The Most Beautiful Love

The Most Beautiful Love
Tips menyatakan perasaan?


__ADS_3

...9...


Alena merebahkan bokongnya di sofa. Tubuhnya benar-benar terasa letih setelah selesai mengikuti les menari Ballet seperti biasa setiap hari kamis. Ia memijit pelan kakinya. Kaki yang selalu menopang berat tubuhnya saat meliuk-liuk indah mengikuti alunan melodi musik yang indah, yang mampu membuat dirinya merasa menjadi Alena sesungguhnya.


Dalam hidup Alena Ballet adalah dunianya. Di mana ia bisa melupakan segalanya dan menikmati setiap gerakan tarian tersebut yang membuat tubuhnya terasa ringan.


"Lena, kau sudah pulang sayang!" seru Nyonya Giana sembari mendekati sang putri yang terlihat kelelahan.


"Iya, Mom. Apa Dady sudah pulang?" balas Alena dengan pertanyaan.


"Sepertinya dia akan lembur, sayang." Nyonya Giana menyeka keringat yang menetes di wajah Alena dengan penuh perhatian. Di rumah ini, Alena diperlakukan seperti seorang tuan putri yang sangat berharga. Satu duri pun tidak diizinkan menusuk kulit Alena.


"Mom, malam ini ada acara party akhir semester di sekolah. Apa aku boleh ikut?" Alena meminta izin pada sang ibu. Ia sangat ingin mengikuti acara tersebut. Semua murid sejak kemarin terus membicarakan acara itu. Mereka mengatakan acara tersebut adalah acara yang paling meriah setiap akhir tahun.


Raut wajah Nyonya Giana terlihat sedikit tidak suka mendengar permintaan Alena.


"Tidak, kamu tidak boleh pergi Lena. Apalagi acara itu diadakan malam-malam. Momy tidak mengizinkan dirimu. Momy tidak mau sesuatu terjadi pada dirimu," tolak Nyonya Giana, lalu beranjak menuju sebuah meja nakas dan mengeluarkan beberapa kantung obat.


"Ayolah, Mom. Ini acara yang diadakan satu kali dalam setahun. Sangat disayangkan jika aku tidak mengikuti acara itu. Momy tahu, semua teman-temanku membicarakan acara party malam ini. Mereka mengatakan jika acara ini adalah acara yang paling seru. Aku sangat penasaran Mom," renggek Alena dengan menekuk wajahnya. Beginilah, saat ia ingin melakukan sesuatu, pasti kedua orang tuanya melarang dirinya. Mereka begitu posesif, menjaga setiap kegiatannya.


Nyonya Giana kembali duduk di samping Alena, lalu mulai membuka lima kantung obat yang diambilnya tadi.


"Jangan lupa kondisimu Lena, mengertilah jika Momy sangat khawatir dan tidak ingin kamu sampai kenapa-kenapa. Kau tahu, setiap saat Momy selalu dihantui rasa khawatir, memikirkan dirimu yang berada jauh dari jangkauan Momy dan Dady. Kau ingin bersekolah seperti remaja lainnya, Momy dan Dady menyetujui hal itu. Akan tetapi, tidak untuk hal ini," tolak Nyonya Giana dengan tegas. Lalu meletakkan lima butir obat di tangan Alena dan memberikan segelas air.


"Pokoknya kalau Momy tidak mengizinkan aku untuk ikut, aku tidak mau minum obat," ancam Alena dengan meletakkan kembali butiran obat tersebut di atas meja. Wajahnya memberengut kesal. Setidaknya, di hidupnya yang menoton ini, ia ingin melakukan beberapa hal yang membuat hidupnya sedikit berwarna. Ia sudah sangat lelah terkurung oleh sangkar yang dibuat oleh kedua orang tuanya.


Nyonya Giana menghela nafas panjang. Putrinya memang sangat keras kepala. Namun, jika sudah seperti ini, ia tidak bisa menolak keinginan Alena. Ia tidak ingin Alena drop jika tidak minum obat.


"Oke, Momy izinkan kamu pergi tapi cuma selama 30 menit. Kau akan pergi dengan supir kepercayaan Momy. Kau juga harus pulang tepat waktu, Lena."

__ADS_1


Alena tersenyum penuh bahagia. Akhirnya sang ibu memberikan izin untuk ia bisa ikut di acara party malam ini. Alena langsung memeluk Nyonya Giana dengan erat.


