Hana menyuapi Vans untuk makan. Vans pun langsung melahap makanan tersebut dengan pikirannya yang melayang pada Alena.


...----------------...


Kediaman Pradipta. Terlihat Nyonya Giana tengah duduk di sofa dengan tatapan tajam, sedangkan di depannya terlihat Alena yang menundukkan wajahnya dalam. Di sisi lain, Tuan Surya memilih untuk sibuk dengan koran pagi serta secangkir teh hijau hangat.


"Momy sudah berpesan bukan, Lena. Jangan pernah melewati batas kemampuan tubuhmu," ketus Nyonya Giana yang saat ini sedang diselimuti kabut kekhawatiran. Ia sangat mencemaskan kondisi Alena karena anak gadisnya itu berani berenang malam-malam dengan alasan dia menyelamatkan temannya yang di bulli.


"Mom, Alena minta maaf. Tapi, Alena tidak bisa diam saja melihat teman Lena hampir mati tenggelam. Satupun, tidak ada yang mau menolongnya," ucap Alena membela diri.


"Momy!" Alena langsung beranjak dari duduknya dan berhambur memeluk sang ibu.


"Maafin, Lena Mom. Please, jangan menangis lagi." Alena mencium pipi Nyonya Giana dalam. Memberikan ketenangan agar sang ibu berhenti menangis.


"Baiklah, Momy akan memaafkanmu. Tapi, kamu harus setuju untuk pergi berobat ke Singapur. Di sana, ada dokter kanker terbaik, Lena. Momy yakin jika penyakitmu bisa hilang dan kamu bisa sembuh, sayang."


Wajah Alena langsung terlihat sedih. Yah, inilah keadaan dirinya yang sebenarnya. Dalam tubuh ringkihnya ini ada penyakit ganas yang disebut dengan kanker. Penyakit yang muncul saat ia baru berusia lima tahun. Penyakit yang terus menggerogoti tubuhnya setiap harinya dan perlahan mengikis kehidupannya.


Jangan salah, tubuhnya sudah menerima segala macam pengobatan. Namun, penyakit kanker ini bukannya pergi malah menetap hingga hari ini. Tubuhnya sudah lelah dengan semua pengobatan yang begitu menyakitkan. Namun, kedua orang tuanya tidak pernah menyerah untuk membuat dirinya menjalani pengobatan yang sangat menyakitkan. Ia harus pura-pura tegar di depan orang tuanya. Namun, kenyataannya dia sangat sakit.


Penyakit yang merampas masa kecilnya. Sehingga, ia hanya bisa menghabiskan hidupnya di dalam rumah. Bahkan, untuk sekedar bermimpi Alena tida memiliki keberanian.

__ADS_1


Namun, penyakit ini masih memiliki hati dengan membiarkan dirinya menari ballet tanpa batas. Meski, terkadang penyakit ini menyerangnya di saat ia tengah menari. Akan tetapi setidaknya, ia bisa menekuni sesuatu yang membuat ia bahagia.


Tuan Surya melipat koran saat mendengar istri dan putrinya sedang membicarakan dokter kanker di Singapur. Dokter yang memang mereka siapkan untuk pengobatan selanjutnya untuk Alena.


"Mom, sampai kapan aku terus menjalani pengobatan ini? Penyakit ini tidak ingin pergi dari tubuhku. Aku lelah, Mom," tolak Alena dengan halus. Air mata Nyonya Giana kembali mengalir dengan deras.


"Lena, jika kamu tidak ingin berobat, bagaimana kamu bisa sembuh, sayang," sela Tuan Surya meraih tangan mungil sang putri.


"Lena, Momy dan Dady sangat menyayangimu. Momy ingin kamu bisa sembuh, nak," ucap Nyonya Giana menyakinkan Alena.


Alena terdiam sejenak. Ia menatap bergantian wajah Nyonya Giana dan juga Tuan Surya. Bisa ia lihat harapan besar terpancar pada kedua mata orang tuanya. Rasanya tidak tega mematahkan harapan itu.


Hanya untuk sekali lagi, aku akan menahan rasa sakit ini. Batin Alena dengan menganggukkan kepalanya.


"Baiklah, aku setuju."


Nyonya Giana dan Tuan Surya melempar pandangan satu sama lain dengan kebahagian yang membuncah.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


komen


gift

__ADS_1


vote


tips


__ADS_2