"Makasih, Mom. Momy memang yang terbaik. Aku janji akan pulang tepat waktu," ucap Alena dengan mantap.


"Sekarang minum obatmu. Ingat Lena, kau tidak seperti gadis remaja pada umumnya. Jadi, kamu harus mengerti batas kemampuan tubuhmu. Momy hanya ingin kamu baik-baik saja." Nyonya Giana mengelus lembut penuh kasih sayang puncak kepala Alena.


"Iya, Mom. Momy tidak perlu mengingatkan aku terus akan hal itu. Aku tahu, dan aku akan menjaga diri," balas Alena menyakinkan Nyonya Giana, jika kecemasan sang ibu tidak akan terjadi.


Alena segera meraih butiran obat tersebut kembali. Lalu meminumnya dengan cepat. Meski, tenggorokannya terasa sesak karena terus meminum obat setiap harinya. Akan tetapi, benda-benda kecil inilah yang menopang hidupnya sampai saat ini.


"Mom, Lena masuk ke kamar dulu ya. Lena mau istirahat capek," ucap Lena dengan mencium singkat pipi Nyonya Giana, yang langsung membuat wanita paruh baya itu tersenyum.


Alena berlalu pergi, menyusuri anak tangga yang menghubungkan ia dengan kamarnya. Nyonya Giana menatap punggung Alena dengan tatapan penuh kesedihan dan kepedihan.


"Tuhan, izinkan Alena bersamaku lebih lama lagi," lirih Nyonya Giana dengan buliran bening yang mengalir di pipinya. Setiap berada di dekat sang putri, ia harus menahan rasa sesak yang menusuk organ di dalam dadanya. Melihat wajah cantik dan polos Alena membuat ia tidak sanggup melepas sang putri.


...----------------...


Brak!


Tubuh Vans langsung terlonjak kaget, bahkan kini posisinya yang semula berada di kursi kini berganti posisi menjadi di atas meja.


"Ha ... Ha ..., kaget ya," ledek Vihan dengan tertawa sembari memengangi perutnya. Ini benar-benar sangat lucu baginya karena berhasil mengagetkan saudaranya yang selalu menjahili dirinya. Yah, itung-itung balas dendam.


Vans mendengus kesal dengan hidung yang kembang-kempis. Sangat merepotkan mempunyai kakak yang kelakuannya sudah seperti genderuwo.


"Vihan, hentikan. Keluar dari kamarku!" teriak Vans dengan marah.


"Oke, tenanglah anak manja. Aku memang sengaja melakukan hal itu," kekeh Vihan sembari menaikkan kedua tangannya sejajar dengan kepala. Seperti, penjahat yang sedang ditodongkan senjata oleh polisi.

__ADS_1


"Vihan, kita ini sudah dewasa. Jadi, jangan bersikap kekanak-kanakan lagi," sinis Vans, yang langsung membuat Vihan melebarkan matanya.


Ia tidak salah dengarkan dengan perkataan Vans barusan? Darimana adiknya itu bisa mengatakan hal sebijak itu?


"Tumben banget kamu bilang kayak gitu, ngak lagi sakitkan?" Vihan mengarahkan tangannya untuk menyentuh dahi sang adik. Namun, tangannya langsung ditepis oleh Vans.


"Aku bilang kayak gitu karena itu memang benar," balas Vans dengan kaku.


Vihan menatap lekat gerak-gerik Vans yang baginya sedikit aneh. Otak kecilnya sedang berpikir apa yang terjadi pada Vans? Vihan terus mengamati Vans mulai dari kaki hingga ujung kepala.


Sorot mata Vihan jatuh pada ponsel sang adik yang masih menyala. Keningnya berkerut saat melihat beberapa tulisan pada beranda Internet tersebut. Saking penasarannya, Vihan langsung meraih ponsel Vans yang langsung membuat Vans terbelalak kaget.


Ohh tidak, Vihan melihat apa yang aku cari di internet. Batin Vans dengan wajah yang berubah pias dan tubuh yang sedikit gemetar.


"Tips menyatakan cinta pada seorang gadis," ujar Vihan membaca hasil pencarian di ponsel Vans dengan wajah tidak percaya.


...----------------...


...****************...


Jangan lupa


like


koment


vote


gift

__ADS_1


tips


__ADS_2